Jumat, 23 Januari 2015


https://jawatimuran.files.wordpress.com/2012/02/baruklinting001.jpg?w=130&h=147
Alkisah AJI SAKAdi jaman dahulu kala, di Pulau Majeti ada seorang pertapa bernama Sang Aji Saka, dengan didampingi empat orang sahabatnya yaitu bernama: Dugo, Dora, Prayoga, Sembada. Terdorong oleh keinginan yang membara Sang Aji Saka ingin pergi ke pulauAngejawi (Jawa) dengan diikuti tiga sahabatnya Dugo, Prayoga dan Dora. Sedangkan Sembada ditugaskan di pertapaan menunggu keris pusaka Sang Aji Saka.
Pesan Sang Aji Saka kepada Sembada: sepergi saya ke pulau Jawa, siapapun orangnya tidak boleh mengambil keris pusaka, kecuali Sang Aji Saka sendiri. Dan Sembada teguh memegang pesan dan janji sebagaimana yang diamanatkan oleh Sang Aji Saka. Perjalanan Sang Aji Saka sampai di Pulau Jawa. Pada waktu itu keadaan di pulau Jawa sedang terjadi malapetaka dan huru-hara, karma adanya seorang raja dari negara Medang Kamolan yang berjejuluk Prabu Dewata Cengkar, yang tak henti-hentinya memakan daging manusia laki-laki.
Sehingga kehidupan masyarakat di pulau Jawa semakin gonjang-ganjing, dan masyarakatnya banyak yang mengungsi ke hutan-hutan dan gunung-gunung untuk menyelamatkan jiwa raganya.
Konon perjalanan Sang Aji Saka sampai di Pulau Jawa dan sudah berada di Kerajaan Medang Kamolan dan menginap di rumah seorang janda yang terkenal.
Kala itu Prabu Dewata Cengkar dengan seluruh punggawanya sampai di rumah janda cantik. Dan langsung rumah janda itu didobraknya. Perasaan janda sangat takut bukan kepalang, jangan-jangan sudah tahu kalau Sang Aji Saka menginap di rumahnya akan dimakannya. Kala itu Sang Aji Saka, maju perlahan-lahan dengan tenangnya menemui Prabu Dewata Cengkar dan menyambutnya dengan salam kehormatan. Seketika itu pula Prabu Dewata Cengkar dengan suara gemuruh menyuruhnya Sang Aji Saka untuk pulang ke Pulau Majeti, bila tidak mau pulang akan dimakan hari ini juga. Ternyata Sang Aji Saka tidak mau pulang dan siap menerima untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.
Dengan muram Prabu Dewata Cengkar melihat Aji Saka langsung pulang ke Istana Negara Medang Kamolan, dan para prajurit serta hulubalang segera menangkap Aji Saka untuk dibawa ke Medang Kamolan untuk diproses kematiannya. Sebelum Aji Saka dimakannya, terlebih dahulu diberinya kesempatan, Aji Saka untuk  menyampaikan sesuatu, karena Prabu Dewata Cengkar masih menghormati bahwa Aji Saka adalah seorang pertapa. Sang Aji Saka hanya meminta secuil tanah seluas destar (udeng) yang dipakai Aji Saka.
Jawab Sang Prabu dengan kerasnya: “Untuk apa secuil tanah tersebut?”. Jawab Aji Saka: “Akan dibuatnya lobang, yang nantinya untuk menimbun tulang-tulang yang tersisa” . Permintaan Aji Saka, tanah yang seluas destar itu harus berada di halaman alun-alun kerajaan yang berdekatan dengan pesisir lautan.
Keesokan harinya sekitar pukul 06.00 diadakan upacara kehormatan atas terkabulnya permintaan Aji Saka. Kala itu Aji Saka melepas destarnya dan diletakkan di halaman alun-alun, sedangkan Prabu Dewata Cengkar tidak boleh menyentuh destar tersebut. Aneh dan ajaibnya setelah destar diletakkan di alun-alun, destar tersebut semakin meluas dan melebar dan semakin berkembang. Apa yang hendak dikata, melebar dan meluasnya ‘Destar/Udengnya Sang Aji Saka’, Prabu Dewata Cengkar semakin terdesak oleh destar tersebut, sehingga seluruh tubuh Prabu Dewata Cengkar tercebur ke dalam samudra selatan atau Segara Kidul. Eloknya keadaan tubuh sang prabu dewata cengkar berubah menjadi “Seekor Buaya Putih”,  orang jawa menyebut “Bajul Putih”, dan menyatu dengan buaya-buaya putih yang jumlahnya ribuan. Dan Buaya Putih Prabu Dewata Cengkar diangkat menjadi rajanya.
Dulu menjadi raja manusia, sekarang menjadi raja buaya, kala itu Sang Aji Saka hanya termenung melihat kejadian alam di dalam samudra kidul. Sewaktu Sang Aji Saka berjalan-jalan dipinggir pantai segara kidul di sebelah alun-alun Kerajaan Medang Kamolan, tanpa ada tanda-tanda, menyeranglah Bajul Putih dengan dahsyatnya dan terjadilah peperangan hebat dengan Aji Saka.
Bajul Putih merasa tidak dapat mengimbangi kekuatan sang Aji Saka, segera seluruh bajul putih yang ribuan jumlahnya untuk mengeroyok Sang Saka. Seluruh buaya dapat dikalahkan dengan sekejap, yang masih hidup karena ketakutan banyak yang masuk ke dalam samudra kembali. Buaya-buaya putih yang sudah berbangkai ditumpuk sepanjang pantai dan diberinya nama Gunung Kapur Selatan. Kemenangan Sang Aji Saka menjadi kebanggaan seluruh rakyat Medang Kamolan, rakyat yang dulu takut dan sedih kini menjadi gembira dan merasa aman. Rakyat yang berlindung di hutan-hutan dan di gunung-gunung kini pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan sanak keluarganya. Dan Sang Aji Saka dinobatkan menjadi raja di Negara Medang Kamolan.
Gelar yang diberikan adalah “SANG MAHA PRABU AJI SAKA” Prabu Aji Saka memerintah dengan arif bijaksana, hambeg para amarta, dilengkapi dengan sabda pandita raja dan teguh memegang pusaraning keadilan. Damailah rakyat Medang Kamolan. Tepat pada hari Respati manis Sang Prabu Aji Saka menggelar Pasewakan agung yang dihadiri lengkap para menteri bupati dan brahmana serta senapati perang kerajaan Medang Kamolan. Tak ketinggalan pula sahabat kinasihnya yaitu Duga, Prayoga, dan Dora. Setelah memberikan ajaran-ajaran dan petunjuk kesegenap yang hadir di Pasewakan, Sang Prabu Aji Saka memerintahkan kepada Dora untuk berangkat ke Majeti untuk mengambil keris pusaka di pertapaan untuk dibawa pulang ke Medang Kamolan sebagai pusaka kerajaan. Tanpa meniawab sepatahpun, Dora mohon pamit dan langsung berangkat ke Majeti untuk menemui sahabatnya Sembada.
Sesampainya di pulau Majeti, Dora bertemu dengan Sembada yang sudah sudah lama berpisah dan kala itu juga saling melepas rasa kerinduannya.  Selanjutnya Dora menyampaikan seluruh pesan Sang Prabu Aji Saka tanpa ada yang tertinggal, terutama tentang tugasnya untuk mengambil keris di pertapaan. Sembada merasa kaget mendengar keris akan diambil oleh Dora karena sepengetahuannya Sang Aji Saka sendirilah yang akan  mengambil keris tersebut. Maka bersikukuhlah Sembada tidak akan memberikan keris kepada Dora. Terjadilah pertengkaran mulut diantara keduanya dan berlanjut pada pertempuran fisik. Akhirnya mereka berdua mati bersama dalam pertempuran sengit tersebut. Kematian ini oleh orang jawa disebut sebagai “‘mati sampyuh “.
Suasana alam perti berkabung, matahari tidak mengeluarkan sinar dibarengi dengan hujan gerimis kecil putih-putih. Kala itu juga Sang Aji Saka keluar dari istana, menatap langit, samodra kidul dan memanggil para brahmana untuk bersantiaji Keprabon. Di malam harinya Sang Prabu Aji Saka mendapat ilham Ha, Na, Ca, Ra, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Va, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha, Nga, Sampai sekarang di jaman modern seperti sekarang ini, kita orang Jawa harus selalu berfilsafat dengan ajaran: Ha, Na, Ca, Ra, Ka, dst … yang berarti, apakah yang kita ketahui tentang Ha,Na,Ca … dst sebagai konsep atau idea ajaran kearifan orang jawa yang bersumber dari karya susastra jawa yang berlandaskan dengan keluhuran Cipta, Rasa, Karsa, Budi, Karya yang menjelma kedalam konsep pakarti berketahanan “Budaya Bangsa”. Sehingga orang suku Jawa yang rnenyebar di seluruh pelosok tanah air jangan sampai meninggalkan warisan leluhurnya.
Setelah sang prabu membeberkan tentang ilham tersebut ke seluruh yang hadir di pasewakan, sang maha prabu mengajak seluruh punggawa kerajaan untuk berinkognito (turba) atau turun ke desa-desa. Dengan warna baru sang prabu melihat kerajaan Mendang Kamolan yang ternyata keadaan negaranya “panjang punjung, pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, karta tata tur raharja”. Matahari terus bergulir menuju kodrati-Nya hari semakin sore, setelah istirahat sejenak, di kala itu segera Sang Prabu Aji Saka memerintahkan ke segenap yang ada di situasi itu untuk membuat tenda-tenda alami (bivoac) yang terbuat dari daun-daun, dan dari kayu yang alami untuk beristirahat untuk persiapan tenaga di esok harinya. Saat para hulubalang beristirahat total, di sore harinya Sang Prabu Aji Saka berkelana seorang diri sambil menikmati udara sore menatap cakrawala yang terselubung mendung tipis serta ditutupi kabut gerimis seperti salju semakin meresap ke sumsum tulang.
Sambil menikmati keindahan alam di Negara Medang Kamolan sampailah posisi Sang Prabu Aji Saka di desa yang paling terpencil hampir berdekatan di pinggir hutan, sayup-sayup terdengar lantunan lesung yang jumengglung yang kadang kala diiringi bertenggernya ayam jantan. Hati Sang Prabu semakin penasaran ingin mencari dimana tempat suara itu berada. Ternyata dilihatnya bahwa lesung itu ternyata seorang wanita cantik sedang menumbuk padi di gubuk belakang rumahnya, yang didampingi seekor ayam jantan. Sang Prabu Aji Saka semakin mendekat dan diintainya wanita penumbuk padi itu dari sela-sela lobang dinding bambu yang sudah setengah reot itu.
Dengan asyiknya wanita cantik itu menumbuk padi dan secara diam-diam Sang Prabhu Aji Saka melihat dan mengamati dari dekat wanita tersebut dan ternyata wanita ini memiliki kecantikan yang luar biasa  bagaikan dewi dari kahyangan. Begitu sang Prabhu Aji Saka melihat kecantikan wanita ini, maka munculah perasaan cinta yang tidak bisa tertahankan, dan pada akhirnya secara tidak sengaja Sang Prabhu Aji Saka mengeluarkan cairan dari tubuhnya yang membasahi tanah setempat.
Sang Prabu Aji Saka perlahan-lahan beranjak dari tempatnya berada, sambil melangkah dengan perasaan berat untuk meninggalkan tempat itu, kemudian sang prabu memberi kode aji saka yang digoreskan pada dinding bambu. Dan meninggalkan tempat tersebut, sebagai kenangan tempat wanita cantik yang menumbuk padi.
Sepeninggal Sang Aji Saka dari tempat itu, wanita cantik penumbuk padi tidak mengetahui kejadian di lingkungan lesung tersebut, kecuali si ayam jagonya yang menggodanya, maka dipukullah ayam jago itu dengan tangkai padi oleh sang prabu, sambil melompat setengah terbang si ayam jago bersuara keeoooook, jatuh tepat di tempat Sang Prabhu Aji Saka sewaktu mengintip wanita cantik penumbuk padi. Anehnya si ayam jago melihat sebutir putih seperti  beras itu lalu dipatuknya kemudian ditelannya dan kembali lagi ke lesung.
Dan disaat yang bersamaan wanita cantik ini berkemas-kemas akan meninggalkan tempatnya menumbuk padi. Sang putri masuk ke rumahnya dan langsung menuju ke pedharingan/genthong tempat menyimpan beras, setelah selesai pergilah sang putri ke sumur untuk mandi, dan kala itu bersamaan si ayam jago masuk ke dalam kandang, memang waktu itu hari sudah masuk ke saat senja menjelang malam.
Matahari sudah masuk ke cakrawala dan malam telah mengganti suasana waktu. Dengan bergesernya waktu, kala semakin malam sang putri mulai tidur, namun tidak dapat memejamkan mata (tidur-tidur ayam) entah apa yang terjadi sepertinya ada sesuatu yang tidak dapat diterjemahkan. Semakin gaduh perasaan sang putri terdengarlah bertenggernya si ayam jago yang melengkapi semakin risaunya emosi sang putri. Si ayam jago semakin berulang-ulang bertengger dan terdengarlah bertenggernya si ayam jago dengan suara ngungkung lenturan panjang sepertinya dengan disertai seluruh tenaganya.
Dengan perasaan semakin gusar bangunlah sang putri dari tempat  tidurnya dan keluar mengambil segenggam daun kelapa kering dan disulutnya ujung daun kelapa itu. Perlahan sang putri menuju kandang ayam jagonya, ternyata si jago tidak lagi berada pada tempat pagakan/pangkringannya tetapi berada di tanah dengan keadaan “Ndekem”. Terkejut hati sang putri lalu di ambilnya si ayam jago dan diletakkan di pagakan tempat tidurnya. Anehnya selesainya sang putri meletakkan kembali si jago ke pagakan, ternyata tempatndekemnya si ayam jago tadi ada sebutir telur putih besar lonjong sebesar telur angsa.
Dengan hati senang campur iba, aneh tapi nyata. Unik dan menarik dibawanva telur pulang dan dimasukkan ke dalam genthong tempat menyimpan beras. Tujuh hari kemudian, saat sang putri mengambil beras untuk ditanak, tangan sang putri menyentuh sesuatu dan sang putri tanpa rasa takut sama sekali, malah dibelai dengan mesranya. Dengan perasaan iba sang putri melihatnya, ternyata seekor ular sowo kembang yang berbau wangi, dengan rasa cinta diambilnya ular itu di pinang dan dibawa ke tempat tidurnya. Sang putripun tidak jadi untuk menanak nasi, seolah sudah merasa kenyang. Di manja, dipeluk, dan diciumnya, si sowo kembang dengan tak henti-hentinya seolah seperti sang bayi yang baru lahir dari kandungan sang putri.
Di pagi hari si sowo kembang, ingin keluar untuk melihat suasana dan diikuti oleh sang putri sebagai pengganti ibunya. Sampailah sowo kembang di tempat  lesung dan bermain-main seolah-olah ada sesuatu bagi dirinya. Kala itu sowo kembang tidak mau pindah dari dinding reot, dan di tempat itulah si sowo kembang dapat berbicara layaknya manusia, dan bertanyalah si sowo kembang kepada sang putri. Semula mau melontarkan pertanyaan ini agak termangu-mangu, tetapi terdorong rasa yang kuat akhirnya terlontarlah sebuah pertanyaan dengan nada yang datar, “Sang putri, siapakah sebenarnya ayahku ini?”. Dengan menoleh ke dinding reot itu sang putri menjawab, wahai ular sawo kembang yang perkasa, ayahmu adalah seorang pertapa agung, di gunung urung-urung yang bernama AJI SAKA, yang sebenarnya petapa dan juga adalah seorang raja. Dengan tanpa dipikir panjang si sowo kembang langsung mohon doa restu untuk menuju ke gunung urung-urung seketika di lingkungan pertapaan berbau wangi, dan terkejut hati sang Aji Saka.
Dengan tanpa menunggu waktu lama datanglah si sowo kembang menghadap sang maha muni, dengan menghaturkan sembah sungkem, bersamaan itu pula keluarlah suara bernada geram Sang Aji Saka, “Siapakah kamu ini?”. Jawab Sowo Kembang: “Saya diperintah oleh ibu penumbuk padi untuk datang kesini, sebab sang pertapa adalah ayahku”.  Mendengar putri penumbuk padi terkejutlah sang Aji Saka dan teringat terhadap peristiwa lamanya. Jadi kedatanganmu kesini sebenarnya mau apa? Kedatangan saya kesini adalah:
1.       Dengan hormat, Sang Pertapa untuk memberiku sebuah nama, agar aku senang dengan nama itu.
2.      Sang Pertapa berkenan untuk mengakui bahwa hamba adalah keturunan dari sang maha muni.
Sang Aji Saka memegang leher sowo kembang dan dikalungkannya sebuah klinthing dan diberilah nama “NAGA BARU KLINTHING”, dan bersabdalah sang wiku “asma kinarya japa”. Dan si Naga Baru Klinthing akan diakui sebagai anak apabila tubuhnya dapat melingkari gunung urung-urung ini dengan tuntas, artinya kepala dan ekornya dapat bertemu menjadi satu (jawa: tepung gelang). Dengan bangga berangkatlah Naga Baru Klinthing setelah mohon doa restu untuk melingkari gunung urung-urung tersebut. Dengan penuh perjuangan untuk melingkari gunung urung-urung ternyata setelah di depan Sang Aji Saka bertapa ternyata Naga Baru Klinthing tidak dapat mempertemukan antara ekor dan kepalanya. Dengan cerdiknya Naga Baru Klinthing menjulurkan lidahnya dan ternyata dapat berhasil. tapi apa yang terjadi. begitu Sang Aji Saka melihatnya, seketika diambilnya keris yang ampuh langsung dipenggalah lidah si Naga Baru Klinthing dan putus seketika.
Potongan lidah Naga Baru Klinthing melesat ke angkasa dan suara alam mengiringi dengan tanda gaib yang mengerikan. Naga Baru Klinthing setelah terpenggal lidahnya, tubuhnya bergerak di dalam tanah di sekitar gunung urung-urung yang akhirnya tanah menjadi gundhukan (bukit kecil) dan langsung di malam itu diiringi oleh suara halilintar serta kilat thathit yang mengerikan, bersamaan suara guruh di angkasa yang mencekam, dari jauh suara gelombang tsunami samudra yang seolah menggulung jagad. Sirepnya suara alam yang mengerikan tadi, hadirlah “MANUSIA BAJANG” , (jawa bocah bajang, bocah kerdil) akan berkelana di sekitar desa.
Konon masyarakat desa tersebut akan merayakan hari bersih dusun, dan beramai-ramailah masyarakat dusun untuk membersihkan halaman rumah dan lorong-lorong jalan, serta lingkungan gundhukan tanah yang dekat dengan jalan itupun diratakan agar tidak menutupi jalan. Saat seorang pekerja yang menebang kayu di sekitar gunung urung-urung, memecok akar kayu keluarlah darah yang memancar, dan terkejutlah orang-orang di dekatnya. Kala itu membuat penasaran seluruh orang-orang yang bekerja gotong royong tersebut. Dan dibongkarlah seluruh gundhukan tanah yang melingkar, ternyata daging binatang besar.
Tidak berpikir panjang di potong-potonglah daging tersebut untuk dibawa ke rumah masing-masing persiapan untuk pesta di hari bersih dusun. Masyarakat sangat senang hatinya karena diacara bersih dusun kali ini, lauk pauknya dengan serentak menggunakan daging. Di saat masyarakat memasak daging didatangi oleh manusia bajang, dari rumah ke rumah, yang dengan sengaja meminta makan lengkap dengan lauk pauknya. Ternyata tidak satu keluargapun yang mau memberi makan kepada si bocah bajang tersebut, bahkan diusirnya. Berjalan dengan tenanglah bocah bajang dari rumah ke rumah, dan sampailah ke rumah yang berada di sudut desa terpencil tepatnya di pinggir desa di sela-sela hutan kecil dan rawa-rawa. Dialah si janda tua renta, dalam gubuk kecil yang rajin dan bersih dipagari dengan bunga-bunga indah juga terhiasi oleh kukusnya dupa sesaji. Janda tua sedang memasak daging yang nantinya akan dibawa untuk bersih dusun, datanglah bocah bajang meminta makan lengkap dengan lauk pauknya.
Dengan lahapnya nasi dihabiskan, tak sepotong dagingpun ada yang dimakannya, dan ditinggalkan di dalam piring sambil berpesan, bersiap-siaplah sang nenek dengan enthong yang bertangkai panjang serta lesung yang nanti akan besar manfaatnya. Bersama kata akhir itu menghilanglah si bocah bajang tersebut. Si nenek tua merenung sebentar, sebenarnya si nenek adalah wanita ahli bersemedi, langsung mohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberinya perlindungan. Di waktu itu malam sudah berlalu, di pagi harinya seluruh masyarakat mulai berkumpul di balai dusun untuk melaksanakan upacara bersih dusun, lengkap dengan sesaji, makanan serta pauk pauknya.
Dikala ujub kenduri sedang berlangsung, datanglah si bocah bajang dengan suara lantang “Hentikan dulu ujub kenduri ini”, sebab akan diberinya sebuah sayembara untuk memeriahkan acara bersih dusun tersebut. Sayembaranya adalah: “barang siapa yang dapat mencabut lidi yang saya tancapkan di halaman balai dusun ini, saya bersedia untuk dipotong-potong badannya, tetapi bila tidak dapat mencabutnya seluruh masakan daging ini akan saya rampas semua tanpa terkecuali”.
Masyarakat yang sedang melaksanakan kenduri bersih dusun menjadi berang dan marah mendengar sayembara si bocah bajang tersebut. Keluarlah seluruh masyarakat yang sedang berpesta pora ke halaman balai dusun, dan melingkari si bocah bajang berusaha untuk mencabut lidi yang ditancapkannya. Setelah satu persatu mencabut, tak ada yang berhasil juga. Akhirnya berkelompoklah masyarakat untuk mencabut lidi yang tertancab. namun hasilnya pun sia-sia. Dengan serentak masyarakat menyuruhnya si bocah bajang untuk segera mencabut lidi yang tertancap. Perasaan haru bercampur gundah, dengan tangan kirinya lidi itu dipegangnya. Wajah menatap ke langit, sambil mengucap doa pelan-pelan lidi itu dicabutnya. Tercabutlah lidi itu, dan seketika keluarlah sumber air yang jernih mengalir kearah barat. Seluruh masyarakat menjadi malu hati, karena melihat berhasilnya si bocah bajang mencabut lidi itu. Akhirnya dikeroyoklah bocah bajang, dan larilah perlahan meninggalkan halaman balai dusun. Semakin dikeroyok semakin banjir pula sumber air tersebut. Dengan banjirnya air dari sumber mata air yang ajaib ini, seolah “BANJIR BANDANG, DAN BANYAK MANUSIA YANG TENGGELAM”, menjadi korban, yang masih hidup berteriak minta tolong. Kala itu pula si bocah bajang menghilang dari permukaan, dan akan rnenyatu dengan lidah Naga Baru Klinthing yang melesat ke angkasa, bersama itu pula hilangnya lauk pauk entah kemana. Hanya janda tua yang tempo hari memberi makan kepada si bocah bajang yang selamat karena menuruti pesannya untuk naik lesung dengan berdayung enthong sambil menanti surutnya air bah.

Ternyata setelah air banjir surut lesung berhenti di sebelah sumber mata air, dan si nenek tua menamakan sumber mata air tersebut “SUMBER BARU KLINTHING” dan terkenal sampai sekarang legendanya di Dusun Bunut, Desa Bringin, Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, PropinsiJawa Timur.

BARATA YUDHA PANDAWA VS K O R A W A

Persahabatan Tulus 2 Raja yang tidak pernah saling bertemu..

https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/pukkusati2bdan2bkerajaannya.jpg?w=300
Kisah berikut ini adalah kisah tentang persahabatan 2 Raja yang tidak pernah saling mengenal muka, yaitu:
Raja Pukkusàti/Pushracarin, penguasa Negeri Gandhara, dengan ibu kotanya Takkasilà [sekarang di Pakistan, 35 km, barat laut Rawalpindi dan Raja Bimbisàra, Penguasa negeri Maghada [wilayah tengah – Majjhima Desa], ibukotanya Ràjagaha
Suatu hari di 25 tahun sebelum Buddha wafat, datanglah para pedagang dari Takkasilà ke Ràjagaha untuk berdagang. Sebelum memulai berdagang, mereka, datang menghadap Raja Bimbisàra dengan mambawa hadiah, memersembahkannya dan memberi hormat pada beliau. Dalam ramah tamahm setelah menanyakan asal usul mereka, situasi politik, kesejahteraan, dan keadaan kota mereka, nama raja mereka. Raja kemudian bertanya,”apakah raja Pukkusati melaksanakan sepuluh kewajiban raja [Dermawan, bermoral, siap berkorban, jujur dan tulus, bajik, sederhana, tidak membenci, tanpa kekerasan, sabar dan menghormati rakyat].
Mereka menjawab, “Tuanku, raja kami memenuhi sepuluh kewajiban. Ia memajukan kesejahteraan rakyat melalui hal-hal pendukung (saïgaha-Dhamma) seperti:
1.     Sassa-medha: kebijaksanaan berhubungan dengan agricultur. Mengumpulkan pajak tanah hanya sebesar 10% dari hasil panen.
1.     Purisa-medha: kebijakan pemilihan petugas dan pasukan. Hadiah diberikan setiap setengah tahun. [Penempatan orang yg tepat [tulus dan mampu], diposisi yg tepat, dan waktu yg tepat termasuk sosial benefit yg pantas]
1.     Sammàpàsa: mengambil hati rakyat miskin. Memberikan pinjaman uang, seribu atau dua ribu tanpa dikenakan bunga selama tiga tahun.
1.     Vàcapeyya: kata-kata yang penuh kasih sayang. Menggunakan kata-kata seperti ‘anak muda’, ‘paman’, dan sebagainya dalam berbicara dengan orang-orang sesuai umur mereka.Ia bersikap seperti ayah bagi rakyat dan membahagiakan rakyatnya bagaikan orangtua yang menimang anaknya di pangkuannya.”
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/raja2bbimbisara2bdan2bpedagang2btaxila.jpg?w=300
Raja Bimbisàra, “Berapa umur raja kalian?” Para pedagang itu menjawab 50 tahun”. Ternyata kedua raja itu kebetulan berumur sama.
Kemudian raja berkata, “Teman-teman, raja kalian adalah orang yang baik, ia sebaya denganku. Dapatkah kalian mengusahakan agar raja kalian menjadi temanku?”
Ketika mereka memberikan jawaban positif, Raja Bimbisàra membebaskan para pedagang itu dari kewajiban pajak, menyediakan tempat tinggal serta makanan bagi mereka dan mengakhiri percakapan dengan meminta mereka untuk menghadapnya kembali sebelum mereka meninggalkan kota itu.
Sesuai instruksi raja, para pedagang itu menghadap Raja Bimbisàra pada malam sebelum keberangkatan mereka. Raja berkata, “Teman-teman, semoga perjalanan pulang kalian menyenangkan. Tanyakan kepada raja kalian mewakiliku mengenai kesehatannya dan katakan kepadanya bahwa aku ingin bersahabat dengannya.”
“Baiklah,” jawab para pedagang itu.
Sesampainya di Takkasilà, setelah menyimpan barang-barang mereka, dan setelah makan pagi, mereka menjumpai raja mereka.
Raja bertanya, “Ke mana saja kalian?, aku tidak melihat kalian beberapa hari ini.”
Para pedagang itu melaporkan semuanya kepada raja mereka. Kemudian raja dengan gembira berkata, “Baik sekali! Karena kalian aku memiliki seorang sahabat dan sekutu di Wilayah Tengah.”
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/pukkusati2bmembebaskan2bpedagang.jpg?w=300
Beberapa waktu kemudian, Datanglah para pedagang Ràjagaha ke Takkasilà untuk berdagang. Mereka menghadap Raja Pukkusàti dengan membawa hadiah. Ketika raja mengetahui bahwa mereka datang dari Ràjagaha, kota kerajaan temannya, ia berkata, “Kalian adalah tamu dari Ràjagaha, kota kerajaan teman dan sekutuku, Raja Bimbisàra,”
Para pedagang itu membenarkan.
Selanjutnya raja menanyakan tentang kesehatan temannya dan membuat pengumuman diiringi tabuhan genderang, “Sejak hari ini, semua pedagang yang datang dari kerajaan temanku Raja Bimbisàra, baik yang berjalan kaki maupun yang mengendarai kereta akan disediakan tempat tinggal dan makanan dari lumbung istana. Mereka akan dibebaskan dari pajak. Tidak ada yang boleh mengganggu mereka.”
Raja Bimbisàra juga melakukan hal yang sama di kotanya.
Dua Raja Itu Saling Bertukar Pesan
Kemudian Raja Bimbisàra mengirim pesan kepada Raja Pukkusàti yang berisi,
“Teman, batu mulia seperti batu delima, mutiara, dan lain-lain, biasanya dihasilkan oleh negeri-negeri perbatasan. Jika engkau menemukan batu-batu mulia berharga yang menarik, mohon beritahukan kepadaku.”
Raja Pukkusàti sebaliknya mengirim pesan belasan yang berisi, “Teman, Wilayah Tengah adalah wilayah yang kaya. Jika muncul batu mulia berharga dari jenis yang lain, mohon beritahukan kepadaku.”
Selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun, kedua raja itu menjalin persahabatan tanpa pernah bertemu muka.
Hadiah Raja Pukkusàti
Dalam masa kedua raja itu sepakat untuk saling berbagi berita mengenai harta terpendam mereka, suatu benda yang layak untuk dijadikan hadiah pertama kali muncul dari pihak Raja Pukkusàti. Raja itu mendapatkan delapan helai kain lima warna yang tidak ternilai. “Kain-kain ini berkualitas tinggi,”
pikir raja itu, “Aku akan mengirimkannya sebagai hadiah kepada temanku Raja Bimbisàra.”
Kemudian ia membuat delapan peti dari kayu cendana yang dihaluskan. Dalam masing-masing peti ia memasukkan sehelai kain dan dengan menggunakan getah pohon karet, ia membentuk peti-peti itu menjadi berbentuk bola. Masing-masing bola dibungkus dengan kain putih dan dimasukkan ke dalam kotak yang dibungkus lagi dengan kain lainnya dan disegel. “Serahkan ini kepada temanku Raja Bimbisàra,”
Raja menyuruh para menterinya untuk mengirimkan kotak-kotak itu kepada temannya. Ia juga melampirkan sepucuk surat yang mengatakan, “Aku ingin agar temanku membuka kotak ini dan melihat hadiah ini bersama para menteri dan pejabat di tengah-tengah kota”
Para menteri itu pergi ke Ràjagaha dan menyampaikan hadiah itu. Membaca pesan itu, Raja Bimbisàra memerintahkan agar semua menteri dan pejabatnya berkumpul. Di tengah-tengah kota, raja duduk di atas singgasana permata di bawah payung putih kerajaan. Kemudian ia membuka kain penutup dan membuka kotak itu. Ketika ia membuka paket itu dan melihat bola getah karet itu, ia berpikir, “Oh, temanku Raja Pukkusàti mengirim dadu karet ini sebagai hadiah, ia pasti telah keliru menganggapku sebagai seorang penjudi, seorang pemain dadu.”
Dengan pikiran demikian, ia mengambil bola itu, menggelindingkannya di telapak tangannya, menebak beratnya dan mengetahui bahwa bola itu berisi gumpalan kain tipis.
Ketika raja melemparkan bola itu ke kaki singgasana, karet itu terlepas (dari lapisan-lapisannya). Ia membuka peti harum itu dengan kuku jari tangannya dan melihat kain berharga itu, ia segera memerintahkan agar tujuh peti lainnya dibuka juga. Mereka melihat dengan mata mereka sendiri bahwa semuanya berisikan kain yang tidak ternilai itu. Ketika kain itu dibentangkan dan diukur, mereka melihat warna-warni dan sentuhan yang indah, masing-masing berukuran panjang enam belas lengan dan lebar delapan lengan. Menyaksikan harta yang tidak ternilai itu, orang-orang bertepuk tangan dan melemparkan penutup kepala mereka.
Mereka bergembira dan berkata, “Raja kita dan temannya Raja Pukkusàti belum pernah bertemu, namun raja itu mengirimkan hadiah yang tidak ternilai. Sangatlah tepat berteman dengan raja seperti itu.”
Raja Bimbisàra menaksir nilai dari tiap-tiap helai kain itu dan mengetahui bahwa semuanya bernilai sangat tinggi. Ia mempersembahkan empat helai kepada Buddha dan menyimpan empat sisanya di dalam istananya.
Hadiah Balasan dari Raja Bimbisàra
Kemudian Raja Bimbisàra berpikir, “Sebuah hadiah balasan harus melebihi hadiah yang diterima. Temanku Raja Pukkusàti telah mengirimkan hadiah yang tidak ternilai kepadaku. Hadiah apakah yang harus kukirimkan kepadanya sebagai balasan?”
Oleh karena itu, dalam memilih benda berharga sebagai hadiah balasan, raja mempertimbangkan sebagai berikut:
“Di dunia ini, permata (ratana) ada dua jenis, yang hidup (saviññàaka) dan yang mati (aviññàaka). Dari kedua jenis ini, benda mati seperti emas, perak atau benda-benda berharga lainnya hanya berfungsi sebagai hiasan bagi yang hidup. Oleh karena itu, permata hidup adalah lebih berharga.”
“Permata hidup juga ada dua jenis, manusia dan binatang. Binatang seperti gajah, kuda atau binatang lainnya bertugas untuk bekerja membantu manusia. Oleh karena itu permata manusia adalah lebih berharga.”
“Permata manusia juga ada dua jenis, laki-laki dan perempuan. Perempuan, bahkan jika ia adalah permaisuri seorang raja dunia, ia hanyalah bertugas melayani laki-laki. Oleh karena itu, permata laki-laki adalah lebih berharga.”
“Permata laki-laki juga ada dua jenis, perumah tangga (àgàriya) yang mencari nafkah untuk keluarganya dan petapa (anàgàriya) yang tidak mencari nafkah untuk keluarganya. Perumah tangga, meskipun ia adalah raja dunia, yang teragung dari kelompok perumah tangga, harus memberi hormat kepada seorang sàmaera yang baru ditahbiskan sehari. Oleh karena itu permata petapa adalah lebih berharga.”
“Permata petapa juga ada dua jenis, mereka yang masih dalam tahap belajar (sekkha), orang awam atau orang yang telah mencapai pencapaian yang rendah; dan seorang Yang Tak Kembali lagi (asekha), seorang Arahanta. Bahkan seratus ribu orang yang masih dalam tahap belajar, mereka tidak sebanding dengan seorang Yang Tak Kembali lagi, seorang Arahanta, dalam hal kesucian. Oleh karena itu, mereka Yang Tak Kembali lagi adalah lebih berharga.”
“Permata Yang Tak Kembali juga ada dua jenis, Buddha dan para siswa-Nya. Bahkan seratus ribu siswa tidak sebanding dengan seorang Buddha dalam hal kesucian. Oleh karena itu, permata Buddha adalah lebih berharga.”
“Permata Buddha juga ada dua jenis, Buddha kecil (Pacceka Buddha) dan Buddha Yang Mahatahu (Sabbaññū Buddha) atau Yang Mencapai Pencerahan Sempurna (Sammàsambuddha). Bahkan seratus ribu Pacceka Buddha tidak sebanding dengan seorang Sammàsambuddha. Oleh karena itu Buddha Yang Mahatahu adalah lebih berharga.”
“Sesungguhnya, di dunia makhluk-makhluk hidup ini beserta alam dewa dan brahmà, tidak ada permata yang dapat menandingi Buddha Yang Mahatahu. Oleh karena itu, aku akan mengirimkan permata istimewa ini kepada temanku Raja Pukkusàti.”
Dengan pikiran demikian, Raja Bimbisàra bertanya kepada para menteri dari Takkasilà apakah mereka pernah melihat Tiga Permata, Buddha, Dhamma, dan Sagha di negeri mereka. Para menteri itu menjawab mereka bahkan tidak pernah mendengarnya, apalagi melihatnya.
Raja sangat gembira karena sekarang ia berkesempatan mengirimkan hadiah yang tidak ada di Takkasilà. Kemudian raja berpikir, “Aku dapat meminta Buddha untuk berkunjung ke Takkasilà, kota kerajaan temanku Raja Pukkusàti demi kemajuan spiritual penduduk di sana. Tetapi bukanlah kebiasaan Buddha bermalam di daerah perbatasan. Jadi tidak mungkin Buddha pergi ke sana.”
“Andaikan aku memohon dan mengirim Yang Mulia, Sàriputta, Moggallàna, para Siswa Utama lainnya, dan para Arahanta. Akan tetapi, begitu aku mendengar mengenai keberadaan mereka di daerah perbatasan, aku harus mengirim orang-orangku, dan membawa mereka ke sini dengan cara apa pun dan melayani kebutuhan mereka. Jadi tidak mungkin para Thera itu pergi ke sana.”
“Oleh karena itu aku akan mengirim pesan yang berfungsi sama dengan kunjungan Buddha dan para Thera ke Takkasilà.”
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/bimbisara2bmenulis.jpg?w=193Sang Raja kemudian menyiapkan sehelai kain emas, empat lengan panjangnya dan setengah lengan lebarnya, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Pada hari ia akan menulis di kain emas itu, ia mencuci rambutnya pada pagi hari, mandi, bertekad menjalani Delapan Sīla dan setelah makan pagi, ia tidak menghias dirinya dengan bunga dan tidak memakai wangi-wangian. Kemudian ia mengambil bubuk merah dalam cangkir emas, ia menutup semua pintu di tingkat bawah dan naik ke tingkat atas. Untuk memperoleh cukup penerangan, ia membuka jendela yang ditopang oleh patung singa di sebelah timur, dan duduk di dalam kamar, raja menulis di atas kain emas tersebut!
“Telah muncul di dunia ini, guru yang layak dipuja (Araha), yang telah mencapai Pencerahan Sempurna (Sammàsambuddha), memiliki pengetahuan dan perbuatan yang terpuji (Vijjà-caraa-sampanna), Petapa Mulia (Sugata), yang mengetahui seluruh alam (Lokavidū), pembimbing manusia yang tiada taranya (Anuttaro-purisa-damma-sàrathi), guru para dewa dan manusia (Satthà-devamanussàna), yang sadar (Buddha), yang patut dimuliakan (Bhagavà).
Demikianlah raja pertama-tama menuliskan beberapa ciri mulia Buddha.
Kemudian ia menjelaskan bagaimana Bodhisatta melatih Sepuluh Kesempurnaan (Pàramī); bagaimana Beliau setelah meninggal dunia dari Alam Dewa Tusita, Beliau masuk ke rahim ibu-Nya, bagaimana saat itu terjadi tiga puluh dua keajaiban yang terlihat oleh seluruh dunia dengan jelas, bagaimana keajaiban-keajaiban terjadi saat Beliau masuk ke dalam kandungan, bagaimana Beliau mempraktikkan pertapaan dan berusaha mencapai Pencerahan Sempurna; bagaimana Beliau, duduk di atas Singgasana Aparàjita dan mencapai Kemahatahuan di atas Singgasana Aparàjita itu, bagaimana Beliau mencapai kekuatan adialami yang luar biasa sehingga Beliau mampu menembus seluruh semesta.
Akhirnya, Raja Bimbisàra menulis bahwa di seluruh alam dewa dan brahmà, tidak ada permata (ratana) selain Buddha-ratana yang memiliki ciri-ciri mulia tersebut. Raja selanjutnya menuliskan ciri-ciri lain dari Buddha dalam syair berikut:
Ya kiñci vitta idha và hura và.
saggesu và ya ratana paīta
na no sama atthi Tathàgatena;
idampi Buddhe ratana paīta
etena saccena suvatthi hotu.
Kemudian untuk memuji Dhamma-ratana, raja menuliskan enam ciri mulianya, yaitu,
“Ajaran Buddha telah dibabarkan dengan sempurna (svàkkhàta), hasilnya dapat dibuktikan dalam kehidupan ini juga (sandiṭṭhika), bermanfaat langsung (akàlika), mengundang makhluk-makhluk untuk ‘datang dan melihat’ (ehipassika), layak dipelajari (opaneyyika) dan layak dilaksanakan oleh para bijaksana (paccatta-vedittabba viññūhi). Raja juga menyebutkan ciri-ciri istimewa seperti Tiga Puluh Tujuh Faktor Pencerahan Sempurna (Bodhipakkhiya Dhamma) yaitu Empat Landasan Perhatian Murni (Satipaṭṭhàna), empat usaha benar (sammappadhàna), empat jalan menuju pencapaian kekuatan adialami (iddhipada), lima indria (indriya), lima kekuatan (bala), Tujuh Faktor Pencerahan Sempurna (bojjhaga) dan Jalan Berfaktor Delapan (maggaga).
Kemudian Raja menjelaskan ciri-ciri mulia Dhamma sebagai berikut:
Ya buddhaseṭṭho parivaṇṇaī suci
samàdhimanantarikaññamàhu;
samàdhinà tena samo na vijjati,
idampi dhamme ratana
paīta
etena saccena suvatthi hotu
Kemudian Raja memuji Sagha-ratana dengan menuliskan sembilan ciri-ciri mulia, empat yang pertama adalah “Para siswa Buddha bertindak-tanduk baik (supaipannatà), jujur (ujupaipannatà), perbuatan mereka mengarah menuju Nibbàna (nàyapaipannatà); karena perbuatannya, mereka layak diberi penghormatan (sàmīcipaipannatà); dengan memiliki sifat-sifat ini (yang menjadi penyebab), mereka layak diberi persembahan yang dibawa dari jauh (âhuneyyo), layak diberikan tempat bernaung (Pàhuneyyo), layak diberi persembahan yang baik (dakhineyya), layak diberi penghormatan (añjali-karaīya), dan mereka adalah lahan yang terbaik bagi makhluk-makhluk untuk menanam benih kebajikan (anuttara-puññakkhetta lokassa).
Raja melanjutkan tulisannya:
“Para anggota keluarga yang berasal dari kelahiran yang tinggi dan berperilaku baik, mendengar sabda Buddha dan melepaskan keduniawian untuk menjadi bhikkhu. Beberapa melakukannya dengan meninggalkan kemewahan seorang raja, beberapa lainnya meninggalkan kemewahan seorang pangeran mahkota, beberapa lainnya lagi meninggalkan kemewahan seorang jenderal, dan seterusnya. Setelah menjadi bhikkhu, mereka menjalani kehidupan mulia.”
Setelah kata-kata pengantar ini, sehubungan dengan kehidupan mulia, raja menuliskan sesuatu mengenai moralitas rendah (cūà-sīla), moralitas menengah (majjhima-sīla), moralitas tinggi (mahà-sīla), dan lain-lain, seperti yang terdapat pada Brahmajàla Sutta. Ia juga menuliskan tentang pengendalian enam indria, melatih perhatian dengan tekun (sati-sampajañña), kepuasan terhadap empat kebutuhan hidup, sembilan jenis tempat tinggal yang layak untuk berlatih meditasi, mengatasi lima rintangan (nīvaraa), mempersiapkan objek-objek meditasi (kasia) untuk melatih pikiran, pengembangan Jhàna dan kekuatan adialami, tiga puluh delapan jenis meditasi, dan seterusnya, semuanya menuju pencapaian Kearahattaan.
Setelah menjelaskan secara terperinci enam belas jenis perhatian terhadap pernapasan (ànàpànasati) sebagai objek meditasi, raja memuji para siswa Buddha di dalam Sagha:
Ye puggalà aṭṭhasata pasaṭṭh
cattàri etàni yugàni honti.
te dakkhi
eyyà sugatassa sàvak
etesu dinnàni mahapphalàni.
idampi Sa
gha ratana paīta
etena saccena suvatthi hotu.
Sang raja menambahkan, “Ajaran Buddha beserta Tiga Latihan-Nya (sikkhà) adalah indah pada permulaan, indah pada pertengahan, dan indah pada akhirnya. Ajaran-Nya pasti mengarah menuju Pembebasan dari sasàra. Temanku, Pukkusàti, aku ingin mengajakmu untuk melepaskan keduniawian dan menjadi bhikkhu jika engkau bisa.”
Raja Bimbisàra kemudian menggulung kain emas itu, membungkusnya dengan kain berkualitas baik, selanjutnya menyimpannya di dalam peti terbuat dari kayu cendana, peti kayu cendana itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti emas, peti emas dimasukkan ke dalam peti perak, peti perak dimasukkan ke dalam peti batu delima, peti batu delima dimasukkan ke dalam peti batu koral, peti batu koral dimasukkan ke dalam peti batu delima jingga. Peti batu delima jingga dimasukkan ke dalam peti batu delima lurik (masàragalla), peti batu delima lurik dimasukkan ke dalam peti kristal, peti kristal dimasukkan ke dalam peti gading, peti gading dimasukkan ke dalam peti sepuluh permata, peti sepuluh permata dimasukkan ke dalam peti bambu, peti bambu dimasukkan ke dalam kotak cendana, kotak cendana dimasukkan ke dalam kotak emas, kotak perak, kotak batu delima, kotak koral, kotak batu delima jingga, kotak batu delima lurik, kotak kristal, kotak gading, kotak sepuluh permata, dan kotak bambu berturut-turut, satu kotak di dalam kotak lainnya.
Kemudian kotak bambu itu dimasukkan ke dalam peti kayu cendana, peti kayu cendana dimasukkan ke dalam peti emas, kemudian seperti sebelumnya, ke dalam peti perak, peti batu delima, peti koral, peti batu delima jingga, peti batu delima lurik, peti kristal, peti gading, peti sepuluh permata, dan peti bambu berturut-turut.
Kemudian setelah membungkus peti bambu itu dengan sehelai kain berkualitas baik, dan menyegelnya dengan stempel kerajaan, raja memerintahkan para menterinya. “Hiaslah jalan-jalan dalam wilayah kekuasaanku, semua jalan harus memiliki lebar delapan usabha, dua bagian masing-masing dua usabha lebarnya di kedua sisi jalan harus diratakan, dan bagian tengah yang lebarnya empat usabha harus dihias dengan hiasan kerajaan.”
(1 usabha = 20 yaṭṭhi, 1 yaṭṭhi = 7 ratana, 1 ratana = 2 vadatthi, 1 vadatthi = 12 agula, 1 agula = 1 inchi. Dengan demikian 1 usabha = 280 kaki.)
Kemudian raja mempersiapkan tempat duduk di atas seekor gajah istana yang berhiasan penuh, menaunginya dengan sebuah payung putih, menyapu jalan-jalan di kota dan memerciknya dengan air. Bendera dan umbul-umbul, dan spanduk dipasang di mana-mana. Di kedua sisi jalan, dipasang hiasan pohon-pohonan, kendi-kendi berisi air, bunga-bunga harum, dan indah. Utusan-utusan dikirim ke semua kepala daerah untuk menyampaikan pesan, “Kalian harus memberi hormat kepada hadiah kerajaan saat ia melintasi wilayah kalian.”
Megah dengan segala tanda-tanda kebesaran, dan disertai oleh para menterinya, raja berangkat, membawa hadiah suci menuju perbatasan diringi upacara yang megah dan berbagai alunan musik. Diam-diam ia memberitahu wakilnya yang bertanggung jawab menyerahkan hadiah itu, “Aku ingin temanku menerima hadiah ini tidak di depan permaisurinya tetapi di teras atas istananya.”
Sang raja memuliakan hadiah sucinya dengan hormat dan menganggap perjalanannya sebagai perjalanan mengunjungi Buddha di daerah perbatasan. Kemudian ia kembali ke Kota Ràjagaha.
Para gubernur dan walikota memperbaiki jalan-jalan dengan cara yang sama dan mengirimkan hadiah suci itu dari satu tempat ke tempat lainnya.
Penerimaan Oleh Raja Pukkusàti
Raja Pukkusàti juga membersihkan jalan-jalan dari perbatasan hingga ke dalam kota, menghias kota dengan menerima hadiah suci itu dengan penuh kemegahan. Hadiah suci itu secara ajaib tiba di Takkasilà bertepatan pada hari uposatha. Sang menteri yang membawa hadiah itu menyampaikan pesan kepada raja yang ia terima secara lisan dari Raja Bimbisàra.
Mendengar pesan itu, Raja Pukkusàti melakukan pengaturan untuk memberikan kenyamanan para tamu dan mengambil sendiri hadiah itu dan pergi ke lantai atas istananya. Ia menempatkan penjaga di pintu untuk mencegah orang masuk ke dalam istana, kemudian ia membuka jendela, menempatkan hadiah itu di tempat yang tinggi dan kemudian ia duduk di tempat yang lebih rendah. Kemudian ia membuka segel kerajaan dan kain penutup bagian luar dan seteleh membuka kotak itu satu demi satu, ia melihat kotak kayu cendana yang terletak paling dalam, ia menyimpulkan, “Cara hadiah ini dibungkus sangat berbeda dengan hadiah-hadiah duniawi lainnya. Ini pasti sebuah ratana yang telah muncul di Wilayah Tengah dan layak diperhatikan.”
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/pukkusati2bmembaca.jpg?w=300Kemudian raja membuka peti harum itu, membuka segel kerajaan dan memegang kain berkualitas baik itu di kedua sisinya, ia membuka gulungan itu dengan hati-hati dan melihat gulungan emas. Ia terheran menatap tulisan indah itu, huruf-hurufnya sempurna membentuk tulisan tangan yang indah. Raja membaca huruf demi huruf dalam pesan itu.
Saat ia membaca ciri-ciri mulia Buddha, yang dimulai dengan “Telah muncul di dunia ini, Buddha,” ia merasakan kegembiraan luar biasa sehingga bulu di sembilan puluh sembilan ribu pori-porinya berdiri. Ia bahkan tidak menyadari posisi berdiri atau duduknya. Ia sangat bersyukur saat ia berpikir mengenai kesempatan yang ia miliki. Ia berterima kasih kepada temannya Raja Bimbisàra, karena memberinya kesempatan untuk mendengarkan pesan mengenai Buddha-ratana yang sangat sulit terdengar bahkan dalam masa jutaan kappa.
Karena tidak sanggup membaca lebih lanjut. Raja Pukkusàti duduk sambil merenung hingga kegembiraannya berangsur-angsur berkurang. Kemudian ia melanjutkan membaca ciri-ciri mulia Dhamma yang dimulai dengan svàkkhàta. Raja mengalami kegembiraan seperti sebelumnya. Duduk merenung hingga kegembiraannya berangsur-angsur berkurang, ia membaca ciri-ciri kemuliaan Sagha yang dimulai dengan Suppaipanna dan sekali lagi ia mengalami kegembiraan seperti sebelumnya.
Raja Pukkusàti Mencapai Jhàna dan Menjadi Bhikkhu
Kemudian raja membaca bagian terakhir dari gulungan kain emas itu yang menjelaskan tentang meditasi dengan objek perhatian terhadap pernapasan. Ia bermeditasi sesuai instruksi dari tulisan itu dan mencapai Jhàna Råpàvacara penuh. Ia melewatkan waktunya menikmati kebahagiaan Jhàna tanpa mengizinkan siapa pun datang menghadapnya kecuali seorang pelayan muda. Demikianlah ia melewatkan waktunya selama setengah bulan (lima belas hari).
Penduduk kota berkumpul di halaman istana dan menuntut kemunculan raja dengan berkata, “Sang raja berhenti memeriksa pasukan atau menikmati hiburan sejak saat ia menerima hadiah kerajaan. Ia juga berhenti memberikan keputusan-keputusan kerajaan. Kami ingin raja memperlihatkan hadiah kerajaan yang dikirimkan oleh temannya Raja Bimbisàra. Beberapa raja berniat mencaplok sebuah negeri dengan memikat penguasanya dengan hadiah-hadiah. Apakah yang sedang dilakukan oleh raja kita sekarang?”
Ketika raja mendengar teriakan-teriakan itu, ia merenungkan apakah ia akan tetap bekerja demi kesejahteraan negerinya atau mengikuti ajaran Buddha. Kemudian ia berpikir, “Tidak ada perhitungan matematis yang dapat menghitung banyaknya kelahiran yang telah kualami sebagai seorang penguasa dari sebuah kerajaan. Oleh karena itu aku akan berlatih mempraktikkan ajaran Buddha.”
Dengan pikiran demikian, ia mengambil pedang yang diletakkan di dekat tempat tidurnya, memotong rambutnya, membuka jendela dan melemparkan gulungan rambutnya beserta pengikat rambutnya yang terbuat dari batu delima ke tengah-tengah kerumunan, dan berkata, “Orang-orangku! Ambillah gulungan rambutku dan perlakukan ia sebagai raja.”
Para penduduk menerima gulungan rambut beserta pengikat rambut batu delima dan berkata dengan sedih, “O Raja Besar, apakah semua raja yang menerima hadiah dari temannya seperti engkau?”
Rambut Raja Pukkusàti panjangnya selebar dua jari tangan seperti rambut Bodhisatta pada malam Beliau melepaskan keduniawian.
Kemudian raja menyuruh pelayan mudanya pergi ke pasar untuk membeli dua helai jubah celup dan sebuah mangkuk tanah. Kemudian ia berkata, “Aku mempersembahkan kebhikkhuanku kepada Yang Mulia Buddha yang layak mendapat penghormatan di dunia ini,” ia mengenakan sehelai jubah sebagai jubah bawah, dan mengenakan sehelai lainnya sebagai jubah atas dan, dengan mangkuk tergantung di bahu kirinya dan sebatang tongkat di satu tangan, ia melangkah dua atau tiga kali di luar istana untuk melihat apakah ia sudah terlihat layak sebagai seorang bhikkhu. Ia gembira mengetahui bahwa ia pantas menjadi bhikkhu. Kemudian ia membuka pintu utama dan melangkah turun dari istananya.
Para penari dan orang-orang lainnya yang menunggu berturut-turut di tiga pintu melihat Bhikkhu Pukkusàti turun, tetapi mereka tidak mengenali raja. Mereka menduga bahwa seorang Pacceka Buddha telah datang untuk memberikan khotbah kepada raja. Hanya setelah mereka naik ke tingkat tertinggi istana itu dan secara saksama memeriksa tempat duduk raja, baru mereka menyadari kepergian raja dan mereka seketika menangis bagaikan orang-orang yang terperangkap di dalam perahu yang tenggelam di tengah lautan.
Saat Bhikkhu Pukkusàti sampai di tanah, semua penduduk dan pasukan mengelilinginya dan menangis sedih. Para menteri berkata kepada Pukkusàti, “Raja Besar! Raja-raja di Wilayah Tengah sangat licik. Engkau sebaiknya pergi hanya setelah mengirim utusan dan menyelidiki untuk memastikan apakah Buddha-ratana telah benar-benar muncul di dunia ini atau tidak. Sementara itu, engkau sebaiknya kembali ke istana.”
Tetapi Bhikkhu Pukkusàti tetap pergi sambil berkata, “Teman-teman, aku memercayai temanku, Raja Bimbisàra. Temanku Raja Bimbisàra tidak pernah berkata bohong kepadaku. Engkau pergilah.”
Namun para menteri dan para penduduk tetap mengikuti raja.
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/pukkusati.jpg?w=300Pukkusàti kemudian membuat tanda di atas tanah dengan tongkatnya dan bertanya kepada para penduduk, “Milik siapakah negeri ini?”
mereka menjawab, “Raja Besar, ini adalah negerimu.”
Kemudian bhikkhu itu berkata, “Siapa yang menghancurkan tanda ini harus dihukum dengan kuasa dari raja.”
Dalam Mahàjanaka Jàtaka, Ratu Sīvalidevī tidak berani menghapus garis yang digambar di tanah oleh Bodhisatta, Raja Mahà Janaka. Maka dengan cerdik ia bergulingan di tanah mengakibatkan garis itu terhapus dan kemudian mengikuti raja. Para penduduk juga mengikuti melalui jalan yang telah dibuka oleh ratu. Tetapi dalam hal garis yang digambar oleh Raja Pukkusàti, para penduduk tidak berani menghapusnya dan hanya bisa menangis memandangi garis itu.
Raja Pukkusàti pergi sendirian tanpa mengajak seorang pelayan atau budak yang akan menyediakan sikat gigit atau air untuk mencuci muka sepanjang perjalanannya.
Ia berjalan sendirian, menyadari kenyataan bahwa “Guruku, Buddha melepaskan keduniawian (saat masih seorang Bodhisatta) dan pergi sendirian untuk menjadi bhikkhu.”
Tergerak untuk mengikuti sejauh mungkin teladan yang diberikan oleh Buddha dan mengingat bahwa Buddha tidak pernah menggunakan kendaraan, ia bahkan tidak memakai sandal dan bahkan tidak menggunakan payung yang terbuat dari daun sekalipun. Para penduduk memanjat pohon, tembok-tembok kota, menara-menara atau tangga-tangga yang terletak di tembok atau benteng, dan lain-lain untuk melihat kepergian raja mereka sendirian.
Raja Pukkusàti berpikir, “Aku harus melakukan perjalanan ini. Aku tidak mampu membiayai perjalanan ini sendirian.”
Maka ia mengikuti serombongan pedagang. Karena ia berjalan kaki di atas tanah yang kasar di bawah terik matahari, telapak kakinya pecah dan luka, menyebabkan sakit dan penderitaan luar biasa.
Saat rombongan pedagang itu berhenti dan mendirikan kemah dari dahan-dahan dan daun-daunan, Pukkusàti juga berhenti dan duduk di bawah sebatang pohon. Ia memasuki Jhàna Keempat melalui meditasi pernapasan, melenyapkan kelelahannya dan melewatkan waktunya dalam kebahagiaan Jhàna.
Keesokan paginya, ia membersihkan badannya dan kembali mengikuti rombongan pedagang itu. Ketika tiba waktunya makan pagi, para pedagang itu mengambil mangkuknya dan memberinya makanan. Kadang-kadang makanannya belum cukup matang, kadang-kadang terlalu lunak, kadang-kadang kasar berpasir, kadang-kadang terlalu asin, dan kadang-kadang kurang garam. Bhikkhu itu tidak peduli apakah makanannya lunak atau keras, kasar atau lembut, asin atau kurang garam, ia memakannya bagaikan memakan makanan surgawi. Demikianlah akhirnya ia tiba di Sàvatthī, setelah melakukan perjalanan sejauh seratus sembilan puluh dua yojanà. Meskipun rombongan pedagang itu melewati Vihàra Jetavana di kota, ia tidak pernah berpikir untuk bertanya di mana Buddha berada. Hal ini karena:
1.     hormatnya kepada Buddha, Sepanjang perjalanannya, Pukkusàti memusatkan pikirannya ke arah Buddha tanpa memikirkan hal-hal lainnya. Saat mendekati Jetavana, dengan penuh hormat kepada Buddha, ia bahkan tidak pernah bertanya-tanya di manakah Buddha berdiam. Pertanyaan mengenai Buddha tidak pernah muncul dalam dirinya. dan
1.     pesan dari Raja Bimbisàra yang mengatakan bahwa “Buddha muncul di dunia ini.” Dari pesan itu Pukkusàti yakin bahwa Buddha berdiam di Ràjagaha. Maka, walaupun ia melewati Vihàra Jetavana, ia tidak menanyakan tempat kediaman Buddha dan terus melanjutkan perjalanannya, akhirnya tiba di Ràjagaha, empat puluh lima yojanà jauhnya dari Sàvatthī.
Sesampainya di Ràjagaha setelah matahari terbenam, Pukkusàti melihat banyak vihàra dan menyimpulkan dari pesan Raja Bimbisàra bahwa Buddha berdiam di Ràjagaha, ia bertanya kepada para penduduk mengenai di mana Buddha menetap. Para penduduk bertanya dari mana ia datang dan mendengar bahwa ia datang dari utara, mereka berkata, “Yang Mulia, engkau berjalan terlalu jauh. Buddha menetap di Sàvatthī, empat puluh lima yojanà jauhnya dari Ràjagaha ke arah dari mana engkau datang.”
Bhikkhu itu berpikir, “Sekarang, sudah terlalu larut. Aku tidak dapat mengunjungi Buddha hari ini. Aku akan melewatkan malam ini di sini dan menjumpai Buddha besok.”
Ia bertanya kepada para penduduk mengenai di mana tempat untuk para petapa yang datang ke Ràjagaha setelah matahari terbenam. Para penduduk menunjukkan sebuah gubuk kecil milik seorang pembuat tembikar sebagai tempat peristirahatan bagi bhikkhu-bhikkhu yang berkunjung. Dengan izin si pembuat tembikar, bhikkhu itu memasuki gubuk dan duduk melewatkan malam itu.
Kedatangan Buddha
Pada dini hari itu, Buddha memeriksa dunia makhluk-makhluk hidup dan melihat Pukkusàti, Buddha berpikir, “Orang ini yang berasal dari keluarga baik, membaca pesan yang dikirim oleh temannya Raja Bimbisàra dan setelah meninggalkan wilayah kekuasaannya Takkasilà, yang luasnya seratus yojanà, ia menjadi bhikkhu untuk-Ku. Hari ini ia akan tiba di Ràjagaha setelah berjalan sejauh seratus sembilan puluh dua yojanà dan empat puluh lima yojanà lagi melewati Sàvatth
ī.”
“Jika Aku tidak menjumpainya, ia akan melewati malam ini dan meninggal dunia tanpa mencapai tiga tingkat Buah yang lebih rendah. Jika Aku menjumpainya, ia akan menembus tiga tingkat Buah yang lebih rendah di dalam Jalan Mulia dan terbebaskan. Aku telah mengembangkan dan melatih Kesempurnaan selama berkappa-kappa karena welas asih kepada makhluk-makhluk. Sekarang Aku akan pergi menjumpainya demi kemajuan spiritualnya.”
Maka pagi-pagi sekali Buddha membersihkan badan-Nya dan memasuki Sàvatthī bersama para bhikkhu untuk mengumpulkan dàna makanan. Sore harinya, Ia meninggalkan kota itu, beristirahat sejenak di dalam Kuī Harum dan berpikir, “Orang ini yang berasal dari keluarga baik telah melakukan sesuatu untuk-Ku yang sangat sulit dilakukan oleh orang-orang lain. Setelah meninggalkan kekuasaannya, Takkasilà yang luasnya seratus yojanà, ia pergi sendirian tanpa didampingi oleh seorang pelayan untuk menyediakan air pencuci mukanya.”
Buddha memikirkan jerih payah bhikkhu itu dan tanpa mengajak Yang Mulia Sàriputta atau Moggallàna atau siswa lainnya, Beliau meninggalkan Sàvatthī, membawa mangkuk dan jubah-Nya sendiri.
Buddha tidak terbang di angkasa atau memperpendek jarak perjalanan itu, tetapi Beliau berjalan kaki karena mengetahui bahwa demi diri-Nya bhikkhu itu tidak mengendarai kereta kuda atau gajah atau tandu emas, tetapi ia datang bertelanjang kaki tanpa sandal atau payung.
Dengan kemegahan seorang Buddha lengkap dengan tanda-tanda istimewa-Nya dan enam berkas sinar tubuh-Nya, dan lain-lain, yang menyelubungi-Nya bagaikan awan menyelimuti bulan, Buddha melakukan perjalanan sepanjang sore hari itu (kira-kira enam jam) dan menempuh jarak sejauh empat puluh lima yojanà, Ia tiba di gubuk si pembuat tembikar saat matahari terbenam persis sesaat setelah Bhikkhu Pukkusàti memasuki gubuk itu. Buddha datang dengan menyembunyikan kemuliaan-Nya agar bhikkhu itu dapat beristirahat dengan nyaman. Seseorang yang kelelahan tidak dapat menembus Dhamma.
Ketika Buddha tiba di dekat gubuk si pembuat tembikar, Beliau tidak memasukinya seperti layaknya seorang Buddha Yang Mahatahu, melainkan Ia berdiri di pintu masuk dan meminta izin kepada bhikkhu itu untuk beristirahat di sana. Pukkusàti menganggap Buddha adalah seorang bhikkhu biasa dan dengan senang hati memberikan izin kepada-Nya dengan berkata, “Temanku, gubuk ini sangat tenang. Tidak sempit. Engkau boleh tinggal dengan nyaman sesuka-Mu di sini.”
Buddha yang sangat halus dan lembut meninggalkan Kuī Harum yang seperti istana surgawi dan memasuki gubuk si pembuat tembikar yang kotor dan menjijikkan, penuh dengan debu, pecahan kendi, jerami, dan kotoran ayam dan babi. Di sini, di tengah-tengah kotoran itu, Buddha membuat alas tidur dari rumput, menghamparkan jubah dan duduk dengan tenang seolah-olah berada di dalam kamar yang harum oleh dupa surgawi.
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/buddha2bdan2bpukkusati.jpg?w=300
Demikianlah kedua orang yang berasal dari keluarga khattiya itu, yang memiliki jasa kebajikan masa lampau, yang meninggalkan kemewahan istana untuk menjadi bhikkhu, yang memiliki kulit keemasan, yang telah mencapai tingkatan yang teramat dalam, Buddha dan Pukkusàti, keduanya duduk bermeditasi di dalam gubuk si pembuat tembikar, menyebabkan gubuk itu terlihat sangat indah bagaikan gua kristal tempat tinggal dua raja singa.
Buddha meninggalkan Sàvatthī pada siang hari, berjalan kaki menuju Ràjagaha yang jauhnya empat puluh lima yojanà, sampai di gubuk pembuat tembikar saat matahari terbenam, memasuki gubuk itu atas izin bhikkhu tersebut dan tenggelam dalam Phala Samàpatti selama enam jam. Keluar dari Jhàna saat tengah malam, Beliau membuka kedua mata-Nya, yang memiliki lima jenis kepekaan, bagaikan membuka jendela istana emas. Kemudian Beliau melihat Bhikkhu Pukkusàti duduk tenggelam dalam Jhàna Keempat (melalui objek pernapasan) bagaikan patung emas, tanpa adanya gerakan tangan, kaki atau kepala, tenang dan tidak terganggu bagaikan tiang pintu yang kokoh. Buddha berpikir bahwa posisi bhikkhu itu sangat mengesankan dan memutuskan untuk memulai percakapan.
Dari keempat posisi tubuh, yaitu, berjalan, berdiri, berbaring, dan duduk, tiga posisi pertama kurang terhormat. Tangan, kaki, dan kepala seorang bhikkhu yang sedang berjalan selalu bergerak. Tubuh seorang bhikkhu yang sedang berdiri cenderung kaku. Posisi berbaring juga tidak menyenangkan. Sesungguhnya, hanya posisi duduk dari seorang bhikkhu yang setelah menyapu tempat meditasinya pada sore hari, menghamparkan alas duduknya, membersihkan tangan dan kaki, duduk bersila merupakan posisi yang terhormat. Bhikkhu Pukkusàti duduk bersila dalam Jhàna Keempat melalui meditasi pernapasan yang menyenangkan Buddha.
Buddha bertanya kepada bhikkhu itu kepada siapakah ia mengabdikan kehidupan suci yang ia jalani, siapakah gurunya dan ajaran siapakah yang ia jalankan. Bhikkhu itu menjawab bahwa ia mengabdikan hidupnya kepada Buddha dan seterusnya.
Kemudian, Buddha bertanya lagi di manakah Yang Termulia, yang telah mencapai Pencerahan Sempurna berdiam. Bhikkhu Pukkusàti menjawab, “Temanku, ada sebuah kota di wilayah utara. Yang Termulia, yang telah mencapai Pencerahan Sempurna, sekarang menetap di kota itu.”
Ketika Buddha bertanya apakah ia pernah bertemu dengan Buddha, dan jika bertemu dengan-Nya sekarang apakah ia dapat mengenali-Nya, Pukkusàti menjawab bahwa ia belum pernah betemu dengan Beliau dan ia tidak akan mengenali-Nya jika ia bertemu dengan-Nya sekarang.
Mengetahui bahwa kelelahan bhikkhu itu telah lenyap, Buddha memutuskan untuk membabarkan khotbah kepadanya, raja “yang telah mengabdikan kebhikkhuannya untuk-Ku,” Buddha berkata, “Bhikkhu! Aku akan mengajarkan engkau. Dengarkanlah ajaran-Ku. Ingatlah dengan baik. Aku akan mengajarkan Dhamma dengan saksama kepadamu.”
(Hingga saat ini Bhikkhu Pukkusàti masih belum mengetahui bahwa temannya adalah Buddha.)
Pukkusàti telah meninggalkan kerajaannya setelah membaca pesan dari temannya Raja Bimbisàra dan menjadi bhikkhu agar dapat mendengarkan Dhamma manis dari Buddha. Ia telah melakukan perjalanan yang sangat jauh tanpa bertemu dengan siapa pun yang peduli mengajarkannya. Oleh karena itu, mengapa ia harus menolak pengajaran dari temannya? Bagaikan orang yang kehausan, ia sangat ingin meminum air Dhamma. Maka dengan senang hati ia setuju untuk mendengarkan ajaran itu. Kemudian Buddha memberikan ringkasan dari Dhàtuvibhaïga Sutta sebagai berikut:
“Bhikkhu! Seseorang atau makhluk terdiri dari enam unsur, enam organ indria, delapan belas pikiran, empat jenis pendukung. Ia yang hidup mengandalkan empat pendukung ini adalah bebas dari arus keangkuhan yang lahir dari khayalan diri, ketika arus keangkuhan lenyap dari dalam diri seorang bhikkhu, ia dikatakan telah melenyapkan àsava atau kotoran batin.
(1) ia harus penuh perhatian terhadap Pengetahuan Vipassanà (Pandangan Cerah),
(2) ia harus mengatakan Kebenaran,

(3) ia harus berusaha meninggalkan kotoran moral,

(4) ia harus melatih Dhamma hanya untuk memadamkan kotoran batin.”
(Demikianlah ringkasan dari Dhàtuvibhaïga Sutta.)
Setelah menyebutkan dasar-dasar Dhamma ini, Buddha menjelaskan satu demi satu secara terperinci. (Dhàtuvibhaïga Sutta dari Majjhima-Nikàya).
Pukkusàti Mencapai Kesucian Anàgàmi
Ketika Buddha menjelaskan Dhamma yang pertama, yaitu, perhatian terhadap Pengetahuan Vipassanà, Buddha membabarkan hingga ke tingkat kesucian Arahatta dan Pukkusàti berhasil mencapai tiga tingkat Buah yang lebih rendah karena kebajikan masa lampaunya dan menjadi seorang Ariya (seorang mulia) dengan tingkat kesucian Anàgàm
ī.
Misalnya, sewaktu seorang raja sedang memakan makanan yang terdiri dari berbagai rasa di dalam mangkuk emas, ia akan mengambil nasi sebanyak yang sebanding dengan ukuran mulutnya. Ketika seorang pangeran kecil yang duduk di pangkuannya, ingin makan, raja akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dari nasi yang diambil untuk dimakannya. Anak itu akan memakan sejumlah yang sebanding dengan ukuran mulutnya. Sedangkan sisanya akan dimakan oleh raja itu atau dikembalikan ke dalam mangkuk emas. Demikian pula, Buddha, Raja Dhamma, membabarkan Dhamma yang mengarah kepada Kearahattaan, khotbah yang sesuai dengan kekuatan intelektualnya dan berdasarkan kebajikan masa lampaunya. Bhikkhu Pukkusàti hanya dapat mengkonsumsi tiga perempat makanan Dhamma itu, yang adalah Jalan, dan menjadi Anàgàmī Ariya.
Pukkusàti tidak meragukan Dhamma sebelum mencapai kesucian Anàgàmī-Phala dan saat ia mendengarkan khotbah Buddha mengenai kelompok-kelompok kehidupan, organ-organ indria, unsur-unsur atau bentukan-bentukan pikiran, dan seterusnya. Tetapi ia masih ragu apakah manusia cerdas yang terlihat seperti seorang biasa dan yang sedang mengajarinya itu adalah seorang Buddha karena ia mendengar bahwa Buddha sering bepergian ke beberapa tempat dengan menyamar. Namun demikian, setelah ia mencapai Buah Anàgàmī, ia sama sekali tidak meragukan bahwa gurunya itu adalah Buddha.
Sebelum ia mengenali Buddha, ia memanggil Buddha dengan sebutan “Temanku!”, ia belum meminta maaf atas kekeliruannya karena Buddha masih membabarkan khotbah-Nya yang berurutan, dan bhikkhu itu belum berkesempatan untuk meminta maaf.
Pukkusàti Memohon Penahbisan
Pada akhir khotbah tersebut terjadi percakapan antara Buddha dan Bhikkhu Pukkusàti.
Pukkusàti, “Yang Mulia, guru para dewa dan manusia, telah datang ke sini karena welas asih terhadapku! Buddha yang membabarkan Dhamma yang sempurna telah datang ke sini karena welas asih terhadapku! Yang Mulia, yang memahami semua Dhamma telah datang ke sini karena welas asih terhadapku.”
(Sambil mengucapkan kata-kata gembira, ia bangkit dan meletakkan kepalanya di kaki Buddha dan menambahkan)
“Buddha Yang Agung! Karena kebodohanku, aku telah melakukan kesalahan. Aku telah menganggap bahwa Engkau layak kupanggil “temanku” (dan aku memang telah keliru memanggil-Mu demikian). Buddha Yang Agung, mohon maafkan aku atas kekeliruan ini yang harus kukendalikan pada masa mendatang.”
Buddha, “Bhikkhu! Karena ketidaktahuanmu, engkau telah melakukan kekeliruan. Engkau menganggap-Ku layak dipanggil sebagai “teman” (dan engkau memang memanggil-Ku demikian). Bhikkhu! Aku memaafkan engkau atas kekeliruan ini karena engkau mengakuinya dan memperbaiknya. Kelak engkau harus mengendalikan dirimu. Penebusan dan pengendalian diri demikian berguna bagi kesejahteraan mereka yang menjalani ajaran-Ku.”
Pukkusàti, “Buddha Yang Agung, izinkan aku menerima penahbisan dari-Mu.”
Buddha, “Apakah engkau memiliki mangkuk dan jubah(-mu sendiri)?”
Pukkusàti, “Tidak, Buddha Yang Mulia, aku tidak memilikinya.”
Buddha, “Bhikkhu! para Buddha tidak menahbiskan mereka yang tidak memiliki mangkuk dan jubah.”
Yang Mulia Pukkusàti sangat gembira atas ajaran Buddha. Ia mengungkapkan penghargaannya, bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Buddha dan pergi mencari mangkuk dan jubahnya.
Pukkusàti pergi mencari mangkuk dan jubahnya setelah fajar.
Fajar menyingsing saat Buddha mengakhiri khotbah-Nya dan enam berkas sinar tubuh Buddha memancar. Buddha memancarkan enam berkas sinar segera setelah khotbah-Nya berakhir. Seluruh gubuk itu menjadi terang benderang. Enam berkas sinar itu memancar berkelompok, seolah-olah menyelimuti segala penjuru dengan kain emas atau mencerahkan segala penjuru dengan bunga-bunga beraneka warna. Buddha bertekad agar diri-Nya terlihat oleh para penduduk kota dan ketika para penduduk melihat Buddha, mereka menyebarkan berita akan keberadaan Buddha di dalam gubuk dan melaporkannya kepada Raja Bimbisàra.
Raja Bimbisàra Berkunjung dan Memberi Hormat
Ketika Raja Bimbisàra mendengar laporan itu, ia mendatangi gubuk si pembuat tembikar dan setelah memberi hormat, ia bertanya kepada Buddha mengenai kapan Beliau tiba. Buddha menjawab bahwa Ia tiba saat matahari terbenam kemarin. Raja kemudian bertanya tentang tujuan kunjungan-Nya. Kemudian Buddha berkata, “Raja Besar, temanmu Raja Pukkusàti membaca pesanmu dan setelah melepaskan keduniawian untuk menjadi bhikkhu, ia melakukan perjalanan untuk menemui-Ku, tetapi setelah berjalan dengan sia-sia sejauh empat puluh lima yojanà melewati Sàvatth
ī, ia memasuki gubuk si pembuat tembikar dan duduk di sana.”
“Demi kemajuan spiritualnya Aku datang berjalan kaki dan membabarkan khotbah kepadanya. Pukkusàti sekarang telah mencapai Buah dari tiga tingkat kesucian yang lebih rendah dan menjadi seorang Anàgàmī Ariya.”
Mendengar hal ini, raja terkejut dan bertanya kepada Buddha di mana temannya berada.
Buddha menjawab bahwa ia sedang mencari mangkuk dan jubahnya untuk penahbisan. Raja Bimbisàra bergegas berjalan ke arah ke mana temannya pergi mencari mangkuk dan jubah. Buddha kembali melalui angkasa ke Kuī Harum di Vihàra Jetavana.
Pukkusàti Meninggal Dunia dan Terlahir Kembali di Alam Brahmà
Dalam mencari mangkuk dan jubah, Pukkusàti tidak mendatangi temannya Raja Bimbisàra atau para pedagang yang pernah berkunjung ke Takkasilà. Ia menganggap bahwa tidaklah layak baginya mencari ke sana kemari, dengan membeda-bedakan yang baik dan yang buruk bagaikan burung. Ia memutuskan untuk tidak mencari kain di kota besar, melainkan di tepi sungai, tanah pekuburan, tumpukan sampah atau jalan-jalan kecil. Maka ia mencoba mencari serpihan-serpihan kain di tumpukan sampah di pedesaan.
Selagi Pukkusàti sedang mencari-cari, seekor sapi gila jadi2an menabrak dan melukai dengan tanduknya.
Dalam keadaan lemah dan lapar, Pukkusàti meninggal dunia saat dilemparkan ke angkasa. Ketika jatuh ke atas tanah, ia berbaring di atas tumpukan sampah bagaikan patung emas. Setelah meninggal dunia, ia terlahir kembali di Alam Brahmà Avihà dan tak lama kemudian, ia menjadi Brahmà Arahanta setelah mencapai Kearahattaan.
Menurut Sagàthavagga Sayutta (Sutta kesepuluh dari Aditta Vagga dan Sutta keempat dari Nanatitthiya Vagga) ada tujuh orang yang mencapai Kearahattaan segera setelah kematian spontan mereka (upapital) di Alam Brahmà Avihà. Mereka adalah (1) Upaka, (2) Palagaṇḍa, (3) Pukkusàti, (4) Bhaddiya, (5) Khaṇḍadeva, (6) Bàhuraggi, dan (7) Sigiya.
Raja Bimbisàra berpikir, “Temanku Raja Pukkusàti meninggalkan kerajaannya setelah membaca pesanku dan melakukan perjalanan yang jauh dan sulit. Ia telah melakukan apa yang sulit dilakukan oleh orang-orang biasa. Aku akan memberikan penghormatan kepada temanku dengan cara yang sama seperti penghormatan kepada para bhikkhu.”
Ia menyebar orang-orangnya ke segala penjuru kota untuk mencari Raja Pukkusàti. Orang-orang itu menemukan raja itu terbaring mati bagaikan patung emas di atas tumpukan sampah. Mereka kembali dan melaporkan hal itu kepada Raja Bimbisàra.
Raja Bimbisàra pergi ke sana dan berdukacita atas kematian temannya, ia berkata, “Kami tidak berkesempatan memberikan penghormatan kepada teman kami sewaktu masih hidup. Sekarang ia telah meninggal dunia tanpa seorang pun yang menolongnya.”
Raja membawa jasad temannya menggunakan sebuah dipan kecil, meletakkannya di tempat yang layak dan karena tidak mengetahui bagaimana menghormati seorang bhikkhu yang telah meninggal dunia, ia memanggil petugas pemandi jenazah, memakaikan pakaian putih bersih dan menghiasnya bagaikan seorang raja.
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/perabuan2boleh2braja2bbimbisara.jpg?w=300Kemudian jenazah itu ditempatkan di atas sebuah tandu dan dihormati dengan semua jenis alat musik dan bunga-bunga harum, dibawa ke luar kota dan dikremasi dengan menggunakan kayu-kayu api harum. Tulang-belulangnya kemudian dikumpulkan dan disemayamkan di dalam sebuah cetiya.
Beberapa waktu kemudian, banyak bhikkhu di Sàvatthī mengunjungi Buddha. Mereka memberi hormat kepada Guru dan duduk di tempat yang layak, mereka berkata, “Buddha Yang Agung, Engkau telah membabarkan Dhamma kepada Pukkusàti. Orang itu telah meninggal dunia sekarang. Di manakah ia terlahir kembali?”
Kemudian Buddha menjawab, “Para bhikkhu, Pukkusàti adalah orang yang bijaksana. Ia melatih meditasi Vipassanà (Pandangan Cerah) sesuai Dhamma yang halus. Ia tidak menyulitkan Aku dalam hal Dhamma. Karena patahnya lima belenggu yang membawa ke alam-alam indria yang lebih rendah, ia terlahir kembali di Alam Brahmà Avihà dan akan mencapai kesucian Arahatta di Alam Brahmà Suddhàvàsa itu (Avihà adalah salah satu dari lima Alam Suddhàvàsa). Ia tidak mungkin kembali lagi ke alam-alam indria yang lebih rendah dari Alam Avihà itu.” [RAPB buku ke-2, hal.1754-1782 yg diambil dari Dhàtu-vibbaïga Sutta, Majjhima Nikàya]

Note:
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/yakhini.jpg?w=233Sapi gila itu merupakan jelmaan dari Yakhini, sejenis mahluk alam tertentu, yang membalas dendam padanya atas kejadian di kehidupan lampau.
Dalam salah satu kehidupan masa lampaunya, empat putra orang kaya menyewa seorang pelacur dan menikmatinya di suatu taman. Setelah selesai salah satu dari mereka mengusulkan untuk merampok perhiasan dan seribu keping perak milik pelacur itu. Ketiga temannya setuju. Mereka menyerang gadis itu dengan brutal. Gadis itu marah dengan pikiran, “Orang-orang jahat dan tidak tahu malu ini memanfaatkan diriku dengan penuh nafsu dan sekarang berusaha membunuhku karena serakah. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun terhadap mereka. Aku putus asa. Biarkan mereka membunuhku kali ini. Semoga aku terlahir menjadi raksasa pada masa depan dan mampu membunuh orang-orang ini berkali-kali!”
Pelacur itu wafat dengan menyimpan dendam itu dan terlahir berulang kali sebagai Yakkhini dan berulang kali juga menjadi pembunuh dalam wujud seekor Banteng/Sapi yang membuat tewas 4 (empat) korbannya.
Kisah 4 Pemuda tersebut yang lahir di jaman Buddha Gautama:
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/d78fc-42bpemuda.jpg?w=300
1.     Tambadathika
Ia tinggal di Savatthi, kerajaan Kosala pimpinan raja Pasenadi, setelah 55 tahun bertugas sebagai algojo ia pensiun.
Di satu pagi, Tambadathika baru saja selesai masak makanan dan ketika hendak mengambil bubur nasi, YM Sariputta Thera yang baru saja bangun dari meditasi Jhana Samapatti, berada di muka pintu rumahnya. Pada saat melihat Sariputta Thera, Tambadathika berpikir,
“Meskipun dalam hidupku saya telah menghukum mati para pencuri, sekarang saya seharusnya mempersembahkan makanan ini kepada bhikkhu itu.”
Kemudian ia mengundang Sariputta Thera untuk datang ke rumahnya dan dengan hormat mempersembahkan bubur nasi tersebut dan setelah beliau selesai makan, Tambadathika memohon untuk diberikan pembabaran dhamma. YM sariputta kemudian mengajarkan Dhamma kepadanya, tapi Tambadathika tidak dapat memperhatikan, sebab ia begitu gelisah mengingat masa lalunya sebagai seorang penjagal.
Ketika Sariputta Thera mengetahui hal ini dan menenangkan beliau, “Apakah ketika anda memenggal pencuri, pembunuh itu karena ingin membunuh mereka atau karena menjalankan perintah?”
Ia menjawab, “Saya menjalankan perintah raja dan tidak berniat membunuh mereka?”
YM Sariputta menanyakan, “Apakah anda merasa bersalah/tidak?”
Ia menjawab, “Saya tidak bertanggung jawab terhadap pembunuhan tersebut. Jadi mestinya saya tidak perlu merasa bersalah”
Mendengar itu, perasaannya menjadi tenang dan dapat dengan gembira mendengarkan pembabaran dhamma dari YM Sariputta yang membuatnya hampir mencapai Sotapanna.
Setelah khotbah Dhamma berakhir, Tambadathika menyertai perjalanan Sariputta Thera sampai jarak tertentu, dan kemudian ia pulang kembali ke rumahnya. Ketika Tambadathika masih dalam kondisi batin yang bergembira mendapatkan pembabaran Dhamma, seekor sapi gila menghadang dan menerjangnya hingga tewas.
Ketika Sang Buddha berada dalam pertemuan bhikkhu pada sore hari, para bhikkhu memberitahu beliau perihal kematian Tambadathika. Ketika ditanyakan di mana Tambadathika dilahirkan kembali, Sang Buddha berkata kepada mereka bahwa meskipun Tambadathika telah melakukan perbuatan jahat sepanjang hidupnya, karena memahami Dhamma setelah mendengarnya dari Sariputta Thera, ia telah mencapai anulomaññana sebelum meninggal dunia. Ia dilahirkan kembali di alam sorga Tusita.
Para bhikkhu sangat heran bagaimana mungkin seseorang yang melakukan perbuatan jahat seperti itu dapat memperoleh pahala demikian besar setelah mendengarkan Dhamma hanya sekali. Kepada mereka, Sang Buddha berkata,
“Daripada suatu penjelasan panjang yang tanpa makna, lebih baik satu kata yang mengandung pengertian dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair ke-100 berikut ini:
Daripada seribu kata yang tak berarti, adalah lebih baik sepatah kata yang bermanfaat, yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya
Silakan lihat juga, “Ternyata Masuk Surga itu Mudah!
1.     Suppabuddha
Ia tinggal di Savatti, seorang pengemis berpenyakit kusta. Karena berharap banyak dapat sembuh dari penyakit Kusta, ia mencoba bertemu Sang Buddha Gotama. Akhirnya ia tiba dan duduk di bagian belakang kumpulan orang dan mendengarkan dengan penuh perhatian pembabaran dhamma yang disampaikan oleh sang Buddha dan diakhir kotbahnya Ia mencapai sotapanna [Berhasil menghancurkan belenggu: tidak tergoyahkan pada tiratna [Buddha, dhamma dan sangha], mempunyai standar sila yg tinggi, dan pemahaman yg benar mengenai Idappaccayata (sebab akibat, kasualita) ref: SN 12,57; AN 5,25).
Ketika kerumunan orang tersebut sudah membubarkan diri, ia mengikuti Sang Buddha ke vihara. Ia berharap dapat memberitahukan kepada Sang Buddha tentang pencapaiannya.
Sakka, raja para deva alam Tavatimsa rupanya terkesan dengan pencapaian tsb dan mencoba menguji Suppabuddha. Ia kemudian bersalin rupa menjadi seorang yg berpenampilan dermawan dan berkata, “Kamu hanya seoang miskin, hidup dari meminta-minta, tanpa seorang pun yang mendekati kamu. Saya dapat memberi kamu kekayaan yang sangat besar jika kamu mengingkari Buddha, Dhamma, dan Sangha dan katakan pula bahwa kamu tidak bermanfaat bagi mereka.”
Suppabuddha menjawab,”Sesungguhnya saya bukanlah orang miskin, tanpa seorang pun yang percaya. Saya orang kaya; saya meyakini tujuh ciri yang dimiliki oleh para ariya; saya mempunyai keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), malu berbuat buruk (hiri), takut akan akibat jika berbuat buruk (ottappa), pembelajaran (suta), kedermawanan/murah hati (caga), dan kebijaksanaan (panna).”
Deva sakka bersorak dihatinya dan mendahului Suppabuddha menemui Buddha dan menceritakan kekuatan keyakinan dari Suppabuddha. Buddha kemudian berkata, “Tidak mudah bagi 100 atau 1000 sakka sepertimu untuk menggoyahkan keyakinan Suppabuddha akan Buddha, Dhamma dan sangha”.
Setelah Suppabuddha sampai di vihara, ia melapor kepada Sang Buddha bahwa ia telah mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Suppabuddha setelah bertemu sang Buddha dengan persaan senang ia kemudian meninggalkan Vihara Jetavana namun ia dihadang dan kemudian diseruduk oleh seekor sapi -gila menghadang dan menerjangnya hingga ia tewas. Sang Buddha kemudian menyatakan ia terlahir di alam surga Tavatimsa, tempat sakka berada.
Ketika berita kematian Suppabuddha sampai di Vihara Jetavana, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, di mana Suppabuddha dilahirkan kembali dan Sang Buddha menjawab bahwa Suppabuddha dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa, surga yang sama tempat Sakkha berada.
Mengenai penyakit kustanya, Sang Buddha juga menerangkan kepada para bhikkhu bahwa di kehidupan lalunya Suppabuddha pernah menyebut, “Lepra” pada Pacceka Buddha Tagarasikhi karena jubahnya penuh tambal2an dan juga meludahinya [Ud V.3; UdA.279 ff]
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair ke-66 berikut ini:
Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya memperlakukan diri sendiri seperti musuh; ia melakukan perbuatan jahat yang akan menghasilkan buah yang pahit.
1.     Bahiya Daruciriya
Namanya berasal dari nama negeri di mana ia dilahirkan. kemudian lebih dikenal sebagai Bàhiya Dàrucīriya, ‘Bàhiya-berpakaian-serat’, karena ia memakai serat kayu sebagai pakaiannya]. Setelah menikah, pada suatu hari ia melakukan perjalanan laut ke-8 menuju Suvaṇṇabhåmi [Sekarang Burma] untuk suatu urusan dagang. Kapal yang ia tumpangi hancur oleh badai di laut dan semua orang kecuali dia, tewas. Dengan berpegangan pada selembar papan dari kapal yang hancur tersebut selama tujuh hari, dihanyutkan ombak hingga mencapai pantai di Kota pelabuhan Suppàraka.
Sebelum berjumpa dengan orang-orang lain, ia menutupi tubuhnya yang telanjang. Ia mengambil tanaman-tanaman air dari sebuah waduk dan menyelimuti tubuhnya. Kemudian ia menggunakan sebuah kendi tua yang sudah usang sebagai mangkuk untuk menerima makanan.
Penampilannya yang mengenaskan menarik perhatian banyak orang. “Jika ada seorang Arahanta di dunia ini, maka dia adalah Arahanta itu!”
Begitulah mereka berbicara mengenainya. Mereka menganggap orang itu (orang suci menurut penilaian mereka) sedang menjalani praktik yang keras, dan menolak mengenakan pakaian yang pantas. Untuk membuktikan penilaian mereka itu, mereka memberikan pakaian baik kepadanya.
Tetapi Bàhiya berpikir, “Orang-orang ini menerimaku karena pakaianku ini. Lebih baik aku tetap berpakaian seperti ini sehingga mereka tetap menghormatiku.”
Karena itu ia menolak pakaian baik yang mereka berikan. Para penduduk menjadi lebih menghormatinya dan memberikan persembahan berlimpah kepadanya.
Setelah memakan makanannya, yang diterimanya dari para penduduk, Bàhiya masuk ke dalam sebuah cetiya tradisional. Para penduduk mengikutinya ke sana. Mereka membersihkan tempat itu untuk dijadikan tempat tinggalnya. Bàhiya kemudian berpikir, “Karena penampilan luarku, orang-orang ini menunjukkan penghormatan tinggi kepadaku. Hal ini mengharuskanku untuk hidup sesuai penghormatan mereka. Aku harus tetap menjadi seorang petapa yang baik dan benar.”
Ia mengumpulkan serat dari kayu dan, menjahitnya dengan benang ikat, kemudian memakainya sebagai pakaian buatan sendiri. (Sejak saat itu, ia mendapat julukan ‘Bàhiya-Dàrucīriya, Bàhiya-berpakaian-serat-kayu.’).
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/73dfd-72bpertapa2bdisebuah2bgunung.jpg?w=251Di kehidupan lalunya Bahiya, yaitu pada tahun-tahun terakhir Buddha Kassapa, ia bersama-sama dengan 6 orang lainnya pergi ke gunung yang tinggi dan curam dengan menggunakan tangga. Sampai di atas, mereka berdiskusi, “Bagi yang memiliki kepercayaan pada diri sendiri, ia harus mendorong tangga itu hingga jatuh.”
Seluruh tujuh bhikkhu itu memilih untuk menetap di puncak gunung hingga mereka mencapai Pencerahan dan mereka bersama-sama mendorong tangga tersebut. “Sekarang, teman-teman, tekunlah menjalani praktik kebhikkhuan,” mereka saling memberikan nasihat sebelum memilih tempat tinggal mereka di puncak gunung tersebut untuk berlatih dengan tidak memedulikan kematian demi mencapai Pengetahuan Jalan. Dari ketujuh bhikkhu tersebut, yang tertua mencapai Kearahattaan pada hari kelima. Ia berbaik hati dengan mencoba menjadi petugas pemberi makanan bagi mereka, namun mereka menolaknya karena ingin menepati sumpah mereka sendiri. Pada hari ketujuh, bhikkhu tertua kedua mencapai Anàgàmī-Phala. Ia juga mencoba membantu teman-temannya dengan menjadi petugas pengumpul makanan, namun juga di tolak mereka. Saat meninggal dunia, bhikku kedua ini terlahir kembali di Alam brahma – Suddhàvàsa, alam tempat para Anagami dan di alam itu ia akan mencapai arahat. Segera setelah terlahir di alam brahmà itu, ia mengingat kehidupan lampaunya dan mengetahui bahwa dia adalah satu di antara tujuh bhikkhu yang bermeditasi di puncak gunung yang curam dan yang pertama telah mencapai Kearahattaan dalam kehidupan itu, dari lima bhikkhu lainnya, ia melihat bahwa mereka semuanya terlahir di alam dewa.
Sekarang, salah satu di antara mereka telah menjadi Arahanta palsu di Suppàraka dan hidup mengandalkan kepercayaan para penduduk di sana, ia merasa adalah tugasnya untuk menegur temannya itu untuk berada di jalan yang benar. Ia merasa kecewa, karena Bàhiya Dàrucīriya dalam kehidupan lampaunya sebagai bhikkhu adalah seorang yang memegang teguh prinspi-prinsip moralitas, bahkan menolak makanan yang dikumpulkan oleh Arahanta temannya. Ia juga ingin menarik perhatian Bàhiya kepada kemunculan Buddha Gotama di dunia ini. Ia berpikir untuk membangkitkan semangat religius pada teman lamanya itu dan seketika ia turun dari alam brahmà dan muncul di depan Bàhiya Dàrucīriya dengan segala kemegahannya.
Bàhiya Dàrucīriya tiba-tiba melihat cahaya gilang-gemilang dan segera keluar dari kamarnya. Ia melihat brahmà itu dan setelah merangkapkan kedua tangannya, ia bertanya, “Siapakah engkau, Tuan?”
“Aku adalah teman lamamu. Menjelang akhir masa Buddha Kassapa, aku adalah satu dari tujuh bhikkhu termasuk dirimu, yang pergi ke puncak gunung yang curam dan berlatih meditasi Pandangan Cerah. (Aku mencapai Anàgàmī-Phala, dan terlahir kembali di alam brahmà. Yang tertua di antara kita menjadi seorang Arahanta dan telah meninggal dunia dari kehidupannya itu. Lima orang lainnya, setelah meninggal dunia, terlahir kembali di alam dewa. Aku datang untuk menegurmu agar tidak hidup mengandalkan kepercayaan salah para penduduk.”
O Bàhiya:
A.  Engkau bukan seorang Arahanta;
B.   Engkau belum mencapai Arahatta-Magga;
C.    Engkau bahkan belum memulai latihan menuju Kearahattaan. (Engkau belum melakukan sedikit pun praktik benar untuk mencapai Kearahattaan.)
Buddha sekarang telah muncul di dunia ini, dan sedang berdiam di Vihàra Jetavana di Sàvatthī. Aku harap engkau pergi dan menjumpai Bhagavà.”
Setelah menegurnya demikian, brahmà itu kembali ke alamnya.
Bàhiya Dàrucīriya tertegun mendengar kata-kata brahmà itu dan memutuskan untuk mencari Jalan menuju Nibbàna. Ia langsung pergi ke Sàvatthī. Menempuh jarak seratus dua puluh yojanà dalam satu malam. Keesokan paginya ia tiba di Sàvatthī.
Buddha mengetahui bahwa Bàhiya Dàrucīriya akan menjumpai-Nya tetapi melihat bahwa indria orang itu seperti keyakinan, belum cukup matang untuk menerima (memahami) Kebenaran; dan untuk mematangkannya, Buddha menunggu dan pergi ke kota untuk menerima dàna makanan, disertai oleh banyak bhikkhu.
Setelah Buddha meninggalkan Vihàra Jetavana, Bàhiya Dàrucīriya memasuki vihàra dan melihat banyak bhikkhu sedang berjalan-jalan di ruang terbuka setelah sarapan pagi, untuk mencegah kantuk. Ia bertanya kepada para bhikkhu di mana Buddha berada, dan diberitahu bahwa Bhagavà sedang menerima dàna makanan di kota. Para bhikkhu bertanya dari mana ia datang. “Aku datang dari pelabuhan Suppàraka, Yang Mulia.” “Engkau datang dari jauh. Cucilah kakimu, gosokkan minyak untuk melemaskan kakimu dan beristirahatlah sejenak. Bhagavà akan kembali tidak lama lagi dan engkau dapat menjumpai-Nya.”
Walaupun para bhikkhu dengan ramah menyambut kedatangannya tetapi Bàhiya Dàrucīriya tidak sabar menunggu. Ia berkata, “Yang Mulia, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu bahaya yang dapat mengancam kehidupanku. Aku datang tergesa-gesa, menempuh seratus dua puluh yojanà dalam satu malam, tanpa beristirahat. Aku harus bertemu dengan Bhagavà sebelum memikirkan soal istirahat.”
Setelah berkata demikian, ia berjalan ke kota dan melihat sosok Buddha yang tiada bandingnya. Saat ia melihat Buddha berjalan, ia merenungkan, “Ah, betapa lamanya waktu berlalu sebelum aku berkesempatan melihat Bhagavà!”
Ia berdiri terpesona di tempat itu menatap Buddha, batinnya dipenuhi oleh kegembiraan dan kepuasan, matanya tidak berkedip dan terpaku pada sosok Buddha.
Dengan membungkukkan badannya ia memberi hormat kepada Buddha, dan dirinya tenggelam dalam kemegahan aura Buddha, ia mendekati Bhagavà, bersujud dengan lima titik sentuhan ke tanah, menyembah dan mengusap kaki Bhagavà dengan penuh hormat, menciumnya dengan bersemangat.
Ia berkata:
“Yang Mulia, sudilah Bhagavà membabarkan khotbah kepadaku. Khotbah yang dibabarkan oleh Yang Selalu Berkata Benar akan bermanfaat bagiku untuk waktu yang lama.”
Buddha berkata, “Bàhiya, sekarang bukan waktunya membabarkan khotbah. Kami sedang mengumpulkan dàna makanan di kota.”
[Buddha menunda saat pemberian kotbah adalah karena bahiya belum siap benar secara fisik dan mental. Secara fisik karena perjalanan jauh seratus dua puluh yojanà dalam satu malam yang dilakukannya. Secara mental karena dua faktor, yaitu: kekhawatiran yg meluap akan keselamatan hidupnya, dan begitu meluap kegembiraannya ketika melihat dan bertemu Buddha, yang merupakan faktor kendala dalam pencapaian Pandangan Cerah dimana batinnya harus ditenangkan hingga pada tahap seimbang]
Ketika Buddha mengatakan hal itu, Bàhiya Dàrucīriya berkata untuk kedua kalinya, “Yang Mulia, tidak mungkin aku mengetahui apakah Bhagavà akan menjumpai bahaya yang mengancam kehidupan-Nya, atau aku akan menjumpai bahaya yang mengancam kehidupanku. Karena itu sudilah Bhagavà membabarkan khotbah kepadaku. Khotbah yang dibabarkan oleh Yang Selalu Berkata Benar akan bermanfaat bagiku untuk waktu yang lama.”
Dan untuk kedua kalinya Buddha berkata, “Bàhiya, sekarang bukan waktunya membabarkan khotbah. Kami sedang mengumpulkan dàna makanan di kota.”
Untuk ketiga kalinya Bàhiya Dàrucīriya mengajukan permohonan kepada Buddha. Dan Buddha mengetahui:
D.  bahwa batin Bàhiya telah tenang hingga pada tahap seimbang;
E.   bahwa ia telah beristirahat dan telah mengatasi keletihannya;
F.   bahwa indrianya sudah cukup matang; dan
G.   bahaya kehidupannya sudah sangat dekat, memutuskan bahwa waktunya telah tiba untuk membabarkan khotbah.
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2012/01/1a34e-bahiya2bdan2bsang2bbuddha.jpg?w=218Demikianlah, Buddha membabarkan khotbah secara singkat sebagai berikut:
“(1) Demikianlah, Bàhiya, engkau harus melatih dirimu: dalam melihat objek-objek terlihat (semua objek terlihat), menyadari bahwa melihat adalah hanya melihat; dalam mendengarkan suara, menyadari bahwa mendengar adalah hanya mendengar; demikian pula dalam mencium bau-bauan, mengecap dan menyentuh objek-objek sentuhan, menyadari bahwa mencium, mengecap, menyentuh adalah hanya mencium, mengecap dan menyentuh; dan dalam menyadari objek-objek pikiran, yaitu pikiran dan gagasan, menyadari bahwa itu hanyalah menyadari.”
“(2) Bàhiya, jika engkau mampu tetap menyadari dalam melihat, mendengar, mengalami, dan mengenali (empat kelompok) objek-indria, engkau akan menjadi seorang yang tidak berhubungan dengan keserakahan, kebencian, dan kebodohan sehubungan dengan objek-objek terlihat, suara yang terdengar, objek-objek yang dialami, atau objek pikiran yang dikenali. Dengan kata lain, engkau akan menjadi seorang yang tidak serakah, tidak membenci, dan tidak bodoh.”
“(3) Bàhiya, terhadap objek-objek terlihat, suara yang terdengar, objek-objek yang dialami, objek-objek pikiran yang dikenali, engkau tidak boleh berhubungan dengannya melalui keserakahan, kebencian atau kebodohan, yaitu, jika engkau ingin menjadi seorang yang tidak memliki keserakahan, kebencian dan kebodohan, maka, Bàhiya, engkau harus menjadi seorang yang tidak memiliki keserakahan, keangkuhan atau pandangan salah sehubungan dengan objek yang dilihat, didengar, dialami atau dikenali. Engkau tidak boleh menganggap ‘Ini milikku’ (karena keserakahan), tidak memiliki konsep ‘aku’ (karena keangkuhan), tidak mempertahankan gagasan atau konsep ‘diriku’ (karena pandangan salah).”
“(4) Bàhiya, jika engkau sungguh ingin menjadi seorang yang tidak memiliki keserakahan, keangkuhan atau pandangan salah sehubungan dengan objek yang dilihat, suara yang didengar, objek-objek nyata yang dialami, objek-pikiran yang dikenali, maka Bàhiya, (dengan tidak adanya keserakahan, keangkuhan dan pandangan salah dalam dirimu) engkau tidak akan terlahir kembali di alam manusia, juga tidak akan terlahir kembali di empat alam lainnya (yaitu, alam dewa, Niraya, binatang, dan hantu kelaparan atau peta). Selain kehidupan yang sekarang (di alam manusia) dan empat alam kelahiran kembali lainnya, tidak ada alam lainnya bagimu. Tidak-munculnya batin-dan-jasmani baru adalah akhir dari kotoran yang merupakan dukkha dan akhir dari kelahiran kembali yang merupakan dukkha.”
Demikianlah Buddha membabarkan Dhamma yang memuncak pada Pelenyapan tertinggi atau Nibbàna di mana tidak ada lagi unsur-unsur kehidupan (khandha) tersisa.
(Bàhiya Dàrucīriya adalah seseorang yang lebih tepat diberikan penjelasan singkat (sakhittaruci-puggala). Karena itu Buddha menjelaskan enam objek indria tanpa menyebutkan seluruh enam itu secara terperinci, tetapi menggabungkan bau, rasa dan objek sentuhan sebagai ‘objek-objek nyata.’ Demikianlah objek-objek indria itu dikelompokkan dalam empat kelompok: apa yang dilihat (diññha), apa yang didengar (suta), apa yang dialami (mutta), dan apa yang disadari (viññàta).
Sehubungan dengan empat langkah penjelasan di atas
(1) dalam nasihat Buddha agar menyadari melihat sebagai hanya melihat, mendengar sebagai hanya mendengar, mengalami sebagai hanya mengalami, mengenali sebagai hanya mengenali saat berhubungan dengan empat kelompok objek-objek indria masing-masing yang merupakan fenomena berkondisi, mengandung arti bahwa kesadaran-mata muncul dalam melihat objek-objek terlihat, kesadaran-telinga muncul dalam mendengar suara, kesadaran-hidung muncul dalam mencium bau, kesadaran-lidah muncul dalam mengecap rasa, dan kesadaran-pikiran muncul dalam mengenali objek-pikiran, hanya ada kesadaran dan tidak ada keserakahan, kebencian, dan kebodohan di sana.
(Pembaca harus memelajari sifat dari proses lima pintu-indria dan proses pintu-pikiran.)
(Kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah dan kesadaran-badan, lima jenis kesadaran ini disebut lima jenis kesadaran-indria.)
Buddha menasihati Bàhiya agar ia berusaha dengan tekun untuk tidak membiarkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan merasuki impuls momen-pikiran yang mengikuti lima-pintu indria dan proses-pintu-pikiran yang muncul seketika saat munculnya lima jenis kesadaran-indria itu, dalam setiap tahapnya tidak ada keserakahan, kebencian atau kebodohan, namun hanya kesadaran-indria saja. Karena menilai objek-objek indria tersebut secara alami akan menimbulkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
(Buddha menasihati Bàhiya agar ia berusaha dengan tekun untuk tidak membiarkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan merasuki impuls momen-pikiran karena Beliau ingin Bàhiya memahami konsep keliru seperti, “Ini kekal,” “Ini bahagia,” atau “Ini memiliki inti,” yang cenderung merasuki (pikiran yang tidak terjaga) sehubungan dengan empat kelompok objek-indria tersebut. Hanya jika seseorang menganggapnya sebagai tidak kekal, menyedihkan, buruk dan tanpa-diri, maka tidak akan muncul anggapan keliru sebagai kekal, bahagia, indah dan memiliki inti; hanya akan muncul Pandangan Cerah di mana impuls baik mengikuti (proses-pikiran netral pada tahap kesadaran-indria). Buddha memperingati Bàhiya agar menjaga dari pikiran salah akan fenomena berkondisi yang mewakili empat kelompok objek-indria sebagai kekal, bahagia, indah dan memiliki inti dan memandangnya sebagaimana adanya, yaitu, tidak kekal, menyedihkan, buruk, dan tanpa-diri, dan dengan demikian melatih Pandangan Cerah agar impuls baik mengikuti (kesadaran indria).
(Dengan menunjukkan pandangan benar dalam memandang empat jenis objek indria yang merupakan fenomena berkondisi, sebagai tidak kekal, menyedihkan, buruk dan tanpa-diri, Buddha (dalam 1 di atas) mengajarkan enam tingkat rendah dari Kesucian dan sepuluh tingkat Pandangan Cerah kepada Bàhiya Dàrucīriya.)
Dalam (2), “Bàhiya, jika engkau dapat tetap waspada dalam melihat, mendengar, mengalami dan menyadari empat kelompok objek-indria yang merupakan fenomena berkondisi melalui sepuluh tahap Pandangan Cerah dan mencapai Pengetahuan Jalan, maka engkau telah melenyapkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan; engkau bukanlah seorang yang serakah, yang membenci, atau yang bodoh; dengan kata lain, engkau akan bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Ini menunjukkan Empat Magga.)
(Dalam (3): para Ariya saat mencapai Ariya-Phala bebas total dari pengaruh keserakahan, keangkuhan, dan pandangan salah, sehingga mereka tidak pernah menganggap segala fenomena berkondisi yang disajikan oleh empat kelompok objek-indria sebagai ‘aku’, ‘milikku’ atau ‘diriku’. Ini menunjukkan Ariya-Phala.)
(Dalam (4): Seorang Arahanta setelah saat kesadaran-kematian lenyap tidak terlahir kembali apakah di alam manusia ini atau di empat alam lainnya. Ini adalah pelenyapan total dari kelompok-kelompok batin dan jasmani, dan disebut Nibbàna tanpa meninggalkan sisa dari kelompok-kelompok kehidupan. Langkah ini menunjukkan Nibbàna tertinggi, Pelenyapan tanpa sisa.)
Bàhiya Dàrucīriya bahkan selagi mendengarkan khotbah Buddha, menyucikan empat jenis moralitas kebhikkhuan, dan menyucikan batinnya melalui konsentrasi, dan mengembangkan Pandangan Cerah yang dilakukan dalam waktu yang singkat itu hingga ia mencapai Arahatta-Phala lengkap dengan empat Pengetahuan Analitis (Pañisambhidà ¥àa). Ia mampu menghancurkan semua àsava, kotoran moral, karena ia adalah individu yang berjenis sangat langka (karena jasa masa lampaunya) yang ditakdirkan untuk mencapai Pencerahan dalam waktu singkat, karena telah memiliki pengetahuan yang dibawa sejak lahir.
Setelah mencapai Arahatta-Phala, Yang Mulia Bàhiya Dàrucīriya, melihat dirinya sendiri dengan Pengetahuan Peninjauan (Paccavekkhaà ¥àa) yang terdiri dari sembilan belas faktor, merasa perlu, seperti biasanya seorang Arahanta, untuk menjadi bhikkhu dan memohon Buddha untuk menahbiskannya. Buddha bertanya, “Apakah engkau memiliki mangkuk dan jubah bhikkhu?”
“Belum, Yang Mulia,” ia menjawab.
“Kalau begitu,” Buddha berkata, “Pergilah cari dulu.”
Setelah berkata demikian, Buddha melanjutkan menerima dàna makanan di Kota Sàvatthī.
(Biasanya jika Ia seorang Arahat dan memohon untuk tasbihkan,maka Sang Buddha akan menyebutkan kalimat, “Ehi Bhikkhu” [Datanglah, Bhikkhu], namun tidak dapat dilakukan pada Bàhiya, dikarenakan:
§  Bahiya telah menjadi seorang bhikkhu pada masa ajaran Buddha Kassapa. Ia tetap menjadi bhikkhu dan berusaha mencapai Pencerahan selama dua puluh ribu tahun. Pada masa itu, jika ia menerima kebutuhan bhikkhu, ia berpikir bahwa perolehan itu ia dapatkan berkat jasa masa lampaunya sendiri dan tidak membaginya dengan bhikkhu lainnya. Karena kurangnya kedermawanan dalam memberikan jubah atau mangkuk kepada bhikkhu lainnya, ia kekurangan jasa yang dapat mendukungnya agar dapat dipanggil oleh Buddha, “Datanglah, Bhikkhu.”
§  Bàhiya juga pernah terlahir sebagai seorang perampok pada masa tidak ada Buddha yang muncul di dunia. Ia merampok seorang Pacceka Buddha, mengambil jubah dan mangkuknya dan membunuhnya dengan busur dan panahnya. Buddha mengetahui bahwa karena perbuatan jahat itu, Bàhiya Dàrucīriya tidak akan dapat memperoleh jubah dan mangkuk yang diciptakan melalui pikiran (Bahkan jika Buddha memanggilnya, “Datanglah, Bhikkhu”) (Komentar Udàna).
Namun, akibat yang ditimbulkan dari perbuatan jahat ini lebih sesuai jika dihubungkan dengan kenyataan nasib Bàhiya yang tidak memiliki pakaian yang pantas selain serat-serat kayu.)
Bàhiya meninggalkan Buddha dan berkeliling kota mencari mangkuk makan dan potongan kain untuk dijadikan jubah, sewaktu melakukan hal itu, ia ditanduk oleh seekor sapi yang baru melahirkan anak.
Ketika Buddha selesai mengumpulkan dàna makanan dan meninggalkan kota disertai oleh banyak bhikkhu, Beliau menemukan jasad Bàhiya di atas tumpukan sampah, dan berkata kepada para bhikkhu, “Pergilah, para bhikkhu, cari selembar selimut, dan bawa jenazah Bàhiya, lakukan pemakaman yang layak, dan semayamkan relik-reliknya.”
Para bhikkhu memperlakukan sesuai instruksi Buddha.
Kembali ke vihàra, para bhikkhu melaporkan kepada Buddha bahwa tugas mereka telah diselesaikan dan bertanya kepada Buddha, “Yang Mulia, di manakah Bàhiya terlahir kembali?” Dengan pertanyaan ini mereka menanyakan apakah Bàhiya meninggal dunia sebagai seorang awam, atau seorang Ariya yang belum melenyapkan kelahiran kembali atau seorang Arahanta yang telah mengakhiri kelahiran kembali. Buddha menjelaskan, “Para bhikkhu, Bàhiya adalah seorang bijaksana. Ia melatih dirinya dengan benar dan mencapai Lokuttara. Ia tidak menyulitkan Aku sehubungan dengan Dhamma, Bàhiya telah mengakhiri dukkha.”
(Instruksi Buddha kepada para bhikkhu untuk menyemayamkan relik-relik Bàhiya adalah petunjuk jelas bahwa Bàhiya meninggal dunia sebagai sorang Arahanta. Tetapi beberapa bhikkhu gagal memahami maksud dari instruksi tersebut atau mungkin mereka bertanya kepada Buddha untuk memastikan kenyataan itu.)
Mendengar bahwa (Yang Mulia) Bàhiya Dàrucīriya meninggal dunia sebagai seorang Arahanta, para bhikkhu penasaran. Mereka bertanya kepada Buddha, “Kapankah Bàhiya Dàrucīriya mencapai Kearahattaan, Yang Mulia?”
“Pada saat ia mendengarkan khotbah-Ku,” Buddha menjawab.
“Kapankah Bhagavà membabarkan khotbah kepadanya?”
“Hari ini, saat menerima dàna makanan.”
“Tetapi, Yang Mulia, khotbah tersebut pasti sangat penting. Bagaimana mungkin khotbah singkat itu dapat mencerahkannya?”
“Para bhikkhu, bagaimana mungkin kalian menilai akibat dari khotbah-Ku yang panjang atau pendek? Seribu bait syair yang tidak bermanfaat tidak sebanding dengan satu bait syair yang memberikan manfaat kepada pendengarnya.”
Dan pada kesempatan itu Buddha mengucapkan syair berikut:
Sahassamapi ce gàthà, anatthapadasañhità; eka gàthtà pada seyyo, ya sutvà upasammati.” [(Para bhikkhu) daripada seribu bait syair yang tidak mendukung pengetahuan lebih baik satu baris syair (seperti ‘perhatian adalah jalan menuju keabadian’) yang dengan mendengarnya, si pendengar menjadi tenteram.]
Pada akhir khotbah tersebut, banyak makhluk yang mencapai berbagai tingkat Pengetahuan Jalan seperti Sotàpatti-Phala. [RAPB buku ke-3 hal 2685-2698]
1.     Pukkusati. Kisahnya adalah seperti di atas.
ASTA DWADASA AWATARA MANUT SASTRA  HINDHU#

Penciptaan Dunia dan Avatar

https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/d371d-38225.jpg?w=318&h=320

Penciptaan Mahluk
Sebagai titisan Dewa Brahma, maka Resi Kasyapa juga mewarisi sifat Sang Brahma, yaitu mencipta dan melahirkan. Itu sebabnya, dari Resi Kasyapa lahirlah berbagai makhluk, hasil pernikahannya dengan 14 puteri dari Dewa Daksa, yang keturunannya akan mengisi alam semesta ini, yaitu:

      1)      12 Aditya, hasil pernikahannya dengan Dewi Aditi. 
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/a15b5-detya.jpg?w=215&h=320
      2)     Detya,(Hiranyaksa, Hiranyakasipu….) hasil pernikahannya dengan Diti.
      3)     Danawa, hasil pernikahannya dengan Danu.
      4)     Bidadari dan Bidadara (gandarwa), hasil pernikahannya dengan Aristi.
      5)     Asura, (Writra, Baruna….)hasil pernikahannya Anayusa.
      6)     Raksasa/Yaksa, (Kubera….) hasil pernikahannya dengan Kusa.
      7)     11 Rudra dan bangsa lembu, hasil pernikahannya dengan Surabi. 
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/5f602-yggdrasil.jpg?w=236&h=320
      8)     Bangsa tumbuhan, hasil pernikahannya dengan Tamra. 
      9)     Para gana, bhuta, dan kumbanda putana, hasil pernikahannya dengan Mregi.
      10)    10 puteri,hasil pernikahannya dengan Krodawasa.
      11)    Bangsa Hewan, hasil pernikahannya dengan Sarama. 
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/40/Airavata.svg/240px-Airavata.svg.png
      12)    Gajah Airawana Tunggangan Dewa Indra, hasil pernikahannya dengan Ira.
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/56741-275px-god_surya.jpg?w=236&h=320https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/20ef4-vishnu_py30_l.jpg?w=217&h=320
      13)    Aruna (Kusir Dewa Surya) dan Garuda (Wahana Dewa Wisnu), hasil pernikahannya dengan Winata.
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/bea01-vaikuntha-ekadashi-vishnu.jpg?w=400&h=300https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/16cb4-taksaka.jpg?w=232&h=320
      14)    100 Naga (Shesha, Antaboga, Taksaka, Basuki….), hasil pernikahannya dengan Kadru
AWATARA 
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/aa018-dasavatara.gif?w=640&h=404
Awatara atau Avatar dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/de8bf-kurmaawatara.jpg?w=302&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/dd969-kurma.jpg?w=268&h=320
      1.
Kurma Awatara,sang kura-kura, muncul saat Satya Yuga (Incarnation of Lord VishnuDirect
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/fc536-mohini.jpg?w=400&h=392
      2.   Mohini Awatara, sang wanita yang memikat, muncul Satya Yuga (Power of LordVishnu)
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/302e6-matsya.jpg?w=400&h=400
      3.
Matsya Awatara,sang ikan, muncul saat Satya Yuga (Incarnation of Lord Vishnu Direct)
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/3b9b2-varaha-avatara-188x300.jpg?w=250&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/eb531-waraha1.jpg?w=285&h=400
      4.     Waraha Awatara,sang babi hutan, muncul saat Satya Yuga (Incarnation of LordVishnu Direct)
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/bcba3-narasinga1.jpg?w=275&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/46c2f-narasimha.jpg?w=284&h=320
      5.     Narasimha Awatara,manusia berkepala singa, muncul saat Satya Yuga (Incarnation ofLord  Vishnu Direct) 6    7.   Bajra Awatara, menggantikan senjata Bajra milik Indra untuk membunuh Writra, muncul saat Satya Yuga (Power of Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/70db1-wamana1.jpg?w=300&h=400 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/432ac-wamana.jpg?w=301&h=400
      8.     Wamana Awatara,sang orang cebol, muncul saat Treta Yuga (Incarnation of LordVishnu Direct
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/35e07-angsa_avatar.jpg?w=384&h=640
      9.   Angsa Awatara, sang Angsa (Power of Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/cebcf-hayagriva.jpg?w=473&h=640
    10.   Hayagriwa Awatara, manusia berkepala kuda (Power of Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/c4327-275px-vishnu_and_four_kumaras.jpg?w=472&h=640
    11.   Catursana (Caturkumara) Awatara, empat putra Brahma (Power of Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/8288c-naradablij.jpg?w=286&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/e1403-narada_muni.jpg?w=300&h=400
    12.   Narada Awatara, sang resi yang berkelana ke seluruh dunia sebagai pemuja Wisnu(Life of the Blessed Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/74e34-nara_dan_narayana.jpg?w=322&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/e8dba-bhagavad-gita071.jpg?w=245&h=320
    13.    Nara dan Narayana Awatara, resi kembar, persaudaraan dan persahabatan Kresna dan Arjuna (Life of the Blessed Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/ba5f1-rishabha.jpg?w=292&h=400
    14.    Kapila Awatara, salah satu resi yang mendirikan aliran filsafat Samkhya (Life of the Blessed Lord Vishnu
    15.    Presnigarba Awatara. putra Presni (Life of the Blessed Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/cc294-dattatreya1.jpg?w=448&h=640
    16.    Dattatreya Awatara, kombinasi awatara Brahma,Wisnu dan Siwa (Power of LordVishnu
    17.    Yadnya Awatara, penguasa upacara, yang sempat menjabat sebagai Indra,
raja para dewa (Power of Lord Vishnu
    18.    Resaba Awatara, ayah Barata dan Bahubali (Life of the Blessed Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/3a896-275px-king_prithu.jpg?w=468&h=640
    19.    Pertu Awatara, maharaja yang memerah bumi dalam wujud sapi dan mengembangkan
sistem bercocok tanam (Life of the Blessed Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/6819b-dhanvantari.gif?w=420&h=640
    20.    Dhanwantari Awatara, bapak ilmu pengobatan (Ayurweda) (Life of the Blessed LordVishnu)
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/7e938-parashuram.jpg?w=296&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/d16f8-parasu.jpg?w=300&h=400
    21.       Parasurama (Ramabargawa) Awatara,sang Rama bersenjata kapak, muncul saatTreta Yuga (Incarnation of Lord Vishnu Direct)
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/85779-rama_purusothama.jpg?w=460&h=640
    22.       Rama Awatara,sang ksatria putra Dasarata, muncul saat Treta Yuga (Incarnation ofLord Vishnu Direct
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/9367b-vyasa_dictating_mahabharata.jpg?w=400&h=350
    23.    Wiyasa Awatara, pemilah Weda,penyusun Purana dan Mahabharata
muncul saat Dwapara Yuga (Life of the Blessed Lord Vishnu
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/10849-balarama9.jpg?w=259&h=640
    24.    Baladewa (Balarama) Awatara, sang Ksatria putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga (Life of the Blessed Lord Vishnu)
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/deb16-kresnakecil.jpg?w=250&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/b61c2-krsna_flute_big.jpg?w=242&h=400
    25.      Kresna Awatara, sang Ksatria putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga(Incarnation of Lord Vishnu Direct
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/309bd-buddha_meditating.jpg?w=256&h=400https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/4f745-budha.jpg?w=290&h=400
    26.    Buddha Awatara, pangeran Siddharta Gautama, muncul saat Kali Yuga (Incarnation of Lord Vishnu Direct
    27.    Awatara Emas awatara pada zaman Kali yuga. (Power of Lord Vishnu)
 https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/6dded-kalki-avatar.png?w=282&h=320https://mahabhrata.files.wordpress.com/2014/10/38143-kalkiavatara.jpg?w=311&h=400
    28.      Kalki Awatara, sang pemusnah, muncul saat Kali Yuga (Incarnation of Lord VishnuDirect)

Siwa

Siwahttps://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/5/59/Shiva09.JPG/275px-Shiva09.JPG
Dewa pelebur, dewa pemusnah
Dewanagari: शिव
Ejaan Sanskerta: Śiva
Nama lain: Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra
Golongan: Dewa
Kediaman: Gunung Kailasha
Senjata: Trisula
Pasangan: Dewi Parwati, Dewi Uma,
Dewi Durga, Dewi Kali
Wahana: Lembu Nandini
Siwa (Sanskerta: शिव ;Śiva) adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
Karakteristik
Umat Hindu, khususnya umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni:
Bertangan empat, masing-masing membawa:
trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi
Bermata tiga (tri netra)
Pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit)
Ikat pinggang dari kulit harimau
Hiasan di leher dari ular kobra
Kendaraannya lembu Nandini
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih.
Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru.
Putra
Menurut cerita-cerita keagamaan yang terdapat dalam kitab-kitab suci umat Hindu, Dewa Siwa memiliki putra-putra yang lahir dengan sengaja ataupun tidak disengaja. Beberapa putra Dewa Siwa tersebut yakni:
Dewa Kumara (Kartikeya)
Dewa Kala
Dewa Ganesa
Lihat pula
Trimurti
Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) (sebutan Tuhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.
Trimurti terdiri dari 3 yaitu:
Dewa Brahma
Fungsi: Pencipta / Utpathi
Sakti: Dewi Saraswati yang merupakan dewi ilmu pengetahuan
Senjata: Gada
Simbol: A
Warna: Merah
Dewa Wisnu
Fungsi: Pemelihara / Sthiti
Sakti: Dewi Sri atau Dewi Laksmi
Senjata: Cakra
Simbol: U
Warna: Hitam
Dewa Siwa
Fungsi: Pelebur / Pralina
Sakti: Dewi Durga, Uma, dan Parwati
Simbol: M
Warna: Manca Warna
Apabila simbol dari ketiga dewa tesebut digabungkan, maka akan menjadi AUM yang dibaca “OM” ( ) yang merupakan simbol suci agama Hindu.

Ciranjiwin

Dalam Mitologi Hindu, Ciranjiwin (Sanskerta-tunggal: Ciranjivi; चिरंजीवी) adalah delapan makhluk abadi. Mereka adalah:
1.       Aswatama, manusia yang dikutuk oleh Kresna agar mengalami penderitaan abadi sampai akhir zaman Kaliyuga sehingga tidak memiliki rasa cinta terhadap siapapun karena membunuh kelima putra Pandawa dari yang sedang tidur dan berusaha membunuh cucu Arjuna (Parikesit) yang masih berada dalam kandungan.
2.      Hanoman, Wanara yang mengabdi kepada Rama.
3.      Kripacarya (Krepa), guru para pangeran dalam Mahabharata.
4.      Mahabali (raksasa Bali), Raja rakshasa yang menaklukkan surga, bumi, dan dunia bawah (patala), namun dipaksa oleh Wamana untuk menyerahkannya kembali.
5.      Markandeya, salah satu Resi muda yang kematiannya dicegah oleh Batara Siwa.
6.      Parasurama (Rama Parasu; Rama Bargawa), salah satu Awatara Wisnu. Seorang Brahmana yang memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni, hanya bisa dikalahkan oleh Bisma.
7.      Wibisana, adik Rawana yang diangkat menjadi Raja Alengka oleh Rama.
8.      Wyasa (Bagawan Byasa; Abyasa), orang suci yang mengisahkan Mahabharata, sekaligus orang suci yang diceritakan dalam kisah tersebut.
Terdapat beberapa tokoh lain yang dikenal sebagai Ciranjiwin. Namun dalam Agama Hindu, “abadi” tidak berarti kekal. Bahkan segala sesuatu yang abadi dihancurkan pada saat akhir dunia. Yang kekal hanyalah Brahma, Wisnu dan Siwa yang merupakan Trimurti yaitu penjelmaan dari Brahman (Yang mutlak memiliki sifat berada dimana-mana), Sheshanaga (Ular abadi), dan Catur Weda. Pada akhir alam semesta yaitu masa berakhirnya satu Kalpa dan dimulainya Kalpa yang lain, rakshasa Hayagriva mencoba untuk menjadi kekal dengan “menelan” Weda sebagaimana ia mencoba keluar dari mulut Brahma, namun Weda dikembalikan oleh Wisnu – Matsya Awatara

Brahma-Wisnu dan Shiwa

§  Brahma adalah Pencipta. Namanya dalam sanskrit berarti Supreme SPIRIT. Di gambarkan bermuka 4 (caturmuka), tangannya memegang kitab2 veda tanpa senjata
§  Vishnu adalah pelindung, pemelihara. Oknum ke 2 Trimurti, Sang Cahaya Abadi. Dikatakan berinkarnasi (lahir ke bumi) 10 kali. Raama dalam Raamayana adalah yang ke 7. Krishna dalam Mbh adalah ke 8. Buddha adalah yang ke 9. Inkarnasi ke 10 akan terjadi di akhir jaman dimana Vishnu turun sebagai Shri (English Sir) Kalki, sang penunggang kuda putih untuk menghadapi iblis Kali bersama jendral kembarnya Kok dan Vikok (Gog dan Magog?). Vishnu memegang senjata Chakram. Membawahi 12 dewa2 cahaya (Aditya) yang tinggal di 7 lapis langit yang disebut Svarga (heaven). Sesembahan sentral dari Solar Dynasty.Bermahkota dengan lambang matahari di belakang kepalanya.
§  Shivah adalah Penghancur, Sang Kegelapan. Memakai lambang bulan sabit di kepala, berkalung ular, membawa Trishula, membawahi 11 dewa perusak (Rudra) yang tinggal di Underworld yang disebut Naraka (Hell). Sesembahan tunggal Lunar Dynasty. Disebut juga sang Mahadeva (Supreme God)
Dalam cerita, Vishnu selalu lahir ke dunia untuk memerangi para pemuja Shiva, contoh inkarnasi ke 6, Parasurama membantai seluruh kshatriya kecuali yang dari Solar Dynasty.
Inkarnasi ke 7 Shri Raama, pangeran Solar Dynasty Ayodhya, bersekutu dengan ras non arya, Vanara, menyerbu Lanka, kerajaan rakshasa dengan rajanya Ravana yang berdarah Lunar arya (dari ayahnya Visravas). Ravana sendiri adalah pemuja Shiva no.1 pada jamannya. Raama pun berhasil membawa Ayodhya menegakkan dominasi Solar Dynasty di tanah Hindustan. (Kisah Raamayana)
Inkarnasi ke 8, di jaman kerajaan lunar Hastinapura (keturunan Maharaja Bharata dari Afganistan) berkuasa di Hindustan, dan kedudukan kerajaan2 Solar Dynasty sudah melemah, Vishnu pun lahir di tengah bangsa lunar keturunan Yadu (Yadava) sebagai Shri Krishna. Memanfaatkan konflik keluarga Hastina (sepupu 5 Pandav vs 100 Kaurav), mengadu domba sehingga pecah perang besar yang membunuh jutaan jiwa dan menghancurkan seluruh kekuatan militer Hastina. Krishna tak lupa menghancurkan militer bangsa Yadava dengan menempatkan mereka di pihak Kaurava. Hanya keturunan dari pandava ke 3, Arjun (ar-john), Parik-Seed yang dibiarkan hidup untuk memerintah sisa kerajaaan. (Ghatotkatch dan 5 anak Draupadi dibiarkan mati oleh Krishna secara langsung maupun tidak). Arjun adalah satu-satunya pandava yang mendapat wahyu dari Krishna (Bhagavad Gita), dan diberi penglihatan atas wujud Vishnu Nya. Dengan hampir punahnya populasi Kshatriya di akhir cerita, Mahabharata menandai berakhirnya dominasi Aryan Warrior Hindustan di dunia.


02 Kakawin Parthayajna dan Arjunawiwaha

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/pandawa2.jpg?w=535
Tujuh bidadari yang dipimpin oleh Dewi Suprabha (paling depan)
dan Dewi Tilottama (atas paling kanan) menggoda tapa Arjuna
(karya Herjaka HS 2005)

1. Kakawin Parthayajna
Kakawin Parthayajna (anonim), berisi cerita perjalanan Arjuna sebelum bertapa di Indrakila. Ringkasan isi ceritanya sebagai berikut:
Pandhawa bersedih hati karena kekalahan Yudhisthira waktu bermain dadu dan penghinaan Dropadi oleh Dusasana. Mereka harus hidup di hutan selama dua-belas tahun. Bhima ingin perang melawan Korawa dan mati di medan perang, tetapi Yudhisthira menahannya. Widura memberi nasihat kepadaYudhisthira dalam mengatasi penderitaan. Domya menasihati para Pandhawa sejak mereka akan pergi ke hutan. Atas permintaan Yudhisthira, Arjuna disuruh bertapa di Indrakila. Arjuna menyanggupi permintaan kakanya, kemudian ia minta diri kepada Ibunda Kunti, kakak dan adik-adiknya serta Dropadi, lalu masuk ke hutan. Perjalanan Arjuna tiba di pertapaan Wanawati yang didirikan oleh Mahayani. Di tempat itu Arjuna ditemui oleh petapi Mahayani dan di wejang tentang hidup dan kehidupan. Sewaktu bermalam seorang petapi datang dan menyatakan cinta kepada Arjuna, tetapi Arjuan menolaknya.
Arjuna menghadap dewa Kama dan Ratih yang berada di tepi sebuah danau, kemudian menghormatnya. Dewa Kama banyak memberi nasihat kepada Arjuna dalam hal mencari kebahagiaan. Kemudian Kama memberi petunjuk arah Indrakila dan tempat pertapaan Dwaipayana. Kama memberi tahu, bahwa raksasa Nalamala ingin mengadu kesaktian dengan Arjuna. Nalamala adalah anak Durga yang lahir dari ujung lidah sebelum beranak Ganesya. Bila kalah Arjuna supaya bersamadi memuja dewa Siwa. Tak berapa lama kemudian Kama lenyap, Arjuna melanjutkan perjalanan.
Arjuna dicegat oleh banyak raksasa dan Nalamala. Maka terjadilah perkelahian. Nalamala menampakkan diri dalam wujud Kala, Arjuna bersemadi memuja dewa Siwa. Memancarlah sinar pada dahi Arjuna, Nalamala lari dan berkata, kelak akan menjelma lagi, untuk membunuuh para Pandawa. Arjuna meneruskan perjalanan ke Indrakila. Sampailah ia di Inggitamartapada tempat tinggal Dwaipayana. Arjuna bercerita perilaku para Pandawa dan sikap para Korawa. Kakek Arjuna itu menerangkan, bahwa Arjuna diutus untuk memberantas kejahatan itu. Setelah menerima banyak nasihat dari kakek itu, Arjuna pergi ke Indrakila. Ia bertapa dan memeperoleh anugerah dari dewa Siwa yang menampakan diri sebagai orang Kirata. (Sumber Cerita:Naskah Kirtya No. 665)
2. Kakawin Arjunawiwaha
Kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa (Naskah Kirtya Nomor 1092) ditulis pada jaman Kediri. Isi ringkas cerita itu sebagai berikut:
Niwatakawaca raja Himataka ingin menghancurkan kerajaan Indra, Indra ingin minta bantuan kepada Arjuna yang sedang bertapa di Indrakila. Tujuh bidadari diutus untuk menguji keteguhan tapa Arjuna. Suprabha dan Tilottama memimpin tugas para bidadari itu. Tujuh bidadari menyusuri Indrakila, kemudian tiba di gua tempat Arjuna bertapa. Para bidadari berhias cantik, menggoda dan mencoba menggugurkan tapa Arjuna..usaha meraka tidak berhasil, para bidadari kembali ke kerajaan Indra, lalu melapor hasil tugas mereka kepada Indra.
Indra menyamar dalam wujud orang tua, datang di pertapaan Arjuna. Ia ingin mengethui tujuan tapa Arjuna. Lewat pembicaraan mereka, Indra memperoleh jawaban, bahwa tapa Arjuna bertujuan untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang ksatria dan ingin membantu Yudhisthira sewaktu merebut kerajaan dari kekuasaan Duryodhana. Indra sangat senang mendengar penuturan Arjuna, lalu memberi tahu, bahwa dewa Siwa akan memberi anugerah atas tapa Arjuna.
Niwatakawaca menyuruh Muka untuk datang di Indrakila, dan membunuh Arjuna. Muka dalam wujud babi hutan mengganggu tapa Arjuna. Arjuna melepas tapanya, lalu berusaha membunuh babi hutan itu. babi hutan berhasil dibunuh dengan panah. Tancapan panah di tubuh babi hutan bersama dengan tancapan anak panah seorang pemburu. Arjuna berselisih dengan pemburu orang Kirata itu. terjadilah perkelahian seru. Arjuna hampir terkalahkan, lalu memegang erat kaki pemburu. Pemburu menampakan diri dalam wujud dewa Siwa. Arjuna menghormat dan memujanya. Dewa Siwa menganugerahkan panah Pusupati kepada Arjuna, kemudian lenyap dari hadapan Arjuna.
Dua bidadari utusan Indra datang menemui Arjuna, minta agar Arjuna bersedia menolong para dewa dengan membunuh Niwatakawaca. Kemudian Arjuna bersama dua bidadari datang di kerajaan Indra.
Arjuna dan Supraba ditugaskan untuk mengetahui rahasia kesaktian Niwatakawaca. Mereka berdua pergi ke Himataka. Supraba disambut oleh bidadari yang lebih dahulu diserahkan kepada Niwatakawaca. Arjuna mengikutinya, tetapi raksasa tidak dapat melihat karena kesaktian Arjuna. Tipu muslihat Supraba berhasil, ia mengetahui rahasia kesaktian Niwatakawaca. Yang berada di ujung lidah. Setelah mengerti rahasia kesaktian Niwaatakawaca, Arjuna membuat huru-hara, dengan menghancurkan pintu gerbang istana. Suprabha terlepas dari kekuasaan Niwatakawaca, lalu meninggalkan Himataka. Niwatakawaca merasa kena tipu, lalu mempersiapkan pasukan untuk menyerang kerajaan Indra. Para dewa juga bersiap-siap melawan serangan prajurit Niwatakawaca. Maka terjadilah perang besar-besaran. Arjuna menyusup ditengah-tengah barisan, mencari kesempatan baik untuk membunuh Niwatakawaca. Akhirnya anak panah Arjuna berhasil menembus ujung lidah Niwatakawaca. Niwatakawaca mati di medang pertempuran. Perang pun selesai.
Arjuna memperoleh penghargaan dari para dewa. Ia dinobatkan menjadi raja selama tujuh hari surga, (tujuh bulan dunia) dan memperisteri tujuh bidadari. Mula-mula Arjuna kawin dengan Supraba, kemudian dengan Tilottama, dan selanjutnya lima bidadari lain yang pernah menggoda tapanya. Bidadari Menaka yang mengatur perkawinan mereka. Setelah genap tujuh bulan, Arjuan minta diri kepada dewa Indra untuk kembali ke dunia, menemui saudara-saudaranya.
Arjuna naik kereta diantar oleh Matali. Para bidadari menangis atas kepergiannya.
Sumber Cerita: Naskah Kirtya Nomor 1092
R.S Subalidinata

03 Kakawin Parthayana (Subhadrawiwaha)

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/pandawa3.jpg?w=535
Badannya penuh dengan bunga melati,
seribu luka di tubuh Abhimanyu tidak menyurutkan perlawannya.
(lukisan karya Herjaka HS )
3.Kakawin Parthayana atau Subhadrawiwaha (anonim)
Ringkasan isi cerita ‘Parthayana’ atau ‘Subhadrawiwaha’ sebagai berikut:
Arjuna bertemu Ulupuy di hulu sungai Gangga. Setelah lewat pembicaraan panjang, Arjuna memperisteri Ulupuy putri raja Korawa. Arjuna meninggalkan Ulupuy meneruskan perjalanan. Sewaktu tiba di permandian Swabhadra, Arjuna diserang oleh seekor buaya. Buaya itu dibunuh, lalu berubah menjadi bidadari. Atas permintaan bidadari itu Arjuna juga membebaskan empat bidadari lainnya. Sang bidadari menyarankan agar Arjuna pergi ke negara Mayura. Arjuna pun pergi ke Mayura, dan diterima oleh raja Citradahana. Arjuna diambil menantu oleh raja itu, dikawinkan dengan Citragandha. Arjuna dan Citragandha dikaruniai anak bernama Wabhruwahana yang kelak akan mewarisi kerajaan Mayura.
Arjuna melanjutkan perjalanan, tiba di tepi sungai Saraswati. Para Yadu mengadakan pesta. Oleh Kresna, Samba disuruh mengundang Arjuna. Arjuna menghadiri pesta bersama Kresna. Arjuna tertarik kecantikan Subhadra. Kresna mengetahui, lalu menyetujui bila Arjuna cinta dan mau melarikan Subhadra. Arjuna membawa lari Subhadra. Baladewa dan para Yadu marah, merasa dihina oleh Arjuna. Kresna menyadarkan mereka. Akhirnya Arjuna berhasil memperisteri Subhadra, lalu memboyongnya ke Indraprastha.
(Sumber Cerita: Naskah Kirtya Nomor 141)
4. Kakawin Bharatayudha
Kakawin Bharatayudha dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada jaman Jayabhaya. Isi ringkas cerita Bharatayudha sebagai berikut:
Kresna mewakili Pandawa datang di Hastina (Gajahwaya) untuk merundingkan pembagian kerajaan. Raja Dhrtarastra bersiap-siap dan menghias istana untuk menyambut kedatangan tamu.
Kresna datang di Hastina. Jamuan makan telah siap, tetapi Kresna tidak mau dijamu sebelum selesai perundingan.
Kresna mengunjungi Kunti, ibu para Pandhawa. Kunti menjadi sedih, dan teringat putra-putranya yang dibuang ke hutan. Kresna menghibur Kunti, lalu pergi menemui Widura. Duryodhana berunding dengan Sengkuni, Dussasana dan Karna. Mereka memandang Kresna sebagai musuh. Kresna diterima oleh Duryodhana di bangsal agung. Kresna minta agar perselisihan Korawa dan Pandawa diselesaikan dengan damai, negara Hastina dibagi dua. Dhrtarastra, para resi, Drona dan Bhisma menyetujui usul itu. Namun Duryodhana bersama keluarga Korawa menolak, dan akan membunuh Kresna. Mengetahui rencana Duryodhana dan para Korawa, Kresna segera meninggalkan bangsal agung. Kresna marah, lalu triwikrama, menampakkan diri sebagai Wisnu yang dahsyat dan menakutkan. Para Korawa ketakutan. Mereka memuja-muja agar tidak membinasakan keluarga Korawa. Kalau Korawa musnah, tidak akan terjadi perang. Jika demikian Bhima dan Dropadi tidak jadi membalas dendam.
Kresna meninggalkan Hastina, berpesan kepada Kunti agar yang telibat dalam perang bersikap jujur dan berjiwa kesatria, dan mau berkorban jiwa. Karna mengantar kepergian Kresna dari Hastina. Kresna dan Kunti minta agar Karna berpihak kepada Pandawa tetapi Karna tidak menerima bujukan mereka berdua.
Para Pandawa bersiap-siap untuk berperang. Mereka mendirikan perkemahan di Kurusetra. Widura dan Kunti mengunjungi perkemahan Pandhawa. Mereka mengangkat Sweta menjadi panglima tertinggi.
Korawa ikut bersiap-siap untuk berperang. Bhisma diangkat menjadi senopati. Pandawa dan Korawa mengumumkan perang dan mereka akan menaati peraturan perang.
Arjuna berkeberatan dan sedih hatinya, sebab harus berperang melawan saudara. Kresna memperingatkan Arjuna, bahwa perang adalah salah satu tugas dari ksatria.
Yudhisthira maju ke depan, saudara-saudaranya mengikuti dari belakang. Mereka menemui Korawa, lalu menghormat kepada bekas guru, terutama Bhisma, Krpa, Salya dan Drona. Mereka meminta maaf, karena terpaksa melawan pinisepuh yang seharusnya mereka hormati. Para guru meramal, bahwa Pandawa akan menang perang.
Pertempuran mulai, hebat pertempuran mereka. Dua putra raja Wirata gugur. Sweta membela kematian dua adiknya. Bhisma berhasil menghentikan perlawanan Sweta. Sweta dapat dibunuhnya. Raja Wiratha meratapi kematian tiga putranya.
Dhrtadyumna diangkat menjadi panglima menggantikan Sweta. Bhisma hebat memimpin pertempuran. Kresna akan melemparkan cakra, tetapi ditahan oleh Arjuna. Bhisma menyuruh agar Yudhisthira tampil ke medan perang, ia tidak akan melawan. Arjuna disuruh melawan Bhisma bersama Srikandi. Bhisma dihujani anak panah dan gugur di medan perang. Para Korawa mengerumuni jenasah Bhisma. Para Pandawa datang menghormat. Bhisma menghormat dengan hati ragu-ragu. Anak panah menopang bingkai Bhisma, sehingga tubuhnya tidak melekat di bumi. Dengan tenang Bhisma menanti kematiannya.
Prajurit Korawa dipimpin oleh Drona. Drona diangkat menjadi panglima. Mulailah pertempuran lagi. Bhogadata dapat ditewaskan oleh Arjuna. Drona berusaha menangkap Yudhisthira bila ia lepas dari pengawasan Bhima dan Arjuna. Ketika Korawa datang menyerang, Abhimanyu menembus barisan, dan ingin mendapatkan Doryudhana.
Para Pandawa tidak dapat mengawal Abhimanyu, karena Jayadrata berhasil menahan mereka. Abhimanyu dikerumuni Subhadra, Yudhisthira, kedua pamannya, Uttari dan Ksiti Sundari. Mereka meratapi kematian Abhimanyu. Arjuna dan Bhima datang kemudian. Mereka menjadi sedih, lalu ingin memperoleh kematian di medan pertempuran. Kresna menghalang-halangi kehendak mereka berdua.
Setelah mereka tahu bahwa kematian Abhimanyu karena Jayadratha, Arjuna ingin membalas kematian anaknya.
Jenasah Abhimanyu diperabukan, Ksiti Sundari mengikuti kematian suaminya. Sedangkan Uttari menanti kelahiran anaknya yang masih dalam kandungan.
Pertempuran berlangsung lagi. Arjuna menghancurkan kereta Doryudhana. Satyaki dan Bhima berhasil membunuh banyak keluarga Korawa. Bhurisrawa terkena panah Arjuna, lalu ditewaskan oleh Satyaki. Para Pandawa kelelahan, Kresna menolong mereka, dengan cara menutup matahari dengan awan. Korawa mengira hari telah malam, mereka berhenti menyerang Pandawa. Arjuna naik di atas kereta dan berhasil membunuh Jayadratha. Duryodhana menuduh Drona yang bersalah atas kematian Jayadratha, karena Drona menghalang-halangi ketika Jayadratha akan pulang. Karna bersedia mengganti kedudukan Jayadratha. Pratipeya atau Somadatta, ayah Bhurisrawa hendak membunuh Satyaki, tetapi ia terbunuh oleh Bhima.
R.S. Subalidinata

03 Kakawin Parthayana (Subhadrawiwaha)

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/pandawa3.jpg?w=535
Badannya penuh dengan bunga melati,
seribu luka di tubuh Abhimanyu tidak menyurutkan perlawannya.
(lukisan karya Herjaka HS )
3.Kakawin Parthayana atau Subhadrawiwaha (anonim)
Ringkasan isi cerita ‘Parthayana’ atau ‘Subhadrawiwaha’ sebagai berikut:
Arjuna bertemu Ulupuy di hulu sungai Gangga. Setelah lewat pembicaraan panjang, Arjuna memperisteri Ulupuy putri raja Korawa. Arjuna meninggalkan Ulupuy meneruskan perjalanan. Sewaktu tiba di permandian Swabhadra, Arjuna diserang oleh seekor buaya. Buaya itu dibunuh, lalu berubah menjadi bidadari. Atas permintaan bidadari itu Arjuna juga membebaskan empat bidadari lainnya. Sang bidadari menyarankan agar Arjuna pergi ke negara Mayura. Arjuna pun pergi ke Mayura, dan diterima oleh raja Citradahana. Arjuna diambil menantu oleh raja itu, dikawinkan dengan Citragandha. Arjuna dan Citragandha dikaruniai anak bernama Wabhruwahana yang kelak akan mewarisi kerajaan Mayura.
Arjuna melanjutkan perjalanan, tiba di tepi sungai Saraswati. Para Yadu mengadakan pesta. Oleh Kresna, Samba disuruh mengundang Arjuna. Arjuna menghadiri pesta bersama Kresna. Arjuna tertarik kecantikan Subhadra. Kresna mengetahui, lalu menyetujui bila Arjuna cinta dan mau melarikan Subhadra. Arjuna membawa lari Subhadra. Baladewa dan para Yadu marah, merasa dihina oleh Arjuna. Kresna menyadarkan mereka. Akhirnya Arjuna berhasil memperisteri Subhadra, lalu memboyongnya ke Indraprastha.
(Sumber Cerita: Naskah Kirtya Nomor 141)
4. Kakawin Bharatayudha
Kakawin Bharatayudha dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada jaman Jayabhaya. Isi ringkas cerita Bharatayudha sebagai berikut:
Kresna mewakili Pandawa datang di Hastina (Gajahwaya) untuk merundingkan pembagian kerajaan. Raja Dhrtarastra bersiap-siap dan menghias istana untuk menyambut kedatangan tamu.
Kresna datang di Hastina. Jamuan makan telah siap, tetapi Kresna tidak mau dijamu sebelum selesai perundingan.
Kresna mengunjungi Kunti, ibu para Pandhawa. Kunti menjadi sedih, dan teringat putra-putranya yang dibuang ke hutan. Kresna menghibur Kunti, lalu pergi menemui Widura. Duryodhana berunding dengan Sengkuni, Dussasana dan Karna. Mereka memandang Kresna sebagai musuh. Kresna diterima oleh Duryodhana di bangsal agung. Kresna minta agar perselisihan Korawa dan Pandawa diselesaikan dengan damai, negara Hastina dibagi dua. Dhrtarastra, para resi, Drona dan Bhisma menyetujui usul itu. Namun Duryodhana bersama keluarga Korawa menolak, dan akan membunuh Kresna. Mengetahui rencana Duryodhana dan para Korawa, Kresna segera meninggalkan bangsal agung. Kresna marah, lalu triwikrama, menampakkan diri sebagai Wisnu yang dahsyat dan menakutkan. Para Korawa ketakutan. Mereka memuja-muja agar tidak membinasakan keluarga Korawa. Kalau Korawa musnah, tidak akan terjadi perang. Jika demikian Bhima dan Dropadi tidak jadi membalas dendam.
Kresna meninggalkan Hastina, berpesan kepada Kunti agar yang telibat dalam perang bersikap jujur dan berjiwa kesatria, dan mau berkorban jiwa. Karna mengantar kepergian Kresna dari Hastina. Kresna dan Kunti minta agar Karna berpihak kepada Pandawa tetapi Karna tidak menerima bujukan mereka berdua.
Para Pandawa bersiap-siap untuk berperang. Mereka mendirikan perkemahan di Kurusetra. Widura dan Kunti mengunjungi perkemahan Pandhawa. Mereka mengangkat Sweta menjadi panglima tertinggi.
Korawa ikut bersiap-siap untuk berperang. Bhisma diangkat menjadi senopati. Pandawa dan Korawa mengumumkan perang dan mereka akan menaati peraturan perang.
Arjuna berkeberatan dan sedih hatinya, sebab harus berperang melawan saudara. Kresna memperingatkan Arjuna, bahwa perang adalah salah satu tugas dari ksatria.
Yudhisthira maju ke depan, saudara-saudaranya mengikuti dari belakang. Mereka menemui Korawa, lalu menghormat kepada bekas guru, terutama Bhisma, Krpa, Salya dan Drona. Mereka meminta maaf, karena terpaksa melawan pinisepuh yang seharusnya mereka hormati. Para guru meramal, bahwa Pandawa akan menang perang.
Pertempuran mulai, hebat pertempuran mereka. Dua putra raja Wirata gugur. Sweta membela kematian dua adiknya. Bhisma berhasil menghentikan perlawanan Sweta. Sweta dapat dibunuhnya. Raja Wiratha meratapi kematian tiga putranya.
Dhrtadyumna diangkat menjadi panglima menggantikan Sweta. Bhisma hebat memimpin pertempuran. Kresna akan melemparkan cakra, tetapi ditahan oleh Arjuna. Bhisma menyuruh agar Yudhisthira tampil ke medan perang, ia tidak akan melawan. Arjuna disuruh melawan Bhisma bersama Srikandi. Bhisma dihujani anak panah dan gugur di medan perang. Para Korawa mengerumuni jenasah Bhisma. Para Pandawa datang menghormat. Bhisma menghormat dengan hati ragu-ragu. Anak panah menopang bingkai Bhisma, sehingga tubuhnya tidak melekat di bumi. Dengan tenang Bhisma menanti kematiannya.
Prajurit Korawa dipimpin oleh Drona. Drona diangkat menjadi panglima. Mulailah pertempuran lagi. Bhogadata dapat ditewaskan oleh Arjuna. Drona berusaha menangkap Yudhisthira bila ia lepas dari pengawasan Bhima dan Arjuna. Ketika Korawa datang menyerang, Abhimanyu menembus barisan, dan ingin mendapatkan Doryudhana.
Para Pandawa tidak dapat mengawal Abhimanyu, karena Jayadrata berhasil menahan mereka. Abhimanyu dikerumuni Subhadra, Yudhisthira, kedua pamannya, Uttari dan Ksiti Sundari. Mereka meratapi kematian Abhimanyu. Arjuna dan Bhima datang kemudian. Mereka menjadi sedih, lalu ingin memperoleh kematian di medan pertempuran. Kresna menghalang-halangi kehendak mereka berdua.
Setelah mereka tahu bahwa kematian Abhimanyu karena Jayadratha, Arjuna ingin membalas kematian anaknya.
Jenasah Abhimanyu diperabukan, Ksiti Sundari mengikuti kematian suaminya. Sedangkan Uttari menanti kelahiran anaknya yang masih dalam kandungan.
Pertempuran berlangsung lagi. Arjuna menghancurkan kereta Doryudhana. Satyaki dan Bhima berhasil membunuh banyak keluarga Korawa. Bhurisrawa terkena panah Arjuna, lalu ditewaskan oleh Satyaki. Para Pandawa kelelahan, Kresna menolong mereka, dengan cara menutup matahari dengan awan. Korawa mengira hari telah malam, mereka berhenti menyerang Pandawa. Arjuna naik di atas kereta dan berhasil membunuh Jayadratha. Duryodhana menuduh Drona yang bersalah atas kematian Jayadratha, karena Drona menghalang-halangi ketika Jayadratha akan pulang. Karna bersedia mengganti kedudukan Jayadratha. Pratipeya atau Somadatta, ayah Bhurisrawa hendak membunuh Satyaki, tetapi ia terbunuh oleh Bhima.
R.S. Subalidinata

07 Kidung Sudamala

Kidung Sudamala

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/pandawa7.jpg?w=535
Ranini diruwat oleh Sadewa kembali menjadi Uma, Dewi yang sangat cantik jelita.
Atas jasa Sadewa, Uma memberi anugerah senjata dan memberi gsebutan Sadewa
dengan nama Suda Mala yang artinya menghapus wujud yang jahat.
karya Herjaka HS

Ranini datang menakut-nakuti Sadewa, tetapi Sadewa tidak ketakutan. Ranini minta belas kasihan kepada Sadewa, agar ia diruwatnya. Sadewa tidak mau karena tidak tahu cara meruwatnya. Ranini marah, Sadewa hendak dibunuh dengan kapak. Dunia menjadi gempar. Kebetulan Sang Hyang Narada berkeliling dunia, dilihatnya Sadewa yang terikat dan akan dibunuh oleh Ranini. Hyang Narada naik ke Kahyangan dan memberi tahu kepada Mahadewa dan Dewa Masno. Kemudian Mahadewa dan Hyang Narada menemui Batara Guru, memberi tahu tentang nasib Sadewa.
Batara Guru turun ke dunia menemui Sadewa. Sadewa disuruh meruwat Ranini, dan Batara Guru akan masuk ke tubuh Sadewa. Sadewa menyanggupinya. Ranini diminta memperhatikan perintahnya. Kapak minta dilepas dari tangan, lalu bersiap-siap untuk diruwatnya. Sadewa berdiri tegak memusatkan kesadaran, berdoa mengucapkan pujamantra. Ditaburkannya beras kuning, air suci dan bunga ke tubuh Ranini. Ranini menjadi cantik sekali. Wujud Durga hilang berubah menjadi wujud Uma yang cantik jelita, sempurna seperti dahulu kala.
Uma ke taman bercermin pada air telaga yang jernih. Ia menjadi gembira dan mengucapkan terimakasih kepada Sadewa, ia bersyukur hukumannya telah selesai. Ia merasa berhutang kepada Sadewa. Sadewa disebutnya Sang Sudamala, karena ia telah menghapus wujud yang jahat. Selanjutnya Sang Sudamala disuruh pergi ke Prangalas, tempat petapaan Tambapetra. Sadewa dianugerahi senjata lalu berangkat ke Prangalas.
Kalika minta diruwat juga, tetapi Sadewa tidak mau, Kalika menemui Semar, ia minta diruwatnya. Semar bersedia meruwat asal disediakan sajian sebakul nasi, satu daging anjing panggang dengan berbumbu, dan satu guci tuak. Tetapi kesanggupan Semar hanya tipuan belaka. Setelah semua permintaan di siapkan, segera dimakan habis oleh Semar. Kalika tidak diruwat, karena Semar tidak dapat meruwatnya.
Uma kembali ke Kahyangan, Kalika ditinggal di taman. Kelak Sadewa akan datang untuk meruwatnya.
Sadewa menemui Tambapetra. Tambapetra yang buta datang dibimbing oleh muridnya. Mereka menyongsong kedatangan Sadewa. Kedatangan Sudamala di petapaan atas perintah Uma, untuk menyembuhkan penyakit sang petapa. Sudamala melaksanakan perintah itu. Kemudian Sadewa, berdoa, bunga ditaburkan dan air suci dipercikan di tubuh sang petapa. Tak berapa lama kemudian penyakit sang petapa sembuh. Tambapetra dapat melihat dunia seisinya. Bukan main gembiranya. Dengan tergopoh-gopoh ia memanggil ke dua anaknya untuk disuruh menghormat kedatangan Sadewa.
Sirih pinang disuguhkannya, kemudian disusul hidangan tuak, air tape, nasi dan lauk pauk. Mereka makan bersama. Ke dua anak sang petapa bernama Ni Soka dan Ni Padapa diserahkan kepada Sadewa. Semar iri lalu berkata kepada sang petapa untuk minta diberi putrid seperti Sadewa. Petapa Tambapetra menuruti permintaan Semar. Semar diberi abdi wanita bernama Tohok.
Sadewa mempunyai saudara kembar yang bernama Sakula. Sejak kepergian Sadewa dari istana, Sakula terus mencarinya. Lalu Sakula pergi ke Setra Gandamayu. Ia berjumpa dengan Kalika. Kalika mengira bahwa yang datang adalah Sadewa untuk meruwat dirinya. Maka cepat-cepat Kalika menyongsong kedatangan Sakula. Sakula mengaku bahwa ia bukan Sadewa, tetapi saudara kembarnya. Maka kemudian Kalika bercerita tentang Sadewa, lalu menunjuk jalan yang menuju ke Prangalas.
Kedatangan Sakula di Prangalas disambut oleh Semar. Semar memberitahu kepada Sadewa. Sadewa cepat datang kemudian memeluk saudaranya. Soka dan Padapa diminta menemui Sakula. Sakula dijamu nasi beserta lauk pauk dan minuman. Sadewa memberi Soka untuk isteri Sakula.
Kalantaka dan Kalanjaya mengira Sadewa telah meninggal bersama Sakula. Mereka berunding untuk memusnahkan Bima, Arjuna dan Darmawangsa. Dilem dan Sangut diminta mempersiapkan prajurit. Perajurit Kalantaka hendak menyerang Pandawa bersama perajurit Korawa.
Arjuna meyongsong kedatangan musuh. Musuh yang datang dihujani anak panah, tetapi Kalantaka amat sakti. Bima datang membantu, tetapi musuh tidak terlawan juga. Bima dan Arjuna mundur dari medan perang. Sadewa dan Sakula datang ingin membantu saudaranya. Kunti amat gembira. Sadewa telah kembali. Kedua putra Pandawa itu bercerita perihal nasib mereka.
Kalanjana datang menyerbu, Sakula dan Sadewa menyongsong kedatangan musuh. Kalanjana mati oleh senjata Sadewa anugerah Uma. Kemudian Kalantaka juga mati oleh senjata sakti itu. Habislah perajurit Kalanjana.
Sakula dan Sadewa hendak kembali ke istana. Tiba-tiba datanglah dua bidadara menemui Sadewa. Dua bidadara itu tidak lain adalah Citragada dan Citrasena, yang semula dikutuk menjadi raksasa Kalantaka dan Kalanjana. Mereka telah diruwat oleh Sadewa dan berwujud seperti semula. Sabagai ucapan terimakasih kedua bidadara itu berdoa semoga keluarga Pandawa panjang usia, hidup bahagia dan sejahtera.
Citragada dan Citrasena kembali ke Kahyangan, Sadewa dan Sakula kembali ke istana, berkumpul dengan saudara-saudaranya.
Sumber Cerita: Kidung Sudamala, edisi P.V an Stein Callenfels, 1925
R.S. Subalidinata

Dakshina Kosala · Danda · Darada · Dasarna · Dravida · Dwaraka

Kerajaan Dakshina Kosala atau Kosala Selatan merupakan salah satu kerajaan India Kuno yang menjadi koloni para Raja Kosala dan diidentifikasi sebagai negara bagian Chattisgad. Ibu Sri Rama, Kosalya, berasal dari kerajaan tersebut.
Kerajaan Danda (alias Dandaka, kerajaan dan hutannya memiliki nama sama) adalah negara koloni Alengka di bawah pemerintahan Rahwana. Gubernur Rahwana bernama Kara memerintah provinsi tersebut. Wilayah itu adalah benteng pertahanan yang kuat bagi suku rakshasa yang hidup di hutan Dandaka. Wilayah ini meliputi distrik Aurangabad di Maharashtra dengan Janasthana (Kota Aurangabad) sebagai ibukotanya. Disinilah raksasa Kara menyerang Ragawa Rama dari Kosala, yang tinggal bersama istri dan adiknya di Pancawati (zaman sekarang disebut Nasik) , tidak jauh dari sana.
Referensi dalam Mahabharata
Meski Dandaka disebutkan dalam wiracarita Ramayana, dengan sangat detail, beberapa kemunculan kerajaan ini ditemukan dalam Mahabharata.
Kemenangan Sadewa
Sadewa, jenderal Pandawa, adik Raja Pandawa Yudistira, pergi ke wilayah selatan untuk mengumpulkan upeti untuk upacara Rajasuya yang diselenggarakan Sang Raja.
Sadewa, setelah mengumpulkan berlian dan permata dari Raja Rukmini (memerintah di ibukota kedua Kerajaan Widarbha, bernama Bhojakata), melanjutkan perjalanan ke selatan. Di sana ia menaklukkan wilayah Surparaka, Talakata, dan juga Dandaka.
Kerajaan Darada merupakan kerajaan suku Darada yang mendiami lembah Kashmir sebelah utara. Kerajaan tersebut diidentifikasikan sebagai wilayah Gilgit di Kashmir sepanjang sungai Sindhu atau Indus. Kerajaan tersebut muncul dalam kisah epik Mahabharata yaitu ketika Arjuna sedang dalam misi mengumpulkan upeti untuk mendukung upacara Rajasuya yang diselenggarakan Raja Yudistira.
Kerajaan Darada juga muncul dalam kitab-kitab Purana bersama dengan kerajaan Kamboja, China, Tushara, Bahlika, dll. Menurut Bhuwanakosha dalam kitab Purana, kerajaan Darada, Kamboja, Tushara, Bahlika, Lampaka, dan lain-lain dimasukkan ke dalam bagian Uttarapatha pada zaman India Kuno.
Kerajaan Dasarna merupakan salah satu kerajaan yang diperintah oleh Wangsa Yadawa di India Tengah dan Barat. Kerajaan ini terletak di selatan Chedi dan Panchala, di sebelah utara Madhya Pradesh. Di wilayah India Barat, ada kerajaan Dasarna lain bersama dengan Siwi, Trigarta, Malawa Barat dan Amwastha, di provinsi Punjab, Pakistan.
Dalam Mahabharata, Srikandi — pangeran Panchala — menikahi puteri Raja Dasarna. Namun Srikandi seorang waria. Hal ini menimbulkan pertentangan antara kerajaan Dasarna dan Kerajaan Panchala.
Kerajaan Dravida
Kerajaan Dwaraka adalah sebuah kerajaan yang didirikan wangsa Yadawa setelah melepaskan diri dari Kerajaan Surasena karena diserbu oleh raja Jarasanda dari Magadha. Kerajaan ini diperintah oleh Krishna Wasudewa selama zaman Dwapara Yuga. Wilayah Kerajaan Dwaraka meliputi Pulau Dwaraka, dan beberapa pulau tetangga seperti Antar Dwipa, dan sebagian wilayahnya berada di darat dan berbatasan dengan negeri tetangga yaitu Kerajaan Anarta. Wilayah tersebut terlihat seperti negara Yunani yaitu negeri dengan pulau-pulau kecil dan sebagian berupa wilayah daratan. Kerajaan Dwaraka kira-kira terletak di sebelah Barat Laut Gujarat. Ibukotanya bernama Dwarawati (dekat Dwarka, Gujarat).

06 Kitab Nawaruci dan Kitab Sudamala

Kitab Nawaruci dan Kitab Sudamala

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/pandawa6.jpg?w=535
Bima bertempur dengan Naga Nemburnama, ketika mencari air suci
(karya Herjaka HS 1995)

Werkodara telah tiba di samodera, ia mengenakan aji Pangawasa. Menjadi gempar seisi dunia. Sang Hyang Nawaruci kasihan melihat Wrkodara. Wrkodara ditolong agar terlepas dari bahaya di lautan. Sang Hyang Nawaruci mencipta pulau Nusakambangan di tengah samodera. Buah-buahan dan pohon-pohonan diciptakan di pulau itu juga. Wrkodara makan buah-buahan. Pulau itu diperindah dengan berbagai tanaman telaga dengan ikannya. Sang Hyang Acintya mencipta bermacam-macam makanan, Wrkodara senang menikmati makanan itu. Si dalang dan Semar mengikutinya.
Sang Hyang Acintya bersanjak, menyambut kehadiran Wrkodara. Ia memberi tahu, supaya Wrkodara berhati-hati dan waspada, karena ia sedang dicari kematiannya. Wrkodara menghadap Nawruci dan berkata, bahwa ia disuruh mencari air suci. Nawaruci menyuruh agar Wrkodara mau berperang. Citrasena, Citranggada, Citraratha dan Gandharwa akan menemaninya. Nawaruci memberi ajaran hidup dan kehidupan.
Kemudian Wrkodara bertanya kepada Nawaruci tentang pencipta dunia, hakekat kesucian yang disebut sunya dan yang disebut Sang Hyang Guru. Wrkodara disuruh masuk ke rongga perut Nawaruci. Mula-mula ia melihat cahaya terang. Waktu menghadap ke Timur dilihat warna putih, waktu menghadap ke Selatan dilihat warna merah, waktu menghadap ke Barat dilihat warna kuning, waktu menghadap ke Utara dilihat warna hitam, waktu melihat ke atas dilihat warna belah.
Setelah menerima banyak penjelasan Wrkodara keluar dari rongga perut. Setelah itu Wrkodara mendapat sebutan Sang Awirota.
Selama menjelajah di Pulau Nusakambangan Wrkodara banyak berguru dan memperoleh banyak pengetahuan tentang religi dan kebudayaan. Kemudian Wrkodara kembali menemui saudara-saudaranya di Indraprastha. (Sumber Cerita : Nawaruci edisi Prijihoetomo)
Kitab Kidung Sudamala
Cerita Sudamala berisi cerita ruwatan yang melibatkan tokoh Pandawa, terutama Sadewa. Isi ringkas cerita itu sebagai berikut: Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wisesa dan Sang Hyang Asiprana menghadap Sang Hyang Guru memberi tahu, bahwa Dewi Uma berbuat serong dengan Sang Hyang Brahma. Dewi Uma lalu dikutuk berubah menjadi Durga, dan diberi nama Ranini.
Uma minta dikembalikan ke wujud semula, tetapi Sang Hyang Guru menolak. Dikatakannya,setelah menjalani kutuk selama dua belas tahun Ranini akan diruwat oleh Sadewa. Uma pergi ke Setra Gandamayu. Salah satu abdi pengiringnya bernama Kalika.
Sementara itu Dewa Citragada dan Citrasena juga dikutuk oleh Sang Hyang Guru, karena berbuat tidak sopan terhadap Sang Hyang Guru. Dua dewa itu menjadi berujud raksasa, bernama Kalantaka dan Kalanjana. Mereka berdua kemudian disuruh menyusul untuk menemani Ranini di Setra Gandamayu. Oleh Ranini dua raksasa tersebut diangkat menjadi anak dan membantu Duryodana, raja Hastina.
Mengetahui bahwa Kalantaka dan Kalanjana berpihak pada Duryodana, Pandawa menjadi cemas, Kunthi naik ke Kahyangan, minta agar Kalantaka dan Kalanjana dimusnahkan.
Setelah dua belas tahun, Ranini mengharap kedatangan Sadewa yang dijanjikan akan meruwatnya. Kunti datang di Setra Gandamayu, minta agar Ranini mau memusnahkan Kalantaka dan Kalanjana. Ranini tidak bersedia, karena amat sayang kepada mereka berdua yang diangkatnya sebagai anaknya.
Ranini minta agar Kunti menyerahkan Sadewa, tetapi Kunti tidak bersedia menyerahkannya, karena Sadewa bukan anaknya. Sebagai ganti, Ranini boleh memilih diantara tiga anaknya yaitu: Dananjaya, Bima atau Darmawangsa. Tetapi Ranini tidak menyukai mereka, kecuali Sadewa.
Kalika disuruh membujuk Kunti. Mula-mula Kalika tidak mau, karena dipaksa akhirnya mau juga. Kunti disihir oleh Kalika, lalu menjadi setengah sakit ingatan Kunti kemudian lari menemui Ranini. Ranini mendesak agar Sadewa segera diserahkan. Kunti kembali menemui anak-anaknya, lalu bercerita tentang permintaan Ranini. Para Pandawa tidak setuju. Kunti marah, Sadewa diseret hendak dibawa ke Setra Gandamayu. Kalika merasa berhasil lalu keluar dari tubuh Kunti. Kunti menjadi sadar lalu minta maaf kepada Sadewa.
Sadewa tidak jadi dibawa di tempat Ranini. Durga marah. Kalika disuruh merasuki Kunti lagi, sehingga Kunti kembali goncang ingatannya. Sadewa dipaksa ikut pergi ke Setra Gandamayu. Sesampainya di Setra Gandamayu, Sadewa diikat pada pohon randu, dan ditunggu oleh Semar. Kalika jatuh cinta pada Sadewa dan membujuk Sadewa agar mau menerima cintanya. Namun Sadewa tidak mau menanggapi, dan lebih baik mati dari pada membalas cinta Kalika. Kalika marah, ditabuhnya tong-tong yang ada disekitarnya. Tak lama kemudian, hantu-hantu keluar bedatangan menakut-nakuti Sadewa. Namun Sadewa tidak takut, bahkan dari tubuhnya mengeluarkan daya kesaktian yang luar biasa. Semua hantu yang menggoda pergi meninggalkan Sadewa.
R.S. Subalidinata

05 Pandawa Muksa

Pandawa Muksa

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/pandawa5.jpg?w=535
Satu-persatu Pandawa meninggal di Gunung Himalaya,
tinggal Yudhisthira dan anjingnya.
( cat poster pada kertas, 80 x 60 cm karya Herjaka 1993)
Pandawa kembali ke perkemahan untuk merayakan hasil kemenangan perangnya. Kresna sedih memikirkan kutukan Duryodhana bahwa Pandawa akan tertindas sebelum kematiannya. Oleh karena itu para Pandawa disuruh segera menyelamatkan diri masuk dalam kemah, dan pada malam hari supaya menebus dosa-dosa dengan memuja ke tempat suci.
Pada malam hari Aswatthama berusaha membalas kematian ayah dan para Korawa. Dalam malam gelap itu Aswatthama berhail membunuh lima anak Dropadi yaitu Pancala dan beberapa laki-laki.
Para Pandawa yang datang ke kemah menemukan wanita yang dilanda kesedihan, Dropadi patah hati. Kresna datang menghiburnya. Demikian juga Wiyasa yang telah tiada muncul memberi nasihat kepadanya. Dropada akan membalas kejahatan Aswatthama. Ia meminta Pandawa membawa mutiara yang menghias di dahi Aswatthama. Para Pandawa mencari Aswatthama. Setelah bertemu, Aswatthama akan dibunuh dengan gada. Aswatthama mengangkat panah Brahmasirah yang amat sakti. Arjuna pun mengangkat panah saktinya. Namun Sang Hyang Siwa menyuruh agar mereka menarik panah saktinya. Arjuna menurut tetapi Aswatthama tidak dapat menahan panah saktinya. Anak panah Aswatthama lepas mengenai anak Utari yang masih dalam kandungan. Bayi dalam kandungan lalu dihidupkan oleh Kresna. Setelah dewasa bayi itu akan menjadi raja dengan nama Parikesit. Dropadi menerima mutiara, lalu diberikan kepada Yudhisthira. Yudhisthira lalu menjadi raja di Indraprastha. (Sumber cerita: Bharatayudha edisi Prof. Dr. R. M. Sutjipto Wirjosuparto)
5. Cerita Pandawa Muksa
Cerita tentang Pandawa sesudah perang Bharatayudha yang dimuat dalam Prasthanikaparwa, dilanjutkan kematian dan perlindungan mereka di surga. Isi pokok cerita itu sebagai berikut:
Para Pandawa akan meninggalkan kota Hastina menuju ke hutan. Parikesit diangkat menjadi raja Hastina. Yudhisthira, Bhima, Arjuna, Nakula, Sahadewada dan Dropadi meninggalkan istana. Seekor anjing mengikutinya. Atas perintah Dewi Agni, Arjuna membuang senjatanya di laut. Perjalanan mereka mendaki Gunung Himalaya, lalu melewati gurun pasir. Dropadi, Sahadewa, Nakula, Arjuna dan Bhima berturut-turut meningal dunia. Tinggal Yudhisthira dan anjing yang masih hidup. Dewa Indra dengan kereta membawa Yuhisthira dan anjingnya yang telah menjadi dewa Dharma menuju ke surga. Sesampainya di surga, Yudhisthira heran karena tidak menemukan saudara-saudaranya dan Dropadi. Yang ditemukan justru warga Korawa dan para pahlawannya. Yudhisthira melihat mereka, tetapi tidak mau berkumpul dengan mereka. Ia kecewa, merasa dewa berbuat tidak adil. Dewa Narada menjelaskan bahwa Korawa harus menerima anugerah sesuai dengan amal baiknya, Pandawa harus tinggal di neraka. Yudhisthira ingin mencari saudara-saudaranya, ia ingin suka dan duka bersama. Para dewa mengetahui sikap Yudhistira yang ingin tinggal bersama saudara-saudaranya. Para Pandawa harus menebus dosa-dosanya. Mereka harus turun ke Sungai Gangga untuk menyucikan diri. Sesudah menjadi suci, mereka naik ke surga menggantikan Korawa.
(Sumber cerita: Drie Boeken van het Oudjavaasnche Mahabharata. Edisi Hendrik Herman Juynboll, 1893)
Kitab Jawa Tengahan yang mengisahkan tokoh Pandawa
yaitu: Kitab Nawaruci
Kitab Nawaruci mengisahkan Wrkodara atau Bhima ketika mencari air suci. Isi ringkas cerita itu sebagai berikut:
Druyodana menginginkan kematian para Pandawa, lalu minta agar Dang Hyang Drona mengusahakannya. Wrkodara disuruh mencari banyu mahapawitra yang berada di sumur Dorangga. Wrkodara berangkat dari Gajahoya. Perjalanannya melalui tempat berbahaya, tebing dan jurang. Wrkodara sampai di sumur Dorangga, tetapi tidak menemukan air suci. Ular jantan dan betina tinggal di dalam sumur itu. Wrkodara digigit ular, segera ia menusuk ular itu dengan kukunya. Kepala ular dipotong, dibawa kembali ke Gajahoya. Sepasang ular naga berubah menjadi bidadara dan bidadari bernama Harsanandi dan Sarasambadha. Mereka mengucap terima kasih lalu kembali ke Suralaya..
Wrkodara tiba di Gajahoya, menghadap Drona dan menyerahkan dua kepala naga. Wrkodara memberi tahu bahwa di sumur Dorangga tidak berisi air suci. Drona berkata bahwa air suci berada di tegal Andawa. Wrkodara diminta segera berangkat ke tegal itu.
Di tegal Andawa Wrkodara disambut oleh raksasa Indrabahu. Indrabahu hendak makan Wrkodara, terjadilah perkelahian hebat. Indrabahu kalah, kepalanya dipenggal, dipikul oleh Gagakampuhan dan Twalen. Indrabahu berubah menjadi dewa Indra. Indra berterima kasih atas jasa Wrkodara, lalu kembali ke Suralaya.
Wrkodara kembali ke Gajahoya, kepala Indrabahu diserahkan kepada Sang Hyang Drona. Druyodana dan Drona lari ketakutan. Wrkodara mengejarnya. Drona berkata, bahwa air suci berada di dasar laut.
Wrkodara berangkat ke samodra. Setelah sampai di samodra segera akan mencebur di dalamnya. Gagakampuhan menasihati, Wrkodara diminta kembali ke Indraprastha, menghadap Dharmawangsa, Kunti, Dropadi, Arjuna, Nakula atau Sakula dan Sahadewa. Wrkodara berpamitan, kemudian mencari air suci. Kunti menghalang- halanginya. Ujung kain Wrkodara dipegang kuat-kuat, tetapi lepas dikebas Wrkodara. Warga Pandawa yang ditinggal pun menagisi kepergian Wrkodara.
R.S. Subalidinata

Abhira-Andhra-Asmaka-Awanti

Kerajaan Abhira merupakan salah satu kerajaan India Kuno yang berada di lembah Sungai Saraswati dan muncul dalam kisah epik Mahābhārata. Setelah kehancuran Dwaraka, pada saat Arjuna menyuruh para wanita Dwaraka menuju Indraprastha, suku Abhira menyerangnya dan merampas segala harta benda serta wanita.
Kerajaan Andhra merupakan salah satu kerajaan yang muncul dalam Mahābhārata, diperintah oleh para Raja yang tidak menganut kebudayaan Veda. Kerajaan ini berada di wilayah India Selatan. Nama negara bagian Andhra Pradesh di India diduga berasal dari kerajaan tersebut.
Kerajaan Asmaka merupakan salah satu kerajaan di antara 16 Mahajanapada yang muncul dalam sastra Buddha. Beberapa orang menganggap bahwa Asmaka merupakan koloni dari Kamboja, dan pada mulanya bernama Aswaka. Kitab Mahābhārata menampilkan sosok Raja bernama Asmaka yang diangkat menjadi putera oleh Saudasa alias Kalmashapada, Raja Kosala dan pemimpin dari Wangsa Ikshwaku.
Kerajaan Awanti merupakan salah satu kerajaan Wangsa Yadawa di India Tengah dan Barat. Didirikan oleh salah satu Raja Wangsa Yadawa. Ujjayani (Ujjain, Madhya Pradesh) adalah ibukotanya, di sisi sungai Kshipra, cabang dari sungai Charmanuati, yang merupakan cabang sungai Gangga. Kota Ujjayani pada masa lampau sekarang dikenal sebagai Ujjain, kota yang ramai di Madhya Pradesh. Wasudewa Krishna dan Balarama menuntut ilmu di Ujjayani, yang mungkin merupakan kota Wangsa Yadawa yang terkenal sekaligus merupakan pusat pendidikan.

Alengka

Kerajaan Abhira · Alengka · Anarta · Andhra · Anga · Anupa · Asmaka · Awanti
Kerajaan Abhira merupakan salah satu kerajaan India Kuno yang berada di lembah Sungai Saraswati dan muncul dalam kisah epik Mahābhārata. Setelah kehancuran Dwaraka, pada saat Arjuna menyuruh para wanita Dwaraka menuju Indraprastha, suku Abhira menyerangnya dan merampas segala harta benda serta wanita.
Kerajaan Alengka
Kerajaan Alengka atau Lanka (Sansekerta:
लंका ; “lankā”, berarti “pulau”) adalah nama sebuah kerajaan pada sebuah pulau di selatan India yang diperintah oleh Raja Rawana pada zaman Ramayana. Pada zaman sekarang, kerajaan tersebut dikenal dengan nama Sri Lanka. Kerajaan tersebut dibentengi oleh sebuah plato di antara tiga puncak gunung yang dikenal sebagai Gunung Trikuta. Puncak yang tertinggi dari gunung tersebut dikenal dengan puncak Adam. Ibukota Kerajaan Alengka pada zaman kuno pernah dibakar oleh Hanuman.
Setelah Rawana dibunuh oleh Rama Ragawa, tahta kerajaan tersebut diserahkan kepada adik Rawana, Wibisana. Setelah itu, tahta kerajaan selalu dipegang oleh keturunannya, bahkan sampai pada zaman Mahabharata. Dalam kisah Mahabharata, Sahadewa mengunjungi negeri tersebut untuk mengambil upeti dalam rangka mendukung upacara Rajasuya yang diselenggarakan oleh Raja Yudistira.
Dalam pewayangan Jawa, kerajaan Alengka sering dieja dengan nama Ngalengkadiraja. Kerajaan ini identik dengan Rahwana, tokoh antagonis dalam Ramayana.
Raja Pertama
Raja pertama Alengka adalah Prabu Hiranyakasipu. Ia terlibat peperangan melawan Sri Maharaja Sunda, yaitu raja Jawa Barat penjelmaan Batara Brahma. Hiranyakasipu akhirnya mati di tangan Sri Maharaja Suman, penjelmaan Batara Wisnu.
Hiranyakasipu kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Banjaranjali, yang menyerah kepada Brahma dan Wisnu.
Raja Terakhir
Raja terakhir Alengka adalah Rahwana. Karena ulahnya menculik Sinta istri Rama, ia pun mengalami kehancuran. Sepeninggal Rahwana, takhta Alengka jatuh ke tangan adiknya, yaitu Wibisana. Sesuai tradisi Jawa bahwa istana lama yang telah dirusak musuh pantang untuk ditempati, maka ia pun membangun istana baru bernama Singgelapura.
Sejak pemerintahan Wibisana, kerajaan Alengka pun berganti nama menjadi Kerajaan Singgelapura.
Kerajaan Anarta
Kerajaan Andhra merupakan salah satu kerajaan yang muncul dalam Mahābhārata, diperintah oleh para Raja yang tidak menganut kebudayaan Veda. Kerajaan ini berada di wilayah India Selatan. Nama negara bagian Andhra Pradesh di India diduga berasal dari kerajaan tersebut.
Kerajaan Angga merupakan kerajaan yang dipimpin oleh penguasa yang tidak menganut ajaran Veda. Kerajaan Anga muncul dalam kisah epik India yaitu Ramayana dan Mahabharata. Dalam Ramayana, Raja Lomapada dari Anga merupakan teman dari Raja Dasarata dari Kosala. Dalam Mahabharata, Duryodana menetapkan Karna sebagai Raja di Anga. Dipercaya bahwa ada banyak Raja memerintah bagian yang berbeda-beda dari Kerajaan Anga. Champapuri merupakan ibukota Anga ketika dipimpin oleh Karna.
Kerajaan Anupa
Kerajaan Asmaka merupakan salah satu kerajaan di antara 16 Mahajanapada yang muncul dalam sastra Buddha. Beberapa orang menganggap bahwa Asmaka merupakan koloni dari Kamboja, dan pada mulanya bernama Aswaka. Kitab Mahābhārata menampilkan sosok Raja bernama Asmaka yang diangkat menjadi putera oleh Saudasa alias Kalmashapada, Raja Kosala dan pemimpin dari Wangsa Ikshwaku.
Kerajaan Awanti merupakan salah satu kerajaan Wangsa Yadawa di India Tengah dan Barat. Didirikan oleh salah satu Raja Wangsa Yadawa. Ujjayani (Ujjain, Madhya Pradesh) adalah ibukotanya, di sisi sungai Kshipra, cabang dari sungai Charmanuati, yang merupakan cabang sungai Gangga. Kota Ujjayani di masa lampau sekarang dikenal sebagai Ujjain, kota yang ramai di Madhya Pradesh. Wasudewa Krishna dan Balarama menuntut ilmu di Ujjayani, yang mungkin merupakan kota Wangsa Yadawa yang terkenal sekaligus merupakan pusat pendidikan.

Anga

Kerajaan Anga atau Angga merupakan kerajaan yang dipimpin oleh penguasa yang tidak menganut ajaran Veda. Kerajaan Angga muncul dalam kisah epik India yaitu Ramayana dan Mahabharata. Dalam Ramayana, Raja Lomapada dari Anga merupakan teman dari Raja Dasarata dari Kosala. Dalam Mahabharata, Duryodana menetapkan Karna sebagai raja di Angga. Dipercaya bahwa ada banyak raja memerintah bagian yang berbeda-beda dari Kerajaan Angga. Champapuri merupakan ibukota Angga ketika dipimpin oleh Karna.
Dalam kisah pewayangan Jawa, diceritakan bahwa Adipati Karna berkedudukan di negeriAwangga, setelah merebutnya dari raja raksasa bernama Kalakarna

(12) Batari Kuda Bersayap

Isyarat kuda bersayap itu jelas, aku diminta duduk di punggungnya.
Aku coba menuruti keinginannya. Siapa tahu aku diterbangkan ke tanah Jawa.
Sejenak setelah duduk dipunggungnya, sayapnya digepakan, ia terbang melintas samodra. Aku terkejut, berpegang lehernya erat-erat, takut akan jatuh. Kuda Bersayap mengurangi kecepatan. Ia tahu, aku ketakutan.
Beberapa waktu kemudian, aku mulai tenang, dan berani menebarkan pandangan. Oh betapa indahnya pemandangan di atas awan.
Mega berarak laksana kapas putih terbang ditiup seribu bidadari jelita. Air laut bagaikan beludru biru, selimut para Dewa.
Dari kejauhan aku melihat daratan. Itulah tanah Jawa, tempat Begawan Abiyasa tinggal. Semakin dekat tampaklah, bahwa daratan itu sangat subur.
Tanpa aku perintah, Kuda bersayap mulai merendahkan terbangnya, dan mendarat dengan lembut di tanah Jawa.
Benar-benar aneh, ia tahu tujuanku.
Aku heran dengan kejadian yang baru saja aku alami. Apakah aku sedang bermimpi? Tidak! Ini alam nyata. Aku telah berdiri di tanah Jawa. Dan kuda bersayap itu telah menolongku. Tampaknya Kuda bersayap itu tidak peduli.bahwa aku masih keheranan, ia berjalan meninggalkan aku.
Beberapa langkah kemudian, ia berhenti dan menoleh kepadaku.
Aku mulai mengerti isyaratnya, bahwa aku diminta mengikutinya. Aku penasaran, akan ku ikuti ke mana ia melangkah. Apa yang diinginkannya?
Ku perhatikan dari belakang, langkahnya gemulai, bak putri raja. Ooh! kuda itu betina
Tidak lama kemudian kami sampai di tengah taman aneka bunga indah. Tempat ini sangat romantis. Siapa pun orangnya akan merasa nyaman berada di tempat ini, terutama bagi sepasang remaja.
Ah jika aku ditemani seorang bidadari, alangkah bahagianya.
Aku dapat memadu kasih sepuasnya tanpa ada yang menggangu.
Selagi aku mengkhayal layaknya seorang jejaka yang kesepian, mulut kuda betina menyentuh punggung tanganku dengan lembut. Aku terkejut. Kutarik tanganku cepat-cepat. Kuda betina kecewa dengan perlakuanku. Dari sorot matanya tampak kesedihan itu. Aku menyesal telah melakukannya dengan kasar. Seharusnya aku elus-elus dahinya, seperti yang aku lakukan terhadap kuda-kudaku di Hargajembangan.
Aku dekati kuda bersayap tersebut. Aku elus dahinya, kepalanya dan lehernya dengan lembut. Matanya yang sedih menjadi berbinar penuh kebahagiaan.
Hari-hari berlalu tanpa ada niatan meninggalkan tempat itu. Aku semakin akrab dengannya.
Pada suatu malam antara sadar dan mimpi, di sebuah taman bunga nan elok indah, sayup-sayup terdengar suara kidung malam yang menghanyutkan. Ada suasana romantis, sakral, agung berbaur menjadi satu. Aku tidak dapat menceritakannya dalam wujud kata-kata keelokan malam itu. Di tempat tersebut, aku bertemu dengan seorang batari jelita, Wilutama namanya. Kami berdua saling mencurahkan kasih.
Kasih antara sepasang pria dan wanita.yang jatuh cinta.
Kasih antara suami dan istri.
Ketika kami puas meneguk kenikmatan.
Aku tersadar. Tidak jauh dariku, mata kuda bersayap itu menatapku.
Berdesir hatiku melihat sorot matanya. Benarkah sorot mata Batari Wilutama?
Apa yang terjadi dengan diriku dan Kuda bersayap?
Aneh, gaib, penuh misteri.
Semenjak peristiwa tersebut, aku semakin menyayangi Kuda bersayap. Karena di dalam sorot matanya aku diingatkan kepada Sang Batari Wilutama.
Tanpa pernah aku tahu kapan mengandungnya. Tiba-tiba secara ajaib kuda bersayap itu melahirkan seorang bayi, wajahnya mirip aku.
Anakku kah ini?
“Benar. Itu anak kita.”
Aku terkejut mendengar suara lembut merdu.
Astaga! Batari Wilutama? Mimpikah aku?
“Akulah Kuda bersayap itu. Bertahun-tahun aku menjalani kutukan dewa. Aku akan pulih menjadi Batari, jika dapat melahirkan manusia. Pertemuan kita merupakan akhir penantianku yang panjang. Aku menjadi bathari seperti semula.”
“Wilutama, aku mencintaimu. Kita akan membangun rumah tangga yang tentram damai, untuk bersama-sama mendampingi anak kita.” Maafkan kakang, kita tidak mungkin bersatu. Aku segera kembali ke kahyangan. Karena jika tidak, pasti aku mendapat hukuman yang lebih berat.”
“Mengapa pertemuan kita hanya sekejap, seperti mimpi?
“Sesungguhnya, hidup ini adalah sebuah mimpi. Memang hanya sekejap, namun sangat berarti. Pertemuan ini telah melahirkan sejarah baru, Seorang bayi buah cinta kita. Namakan ia Aswatama. Jika ada kesulitan dengan anak ini, sebut namaku dan aku akan menolong.”
“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?”
Terimalah tusuk konde ini, sebagai tanda cintaku. Jika engkau rindu padaku kecuplah benda ini, maka rindumu akan terpuaskan.”
Sekejap kemudian, setelah aku terima benda pusaka pemberiannya, Batari Wilutama lenyap secara gaib.
Sedih, kecewa, menyesal bercampur menjadi satu.
Sang Batari telah merampas cintaku.
Sebagai jejaka belia aku tak kuasa menanggungnya.
Apakah aku kuwalat terhadap orang tua?
Oh Aswatama, menangislah keras-keras agar ibumu mengurungkan niatnya meninggalkan kita.
Aku berteriak keras, Wilutamaaa…!
Aku gendong anakku, aku kudang sepanjang jalan .
Tak gentung-gentung jleng. Tak tak, tak tak tak jleng.

Dhammapada

Dhammapada (bahasa Pali) atau Dharmapada (bahasa Sanskerta) merupakan salah satu kitab suci Agama Buddha dari bagian Khuddaka Nikāya, yang merupakan salah satu bagian dari Sutta Pitaka. Dhammapada terdiri dari 26 vagga (bab) atau 423 bait.
Bab
§  1 YAMAKA VAGGA
§  2 APPAMADA VAGGA
§  3 CITTA VAGGA
§  4 PUPHA VAGGA
§  5 BALA VAGGA
§  6 PANDITA VAGGA
§  7 ARAHANTA VAGGA
§  8 SAHASSA VAGGA
§  9 PAPA VAGGA
§  10 DANDA VAGGA
§  11 JARA VAGGA
§  12 ATTA VAGGA
§  13 LOKA VAGGA
§  14 BUDDHA VAGGA
§  15 SUKHA VAGGA
§  16 PIYA VAGGA
§  17 KODHA VAGGA
§  18 MALA VAGGA
§  19 DHAMMATTHA VAGGA
§  20 MAGGA VAGGA
§  21 PAKINNAKA VAGGA
§  22 NIRAYA VAGGA
§  23 NAGA VAGGA
§  24 TANHA VAGGA
§  25 BHIKKHU VAGGA
§  26 BRAHMANA VAGGA

YAMAKA VAGGA

Bab pertama ini berisikan Syair-syair Kembar, terdiri atas dua puluh ayat sebagai berikut.
§  Segala perbuatan buruk didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran tidak suci, penderitaan pun akan mengikuti, seperti roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya. (1)
§  Segala perbuatan baik didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila sesseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan pun akan mengikuti, seperti bayang-banyang tak pernah meninggalkan dirinya. (2)
§  “Ia menghinaku, ia memukulku, ia mengalahkanku, ia merampas milikku,” – kebencian dalam diri mereka yang diracuni pikiran-pikiran seperti itu, tak akan pernah berakhir. (3)
§  “Ia menghinaku, ia memukulku, ia mengalahkankanku, ia merampas milikku,” – kebencian dalam diri mereka yang telah bebas dari pikiran-pikiran seperti itu, akan segera berakhir. (4)
§  Kebencian tak dapat dipadamkan dengan kebencian. Hanya sikap tidak membenci yang dapat mengakhirinya. Inilah hukum yang abadi. (5)
§  Banyak orang tidak menyadari, bahwa dalam permusuhan mereka akan binasa. Bagi yang telah sadar, segala permusuhan pun segera diakhiri. (6)
§  Mara menjerat orang yang hidupnya hanya mencari kesenangan, indra-indrianya tak terkendali, makan berlebihan, bermalas-malas, dan lemah hati, seperti angin yang menumbangkan pohon yang lapuk. (7)
§  Mara tak berdaya menjerat orang yang pikirannya tidak terikat oleh kesenangan-kesenangan, indria-indrianya terkuasai, makannya sederhana, penuh keyakinan, dan tekun merenungkan “ketidaksucian”, seperti angin tak mampu menggoyahkan sebuah gunung batu. (8)
§  Orang yang belum terbebas dari noda, yang tak mampu mengendalikan diri, dan tidak mengerti kebenaran, tidaklah layak mengenakan jubah kuning. (9)
§  Sesungguhnya ia yang telah membuang segala noda, berkelakuan baik, diberkahi pengendalian diri dan kebenaran, yang layak mengenakan jubah kuning. (10)
§  Mereka yang membayangkan ketidakbenaran sebagai Kebenaran, dan menganggap Kebenaran sebagai ketidakbenaran,-mendasarkan dirinya pada pikiran keliru dan tak pernah dapat melihat Kesunyataan. (11)
§  Tapi mereka yang mengetahui Kebenaran sebagai Kebenaran, dan ketidakbenaran sebagai ketidakbenaran,-mendasarkan dirinya pada pikiran benar sehingga dapat melihat Kesunyataan. (12)
§  Seperti hujan menembus rumah beratap tipis, begitulah nafsu dengan mudah merasuk ke dalam pikiran yang tidak terlatih. (13)
§  Seperti hujan tidak dapat menembus rumah beratap kuat, begitulah nafsu tak kuasa merasuk ke dalam pikiran yang terlatih. (14)
§  Di sini ia menderita, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kejahatan menderita di kedua alam, dan merana melihat hasil perbuatan buruknya. (15)
§  Di sini ia berbahagia, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kebajikan berbahagia di kedua alam, terlebih lagi setelah melihat hasil perbuatan baiknya. (16)
§  Di sini ia bersedih, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kejahatanbersedih hati di kedua alam. Ia bersedih mengingat kejahatan yang telah dilakukannya, terlebih lagi setelah jatuh ke dalam penderitaan. (17)
§  Di sini ia bergembira, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kebajikan bergembira di kedua alam. Ia bergembira mengingat kebajikan yang telah dilakukannya, terlebih lagi setelah mengecap kebahagiaan. (18)
§  Orang yang meskipun banyak membaca kitab suci, tapi tidak berbuat sesuai Ajaran, seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain, tidak akan beroleh manfaat Kehidupan suci. (19)
§  Orang yang meskipun sedikit membaca kitab suci, tapi berbuat sesuai Ajaran, menyingkirkan nafsu, kebencian, dan kebodohan, memiliki Pengetahuan benar, batin yang bebas, dan tidak terikat pada kehidupan sekarang maupun yang akan datang; akan beroleh manfaat Kehidupan suci. (20)

APPAMADA VAGGA

Berisikan sabda-sabda Buddha Gotama tentang Kesadaran.

CITTA VAGGA

Bab ini berisikan kotbah Buddha tentang Pikiran.

PUPHA VAGGA

Pupha Vagga membahas tentang Bunga-bunga.

BALA VAGGA

Bab tersebut berisi syair Orang-orang Dungu.

PANDITA VAGGA

Bab keenam ini berisi tentang Orang Bijaksana.

ARAHANTA VAGGA

Bab Arahanta Vagga berisi bait Arahat.

SAHASSA VAGGA

Sahassa Vagga juga dikenal membahas topik Beribu-ribu.

PAPA VAGGA

Papa Vagga memaparkan tentang Kejahatan.

DANDA VAGGA

Bab kesepuluh ini berisi bait Hukuman.

JARA VAGGA

Topik Usia Tua dibahas dalam bab tersebut.

ATTA VAGGA

Bait mengenai Diri Sendiri tertulis dalam bab ini.

LOKA VAGGA

Loka Vagga membahas tentang Dunia.

BUDDHA VAGGA

Bait-bait tentang Buddha terdapat dalam bab keenam-belas ini.

SUKHA VAGGA

Ayat-ayat Kebahagiaan terangkum dalam Sukha Vagga.

PIYA VAGGA

Piya Vagga berisikan ayat-ayat Cinta Kasih.

KODHA VAGGA

Vagga ini membahas tentang Kemarahan.

MALA VAGGA

Mala Vagga berisi ayat Noda-noda.

DHAMMATTHA VAGGA

Topik mengenai Orang Adil terdapat dalam bab ini.

MAGGA VAGGA

Ayat Sang Jalan tertulis dalam Magga Vagga.

PAKINNAKA VAGGA

Pakinnaka Vagga merangkum ayat Bunga Rampai.

NIRAYA VAGGA

Pembahasan Neraka terdapat dalam vagga tersebut.

NAGA VAGGA

Naga Vagga berisi tentang Syair-syair Gajah.

TANHA VAGGA

Nafsu Keinginan diulas dalam Tanha Vagga.

BHIKKHU VAGGA

Vagga kedua-puluh-lima ini berisi tentang Bhkikkhu atau Pertapa.

BRAHMANA VAGGA

Bab terakhir Dhammapada ini mengulas topik Brahmana.
Istilah-Istilah
Bab-1, Syair-syair Kembar, yamaka vagga]
Bab-2, Kewaspadaan, [appamada vagga]
Bab-3, Pikiran, citta vagga]
Bab-4, Bunga-bunga, [puppha vagga]
Bab-5, Orang Bodoh, [bala vagga]
Bab-6, Orang Bijaksana, [pandita vagga]
Bab-7, Arahat, [arahanta vagga]
Bab-8, Ribuan, [sahassa vagga]
Bab-9, Kejahatan, [papa vagga]
Bab-10, Hukuman, [danda vagga]
Bab-11, Usia Tua, [jara vagga]
Bab-12, Diri Sendiri, [atta vagga]
Bab-13, Dunia, [loka vagga]
Bab-14, Buddha, [buddha vagga]
Bab-15, Kebahagiaan, [sukha vagga]
Bab-16, Kecintaan, [piya vagga]
Bab-17, Kemarahan, [kodha vagga]
Bab-18, Noda-noda, [mala vagga]
Bab-19, Orang Adil, [dhammattha vagga]
Bab-20, Jalan, [magga vagga]
Bab-21, Bunga Rampai, [pakinnaka vagga]
Bab-22, Neraka, [niraya vagga]
Bab-23, Gajah, [naga vagga]
Bab-24, Nafsu Keinginan, [tanha vagga]
Bab-25, Bikkhu, [bhikkhu vagga]
Bab-26, Brahmana, brahmana vagga]

 Purana

Purana (Sansekerta: पुराण ; purāa, berarti “cerita zaman dulu”) adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu. Kata Purana berarti sejarah kuno atau cerita kuno. Ada 18 kitab Purana yang terkenal dengan sebutan “Mahapurana”. Penulisan kitab-kitab Purana diperkirakan dimulai pada tahun 500 SM.
Daftar kitab Purana (Mahapurana):
Matsyapurana
Wisnupurana
Bhagawatapurana
Warahapurana
Wamanapurana
Markandeyapurana
Wayupurana
Agnipurana
Naradapurana
Garudapurana
Linggapurana
Padmapurana
Skandapurana
Bhawisyapurana
Brahmapurana
Brahmandapurana
Brahmawaiwartapurana
Kurmapurana
sumber: http:/

Bhagawatapurana

Bhagawatapurana atau Shrimad Bhagawatam (disingkat “Bhagawata” atau “Bhagawatam”) adalah salah satu kitab Purana dalam agama Hindu yang berisi syair kisah kepahlawanan dan mitologi tentang berbagai awatara, atau penjelmaan Tuhan yang turun ke dunia, yang ditulis dalam bahasa Sanskerta (versi asli). Kitab ini menekankan ajaranbhakti dalam agama Hindu, yaitu tulus ikhlas memuja Tuhan. Menurut legenda, penyusun kitab ini adalah Maharesi Byasa, putera Maharesi Parasara.

Ringkasan isi

Bhagawatapurana dituturkan seperti sebuah narasi. Diceritakan bahwa Raja Parikesit dari Hastinapura sedang mencemaskan nasibnya, sebab ia dikutuk agar tewas digigit ular. Untuk dapat menghadapi kematian dengan baik, Parikesit menghabiskan sisa umurnya dengan cara berdo’a di tepi sungai Gangga. Di sanalah Resi Suka, yakni putera Maharesi Byasa, menceritakan cerita suci Bhagawatam untuk Parikesit, bersama dengan para resi lainnya. Kisah yang dituturkan pertama kali adalah mitologi tentang penciptaan alam semesta, kemudian cerita berlanjut tentang kisah bagaimana Nārāyana turun ke dunia untuk menyelamatkan orang saleh dari ancaman makhluk jahat.

Siwapurana

Siwapurana adalah kitab suci Hindu yang didedikasikan untuk Dewa Siwa. Menurut tradisi yang terdapat dalam Wayabiya Samhita mengenai kitab ini, kitab aslinya dikenal dengan sebutan Saiwapurana. Kitab itu terdiri dari 12 samhita dan 100.000 sloka. Setelah disusun ulang oleh Resi Wedawyasa, kitab itu hanya mengandung 24.000 sloka, dan diajarkan kepada muridnya yang bernama Romaharshana (atau Lomaharshana).

Wisnupurana

Wisnupurana adalah nama kitab dalam agama Hindu, salah satu dari delapan belasPurana. Wisnupurana ini dianggap sebagai salah satu Purana yang paling penting dan telah diberi nama “Puranaratna” (permata dari Purana). Wisnupurana berisi dialog antara Parasara dan muridnya Maitreya dan dibagi menjadi enam bagian, topik utama yang dibahas meliputi mitos penciptaan, kisah-kisah pertempuran terjadi antara asura dan dewa, para awatara (penjelmaan ilahi) dari Wisnu dan silsilah dan kisah-kisah raja-raja dalam legenda.
Isi
Mengandung sekitar 23.000 sloka, meskipun jumlah sebenarnya ayat-ayat yang terdapat kurang dari tujuh ribu. Berisi kisah tentang Rudra, sebuah kisah tentang Samudra Manthana, atau “pengadukan lautan”, cerita Druwa — seorang pemuja Wisnu yang bersemangat — dan kisah-kisah tentang raja-raja kuno — Wena dan Pertu — juga dibahas dalam bagian pertama. Kisah yang terkenal tentang Hiranyakasipu dan Prahlada, beberapa rincian topologi dunia dengan menyebutkan tanah, suku, gunung-gunung dan sungai-sungai, konsep alam semesta, dan kisah-kisah dari banyak kelahiran Jadabharata adalah topik utama yang dibahas dalam buku berikutnya.
Bagian ketiga membahas kisah awatara (siklus penciptaan dan penghancuran), Resi Byasa dan Yajnyawalkya, Surya (dewa matahari), Yama (dewa kematian), Satadanu dan Saibya, empat kelas (Catur Warna) dan empat tahap kehidupan (Catur Asrama) dan rincian tentang berbagai ritual.
Bagian keempat memberikan laporan lengkap atas semua raja terkenal dari dinasti Surya dan Candra pada zaman India Kuno, dan juga daftar nama-nama raja yang ‘akan muncul’ di zaman Kali. Daftar kedua berisi nama raja-raja historis Magadha, termasuk raja-raja dari Shishunaga, Nanda dan Dinasti Maurya.
Bagian berikutnya merinci berbagai aktivitas dalam kehidupan Sri Krishna, mulai dari kelahirannya, melalui masa kanak-kanak dan sampai kepulangannya ke kediamannya, Vaikuntha dan kehancuran Wangsa Yadawa.
Bagian keenam dan terutama bagian terakhir membahas usia menjelang zaman Kali, konsep universal kehancuran yang akhirnya akan mengikuti dan menjelaskan pentingnyaPurana pada umumnya.
Vishnudharmottara Purana, kitab terpisah yang didedikasikan untuk seni, adalah sebuah tambahan atau lampiran Wisnupurana.
HH Wilson menganggap itu salah satu Purana tertua.

(08) Lahirnya Kangsa

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/kresna8.jpg?w=535
Raja Basudewa jadi-jadian sedang memadu kasih dengan Dewi Angsawati.
Kelak dari hubungan mereka lahir bayi laki-laki yang diberi nama Raden Kangsa
(pensil di atas kertas, karya herjaka HS 2008)
Raja Darmaji berusaha mencari mahkota Bathara Rama, lalu pergi ke kerajaan Dwarawati. Ketika raja Darmaji datang, raja Dwarawati, Ditya Kresna sedang dihadap oleh Patih Muksamuka, Murkabumi, Muksala, Karungkala dan Gelapsara. Ditya Kresna menyapa dan bertanya maksud kedatangan Darmaji. Raja Darmaji meminta mahkota Bathara Rama yang dipakai Ditya Kresna. Namun Ditya Kresna tidak mau memberikannya, maka terjadilah perkelahian. Raja Darmaji mati karena digigit, dan putus perutnya.
Angsawati, isteri pertama Basudewa, cemburu akibat kehadiran Ugraini dan Badraini. Ia berusaha membunuh mereka namun gagal. Pada suatu malam Angsawati bertemu dengan raja Gorawangsa yang menyamar sebagai raja Basudewa. Angsawati tidak mengira bahwa yang dijumpainya adalah Basudewa palsu. Namun Angsawati menyambut dengan senang hati. Pertemuan Angsawati dengan Basudewa palsu berkepanjangan, akhirnya Angsawati hamil. Raja Basudewa sungguhan tidak mengetahui hal itu. Ia tidak mengerti bahwa isterinya hamil karena Gorawangsa. Pada bulan ketujuh, raja hendak mengadakan selamatan. Sang raja dan para pegawai istana hendak berburu ke hutan. Basusena bertugas menunggu kerajaan.
Pada suatu malam Basusena berkeliling di istana. Waktu tiba di tempat tinggal Angsawati ia mendengar suara tamu pria di kamar. Setelah dilihat, nampak bahwa pria dalam kamar itu adalah Basudewa. Setelah Basusena lama memandang, Basudewa nampak seperti raksasa. Basudewa palsu diserang, terjadilah perkelahian. Basusena mengenakan senjata, lalu Basudewa palsu berubah menjadi Gorawangsa. Raksasa Gorawangsa lari kembali ke negara Jadingkik.
Basusena kembali ke hutan, melapor peristiwa yang terjadi di istana. Dikatakannya, Angsawati berbuat serong dengan raksasa. Raja Basudewa marah, Basusena disuruh membawa Angsawati ke hutan, untuk kemudian membunuh dan mengambil hatinya. Bila hati Angsawati berbau busuk berarti bayi dalam kandungan bukan anaknya, sedangkan bila berbau harum berarti bayi itu anak Basudewa.
Basusena menjalankan perintah raja Basudewa. Angsawati dibawa ke tengah hutan dan dibunuhnya. Hatinya diambil, dan setelah dicium ternyata berbau busuk. Basusena membawa hati itu kepada sang raja. Karena hati tersebut berbau busuk, raja percaya bahwa bayi dalam kandungan bukanlah anaknya.
Bathara Wisnu, Dewi Sri dan Bathara Basuki mengelilingi dunia guna mencari titisan raja Watugunung. Diketahuinya, raja Gorawangsa adalah titisan raja Watugunung. Maka Bathara Wisnu meminta Bathara Basuki agar menitis kepada raja Basudewa, untuk mengalahkan raja Gorawangsa. Bathara Wisnu kembali ke kahyangan. Kepada Bathara Guru, ia minta ijin untuk menitis ke dunia, untuk membunuh titisan raja Watugunung. Bathara Guru memberi ijin, dan memberi tugas kepada Bathara Wisnu untuk mengadu ayah melawan anak, mengadu sesama saudara. Namun Bathara Wisnu tidak boleh ikut berperang, hanya diperkenankan terlibat dalam pembicaraan.
Bathara Wisnu menerima tugas tersebut tetapi mengajukan permintaan. Permintaan itu ialah bagi mereka yang bermusuhan supaya diperkenankan naik ke surga, supaya dirinya diperkenankan duduk di dua belah pihak, dan supaya disertai Bathara Basuki untuk bersama menitis ke dunia. Bathara Guru mengabulkan permintaan tersebut, lalu menyuruh Bathara Narada agar keberanian Wisnu dijelmakan kepada Arjuna. Sedang Bathara Wisnu diminta menjelma menjadi putra Basudewa.
Bathara Wisnu turun ke dunia bersama Dewi Sri. Senjata Cakranya dititipkan kepada awan yang dijaga dua dewa. Bathara Wisnu berpesan, bahwa senjata itu hanya boleh diambil Narayana. Selain Nayarana, tidak seorang pun berhak mengambilnya.
Raja Basudewa telah mempunyai putra. Ugraini telah melahirkan anak laki-laki berkulit putih, titisan Bathara Basuki. Anak itu diberi nama Kakrasana. Bathara Wisnu dan Dewi Sri merasuk ke jiwa raja Basudewa. Saat mereka merasuk, Basudewa bermimpi melihat matahari dan bulan. Matahari dan bulan itu kemudian bersatu.
Anak Angsawati yang dibawa raja Gorawangsa diberi nama Kangsa. Setelah dewasa Kangsa menanyakan, siapa ibunya. Gorawangsa menjelaskan bahwa ibunya bernama Angsawati, isteri Basudewa raja Mandura. Tetapi ibunya telah meninggal dunia, dibunuh oleh Basusena atas perintah raja Basudewa. Mendengar penjelasan Gorawangsa itu Kangsa ingin membalas kematian ibunya. Gorawangsa berpesan agar Kangsa menemui pamannya yang bernama Arya Prabu, adik Angsawati. Kangsa meninggalkan Jadingkik menuju ke Mandura.
Di Mandura Kangsa menemui Arya Prabu, lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Arya Prabu berjanji akan membantunya. Mereka berdua menghadap raja Basudewa yang sedang dihadap Basusena dan warga Mandura. Kangsa menyampaikan maksud kedatangannya, yakni ia akan membalas kematian ibunya. Terjadilah perkelahian antara Kangsa dengan Basusena. Basusena kalah, lalu melarikan diri. Raja Basudewa dimasukkan ke dalam penjara. Gorawangsa datang bersama pasukan raksasa. Kangsa lalu menduduki tahta kerajaan Mandura.
Basudewa berhasil melarikan diri bersama dengan Badraini yang sedang hamil dan Kakrasana yang masih kanak-kanak. Perjalanan mereka terhalang oleh Bengawan Erdura. Bathara Sakra datang menolong dan menyeberangkan mereka. Basudewa diminta mengungsi ke kademangan Widarakandang. Sang Bathara memberi tahu bahwa kelak Badraini akan melahirkan dua anak. Anak-anak itu agar diberi nama Narayana dan Endhang Panangling. Setelah berpesan, Bathara Sakra menghilang, kembali ke Kahyangan. Kedatangan Basudewa, Badraini dan Kakrasana di Widarakandhang diterima oleh demang Antagopa dan isterinya. Di Widarakandhang Badraini melahirkan seorang bayi laki-laki dan dua orang perempuan, yang berkulit hitam. Sesuai pesan Bathara Sakra, Basudewa memberi nama kedua anaknya, Nayarana dan Endhang Panangling. Sedangkan Badraini memberi nama yang seorang lagi, Sumbadra. Tiga anak itu diasuh oleh Ki Antagopa dan Ni Sagopi.

(07) Kresna menasihati Harjuna

https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/kresna7.jpg?w=535
Di tengah medan pertempuran Baratayuda Kresna menasihati Harjuna
agar menuntaskan peperangan walaupun harus menghadapi saudaranya.
Nasihat tersebut lebih dikenal dengannama Bagawadgita.
(lukisan tinta di atas kertas tahun 2006 karya Herjaka HS)
Kresna kembali menemui Kunthi, melapor hasil perundingan, bahwa Suyodhana menginginkan perang. Kunthi berpesan agar Kresna menyuruh Pandhawa untuk melakukan kewajiban sebagai Pahlawan dan mempertaruhkan jiwanya. Kresna minta pamit, diantar oleh Widura, Sanjaya dan Yuyutsu. Karna mengikutinya. Kresna membujuk agar Karna berpihak kepada Pandawa, tetapi Karna menolaknya. Karna ingin mengukur kesaktian melawan Arjuna. Kemudian Karna minta pamit, berjanji akan bertemu di medan perang.
Kresna kembali ke Wirata, memberi tahu hasil perundingannya dengan Suyodhana. Pandawa bersiap-siap untuk berperang.
(Bharatayudha Z.II.8-16 s.d Z.III.1-18)
Cerita kematian Kresna dimuat dalam cerita Mosalaparwa, suku Wresni dan Yadu musna dalam perang saudara. Pokok cerita itu demikian : Bagawan Wisawamitra, Kanwa dan Narada berkunjung ke Dwarawati. Mereka dilihat oleh suku Yadu. Sarana dan Samba datang menghadap. Samba berhias dan berdansa seperti wanita, mengaku isteri Babhru, minta agar dianugerahi anak. Sang Bagawan berkata, bahwa mereka berdua menghina para bagawan. Dikatakannya, bahwa isteri Babhru itu sebenarnya adalah Samba anak Kresna. Sang bagawan mengutuk, suku Yadu akan mati oleh gada yang lahir dari kandungan perut Samba. Baladewa dan Kresna tidak akan ikut mati, mereka tidak bersalah, Kresna akan mati oleh si Jara, Baladewa akan mati masuk ke samodera. Setelah mengutuk para bagawan itu meninggalkan Dwarawati. Orang-orang Yadu gelisah, memberitahu kepada Kresna, tetapi Kresna tenang saja, tidak mau berusaha membebaskan kutukan itu.
Gada besi lahir dari perut Samba. Gada diberikan kepada Ugrasena. Ugrasena mengikirnya, serbuk besi dibuang ke samodera. Serbuk besi tumbuh menjadi gelagah dan rumput, hidup subur di sepanjang pantai.
Ketika terjadi perang saudara di tubuh suku bangsa Wresni dan Yadu, mereka menggunakan gada yang berasal dri gelagah itu. Perang dahsyat itu menyebabkan suku Wresni dan Yadu musnah. Samba, Pradyumna, Carudesna, Aniruddha meninggal dunia. Kresna bersama Babhru dan Daruki mencari Baladewa. Mereka melihat Baladewa duduk bersandar pada pohon, melakukan yoga, Naga putih bermulut merah keluar dari mulut Baladewa.Taksaka, Kumuda, Sundarika, Hrada dan Durmukha menyongsong mereka, terutama sang Baruna. Kemudian mereka masuk kembali ke dasar bumi. Kresna bertemu dengan maharaja Basudewa dan Rohini. Karena suku Wresni telah musnah, Kresna minta diri pergi ke permandian Prabhasa. Ia melihat bangkai orang-orang suku Wresni berserakan. Kresna bersedih lalu pergi masuk ke hutan, tidur pada pohon, berbuat yoga. Tiba-tiba Jara anak raja Basudewa, adik Kresna datang memburu binatang. Kresna dilihat oleh Jara, dikira binatang, lalu dipanahnya. Kresna berubah menjadi Wisnumurti. Jara menangis memeluk kaki sang Kesawa, kemudian ikut naik ke sorga. Para bidadara dan bidadari menyambut kedatangan Wisnu ( Mosalaparwa, dalam sekar sumur 1958: 112 – 117).
Kresna dalam Pewayangan
Cerita Kresna dalam Pewayangan merupakan perkembangan cerita Kresna yang berasal dari cerita di India lewat perkembangan cerita Jawa kuna. Kresna sebagai tokoh simbolik bagi manusia, maka cerita kehidupannya disesuaikan dengan kehidupan manusia sebenarnya. Yaitu mengenai kelahiran, perkawinan dan masalah hidup dan kehidupannya. Demikian juga tokoh Kresna, ia juga diangkat sebagai tokoh seperti manusia, dan ia termasuk tokoh penting dan banyak mendapat perhatian dari masyarakat pecinta pewayangan.
Dalam bab ini akan dimuat cerita Kresna mengenai kelahiran, perkawinan dan cerita lan yang menampilkan Kresna sebagai tokoh utama. Cerita bersumber pada cerita pewayangan yang banyak dipentaskan lewat pertunjukan wayang kulit, dan telah didokumentasikan dalam bentuk cerita pakem pewayangan atau dalam bentuk ringkasan isi, sekedar menjadi bahan ulasan dalam peneletian ini.
Cerita Kelahiran Nayarana
Nayarana adalah nama lain dari Kresna. Biasanya nama Nayarana dikenakan pada diri Kresna ketika ia masih muda atau jejaka. Di bawah ini cerita kelahiran Nayarana yang dimuat dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa dan cerita lakon yang berjudul Wisnu Nitis. Dalam cerita tersebut dikisahkan, Darmayona raja di negara Ngambarretna mempunyai anak perempuan cantik rupawan, bernama Ugraini. Kecantikan Ugraini termashur di negara sekeliling, maka banyak raja yang ingin memperisterinya. Di antaranya raja Darmaji dari kerajaan Ngindratma. Raja Darmaji telah mengajukan surat lamaran. Lamaran raja Darmaji diterima. Ugraini diserahkan kepadanya, bila pelamar dapat menyerahkan Mahkota Bathara Rama yang sekarang dimiliki oleh raja Ditya Kresna, raja di kerajaan Dwarawati.
Raja Darmaji telah menerima syarat permintaaan raja Darmayona. Raja itu lalu akan berusaha mencarinya. Raja Darmayona pergi ke pertapaan Repat kepanasan menemui Bagawan Anipita, menanyakan titisan Bathara Rama yang lahir di Marcapada. Raja mengharap anak perempuannya diperisteri oleh titisan Bathara Rama. Bagawan Anipita mempunyai anak angkat bernama Badraini. Sang bagawan pernah memperoleh petunjuk dewa, bahwa kelak Badraini akan melahirkan anak titisan Bathara Rama. Ia ingin menyerahkan Badraini kepada Basudewa untuk diperisterikannya. Keinginan itu dikatakan kepada raja Darmayona.
Darmayona ingin menyerahkan anaknya pula. Bagawan Anipita dan raja Darmayona bersama-sama pergi ke Mandura. Mereka menghadap raja Basudewa, dan menyampaikan keinginan mereka.
Ugraini dan Badraini diserahkan kepada raja Basudewa. Raja Basudewa menerima dengan senang hati, mereka berdua diperisterinya.
(R.S. Subalidinata)

Wedangga

Wedangga atau Vedanga (IAST vedāga) yang berarti “bagian-bagian” merupakan sastra sebagai “alat bantu” dalam memahami Veda. Wedangga merupakan buku sumber dalam mempelajari dan mendalami secara nyata dari mantra-mantra Veda. Wedangga memilik enam bagian, diantaranya adalah:
Siksha (śik
ā): fonetika dan fonologi (sandhi).
Chanda (chandas): irama.
Vyakarana (vyākara
a): tata bahasa.
Nirukta (nirukta): etimologi.
Jyotisha (jyoti
a): astrologi and astronomi.
Kalpa (kalpa): Ilmu mengenai upacara keagamaa
n.
Wedangga pertama kali dimuat dalam Mudaka Upanishad, sebagai topik kajian bagi para siswa dalam mempelajari Veda. Kemudian, para siswa tersebut mengembangkan disiplin ilmu Wedangga sebagai ilmu yang mandiri, dan masing-masing menyusun Sutra.
Siksha (IAST śikā) adalah salah satu bagian dari Wedangga, merupakan ilmu fonetik dan fonologi dalam mempelajari bahasa Sanskerta.
Śikshā merupakan ilmu yang wajib dipelajari bila hendak memperdalam Veda. Śikshā mengajarkan tentang pelafalan atau pengucapan mantra dengan baik dan benar, serta membantu para pemakai mantra agar tidak terjadi kesalahan pengucapan yang bisa merubah dan membiaskan arti. Pustaka siksha yang dikenal adalah Prātiśākhya. Beberapa penulis sastra siksha yang dikenal antara lain adalah: Bharadwaja, Vyasa, Wasistha dan Yajnavalkya.
[sunting]
Daftar pustaka siksha
Beberapa pustaka Shiksha masih berkembang hingga saat ini.Amoghanandini Shiksha
Apisali Shiksha (pra-Panini, masih dalam bentuk sutra)
Aranya Shiksha
Atreya Shiksha
Avasananirnyaya Shiksha
Bharadvaja Shiksha
Chandra Shiksha dari Chandragomin (format sutra)
Charayaniya Shiksha
Galadrka Shiksha
Kalanirnya Shiksha
Katyayani Shiksha
Kauhaliya Shiksha Kaundinya Shiksha
Keshavi Shiksha
Kramakarika Shiksha
Kramasandhaana Shiksha
Laghumoghanandini Shiksha
Lakshmikanta Shiksha
Lomashi Shiksha
Madhyandina Shiksha
Mandavya Shiksha
Mallasharmakrta Shiksha
Manasvaara Shiksha
Manduki Shiksha Naradiya Shiksha
Paniniya Shiksha
Paniniya Shiksha (format sutra)
Paniniya Shiksha (disertai dengan aksen)
Parashari Shiksha
Padyaatmika Keshavi Shiksha
Pari Shiksha
Pratishakhyapradipa Shiksha
Sarvasammata Shiksha
Shaishiriya Shiksha
Shamaana Shiksha
Shambhu Shiksha Shodashashloki Shiksha
Shikshasamgraha
Siddhanta Shiksha
Svaraankusha Shiksha
Svarashtaka Shiksha
Svaravyanjana Shiksha
Vasishtha Shiksha
Varnaratnapradipa Shiksha
Vyaali Shiksha
Vyasa Shiksha
Yajnavalkya Shiksha
Chanda (छंदः), ilmu yang mempelajari irama, adalah salah satu bagian dari Wedangga. Sastra tertua yang ada adalah Chandasastra. Disebutkan pula sastra-sastra Chanda yang lain yang adalah Chandovichiti, disusun oleh Paingala, yang terdiri atas delapan bab. Selain itu terdapat Sarvaanukramanika yang ditulis oleh Katyayana.
Vyakarana atau Wyakarana adalah ilmu tata bahasa Sanskerta (Sanskrit grammatical), merupakan salah satu bagian dari Wedangga. Berakar sejak peradaban Veda, termasuk didalamnya salah satu karya yang terkenal dari Maharsi Panini, Aṣṭādhyāyī
Nirukta (etimologi), adalah salah satu bagian dari Wedangga yang memuat ilmu etimologi, yaitu cabang dari ilmu linguistik yang memuat asal-usul suatu kata, utamanya yang terkandung di dalam Veda.
Jyotisha (jyotia, dalam Bahasa Hindi, dan dalam Bahasa Inggris: Jyotish) adalah ilmu astrologi dalam Hindu, yang merupakan salah satu bagian dari Wedangga, dan juga dikenal sebagai salah satu ilmu perbintangan kuno yang paling tua, yang memberi pengaruh terhadap ilmu-ilmu perbintangan lainnya di India.
Kalpa adalah salah satu bagian dari Wedangga, yang menyajikan ajaran / ilmu upacara suci (ritula) dalam agama Hindu. Kalpa merupakan salah satu dari enam jenis disiplin dalam ilmu Wedangga.

Itihasa

Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah-kisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama, mitologi, dan makhluk supernatural. Itihāsa berarti “kejadian yang nyata”. Itihāsa yang terkenal ada dua, yaitu Ramayana dan Mahābhārata.
Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau, seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. Pada zaman kerajaan di Indonesia, kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin.
Ramayana
Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Kitab Ramayana terdiri dari 24.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki.
Daftar kitab:
Balakanda
Ayodhyakanda
Aranyakanda
Kiskindhakanda
Sundarakanda
Yuddhakanda
Uttarakanda
Mahābhārata
Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Kitab Mahābhārata berisi lebih dari 100.000 sloka. Mahābhārata berarti cerita keluarga besar Bharata. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian yang disebut Astadasaparwa. Selayaknya Ramayana, setiap Parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa.
Daftar kitab:
Adiparwa
Sabhaparwa
Wanaparwa
Wirataparwa
Udyogaparwa
Bhismaparwa
Dronaparwa
Karnaparwa
Salyaparwa
Sauptikaparwa
Striparwa
Santiparwa
Anusasanaparwa
Aswamedikaparwa
Asramawasikaparwa
Mosalaparwa
Prasthanikaparwa
Swargarohanaparwa

Agni

Dalam ajaran agama Hindu, Agni adalah dewa yang bergelar sebagai pemimpin upacara, dewa api, dan duta para Dewa. Kata Agni itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta (अग्नि) yang berarti ‘api’. Konon Dewa Agni adalah putra Dewa Dyaus dan Pertiwi.
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/fe/Agni_god_of_fire.jpg
Penggambaran
Sesuai dengan karakter yang dimilikinya, Agni dilukiskan sebagai dewa yang badannya berwarna merah, rambutnya adalah api yang berkobar, berkepala dua dan selalu bersinar, berdagu tajam, bergigi emas, memiliki enam mata, tujuh tangan, tujuh lidah, empat tanduk, tiga kaki, dan mengendarai biri-biri. Ciri-ciri yang dipaparkan tersebut memiliki arti dan filsafat tersendiri. Kadangkala ciri-ciri Agni tersebut berbeda dengan ciri-ciri Agni di suatu wilayah tertentu, karena penggambarannya juga tergantung pada persepsi masyarakat setempat.
Pemimpin upacara
Dewa Agni sering disebut-sebut sebagai Dewa pemimpin upacara dalam kitab suci Hindu, Weda. Dewa Agni bergelar sebagai Dewa pemimpin upacara karena beliau ahli dalam segala hal yang berkaitan dengan upacara keagamaan. Dewa Agni pula yang diminta hadir dalam suatu upacara (terutama Agnihotra) sebagai duta para Dewa yang mempersembahkan sesuatu kepada-Nya (Tuhan). Dalam melaksanakan suatu upacara, Dewa Agni pula yang menjadi pendamping para pendeta.
Dewa api
Dewa Agni bergelar pula sebagai Dewa api. Dalam candi-candi dan lukisan-lukisan, Beliau digambarkan sebagai Dewa yang memiliki rambut api yang berkobar dan kepalanya selalu bersinar. Dalam kitab Mahabharata, Dewa Agni adalah dewa yang membakar hutan Kandhawa.
Nama lain
Witihotra (yang memberi pahala kepada para penyembah)
Dhumaketu (yang bermahkota asap)
Saptajihwa (berlidah tujuh)
Grehapati (tuannya rumah tangga)
Dananjaya (yang menaklukkan musuh)

Aswin

Dalam ajaran agama Hindu, Aswin (Sansekerta: अश्विन, Latin: aśvin, dibaca: As-win) adalah Dewa kembar yang bergelar sebagai ‘dokter para Dewa’. Mereka merupakan putera Dewa Surya dan Dewi Saranya.
Mereka dewa yang sering disebut sebagai dewanya pengobatan dalam Ayurweda. Mereka adalah dua bersaudara yang ramah, suka menolong. Mereka dilukiskan sebagai penunggang kuda yang membawa kemakmuran pada manusia serta menyembuhkan segala penyakit dan kemalangan.
Mereka disamakan dengan si kembar Castor dan Pollux dalam Mitologi Yunani.
Mereka juga Dewa yang disebut-sebut dalam Rg-Weda, dengan 57 syair di dalamnya yang memuji-muji mereka. Mereka juga disebut Nāsatya (na+asatya, artinya “bukan kebohongan” atau sama dengan “kebenaran”).
kisah konflik para Pandawa dengan Korawa
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2010/10/resize-of-mahabharatax.jpg
·         Home
·         Batara Kresna
·         Dewa Dewi
·         Dhammapada
·         Forum Mahabharata
·         Kerajaan
·         Kidung Malam
·         Mahabharata
·         Mendung Di Atas Mandaraka
·         Sastra Hindu
·         Tokoh Mahabharata
·         Cerita Pandawa

Dewa Dewi

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa (Devanagari: देव) adalah makhluk suci, makhluk supernatural, penghuni surga, malaikat, dan manifestasi dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam agama Hindu, musuh para Dewa adalah Asura.
Dalam tradisi Hindu umumnya seperti Advaita Vedanta dan Agama Hindu Dharma, Dewa dipandang sebagai manifestasi Brahman dan enggan dipuja sebagai Tuhan tersendiri dan para Dewa setara derajatnya dengan Dewa lain. Namun dalam filsafat Hindu Dvaita, para Dewa tertentu memiliki sekte tertentu pula yang memujanya sebagai Dewa tertinggi. Dalam hal ini, beberapa sekte memiliki paham monotheisme terhadap Dewa tertentu (lihat: Waisnawa)
Etimologi
Kata “dewa” (deva)berasal dari kata “div” yang berarti “bersinar”. Dalam bahasa Latin “deus” berarti “dewa” dan “divus” berarti bersifat ketuhanan. Dalam bahasa Inggris istilah Dewa sama dengan “deity”, dalam bahasa Perancis “dieu” dan dalam bahasa Italia “dio”. Dalam bahasa Lithuania, kata yang sama dengan “deva” adalah “dievas”, bahasa Latvia: “dievs”, Prussia: “deiwas”. Kata-kata tersebut dianggap memiliki makna sama. “Devi” (atau Dewi) adalah sebutan untuk Dewa berjenis kelamin wanita. Para Dewa (jamak) disebut dengan istilah “Devatā” (dewata).
Dewa dalam Weda
Dalam kitab suci Reg Weda, Weda yang pertama, disebutkan adanya 33 Dewa, yang mana ketiga puluh tiga Dewa tersebut merupakan manifestasi dari kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Dewa yang banyak disebut adalah Indra, Agni, Waruna dan Soma. Baruna, adalah Dewa yang juga seorang Asura.
Menurut ajaran agama Hindu, Para Dewa (misalnya Baruna, Agni, Bayu) mengatur unsur-unsur alam seperti air, api, angin, dan sebagainya. Mereka menyatakan dirinya di bawah derajat Tuhan yang agung. Mereka tidak sama dan tidak sederajat dengan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan manifestasi Tuhan (Brahman) itu sendiri.
Dalam kitab-kitab Veda dinyatakan bahwa para Dewa tidak dapat bergerak bebas tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa juga tidak dapat menganugerahkan sesuatu tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa, sama seperti makhluk hidup yang lainnya, bergantung kepada kehendak Tuhan.
Dalam kitab suci Bhagawad Gita diterangkan bahwa hanya memuja Dewa saja bukanlah perilaku penyembah yang baik, hendaknya penyembah para Dewa tidak melupakan Tuhan yang menganugerahi berkah sesungguhnya. Para Dewa hanyalah perantara Tuhan. Tuhan Yang Maha Esa melalui perantara Sri Krishna bersabda:
sa tayā śraddhayā yuktas tasyārādhanam īhate labhate ca tatah kaman  mayaiva vihitān hi tān
(Bhagavad Gītā, 7.22)
Arti:
setelah diberi kepercayaan tersebut, mereka berusaha menyembah Dewa tertentu
dan memperoleh apa yang diinginkannya. Namun sesungguhnya hanya Aku sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat tersebut.
Beberapa Dewa dan Dewi dalam agama Hindu
Agni (Dewa api)
Aswin kembar (Dewa pengobatan, putera Dewa Surya)
Brahma (Dewa pencipta, Dewa pengetahuan, dan kebijaksanaan)
Candhra (Dewa bulan)
Durgha (Dewi pelebur, istri Dewa Siva)
Ganesha (Dewa pengetahuan, Dewa kebijaksanaan, putera Dewa Siva)
Indra (Dewa hujan, Dewa perang, raja surga)
Kuwera / Kubera (Dewa kekayaan)
Laksmi (Dewi kemakmuran, Dewi kesuburan, istri Dewa Visnu)
Saraswati (Dewi pengetahuan, istri Dewa Brahmā)
Shiwa (Dewa pelebur)
Sri (Dewi pangan)
Surya (Dewa matahari)
Waruna (Dewa air, Dewa laut dan samudra)
Wayu / Bayu (Dewa angin)
Wisnu (Dewa pemelihara, Dewa air)
Yama (Dewa maut, Dewa akhirat, hakim yang mengadili roh orang mati)
https://mahabhrata.files.wordpress.com/2010/07/gbr-dewa-dewi-hindu.jpg?w=640&h=566

Durga

Menurut kepercayaan umat Hindu, Durga (Dewanagari: दुर्गा) adalah sakti (=istri) Siwa. Dalam agama Hindu, Dewi Durga (atau Betari Durga) adalah ibu dari Dewa Ganesa dan Dewa Kumara (Kartikeya). Ia kadangkala disebut Uma atau Parwati. Dewi Durga biasanya digambarkan sebagai seorang wanita cantik berkulit kuning yang mengendarai seekor harimau. Ia memiliki banyak tangan dan memegang banyak tangan dengan posisi mudra, gerak tangan yang sakral yang biasanya dilakukan oleh para pendeta Hindu.
Di Nusantara, Dewi ini cukup dikenal pula. Candi Prambanan di Jawa Tengah, misalkan juga dipersembahkan kepada Dewi ini.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, durga berarti “yang tidak bisa dimasuki” atau “terpencil”.
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/9/91/Durga2.jpg/275px-Durga2.jpgDewanagari:
दुर्गा
Ejaan Sanskerta: Durgā
Golongan: Dewi
Kediaman: Gunung Kailasha
Senjata: Cakram; petir; teratai; ular; pedang; gada; terompet kerang; trisula
Pasangan: Siwa
Wahana: dawon (macan atau singa)
Lihat pula
Loro Jonggrang

Bhatara (Dewa)

Bhatara
Bhatara (Devanagari:
भटर ; Bhaāra) adalah utusan Brahman (Tuhan) sebagai pelindung umat manusia dalam tradisi Hindu. Bhatara tidak sepenuhnya berarti Dewa karena ada definisi yang berbeda antara Bhatara dengan Dewa. Namun dalam perkembangannya, istilah Bhatara diidentikkan dengan Dewa.
Bhatara berjenis kelamin wanita disebut Bhatari.
Pengertian Bhatara
Bhatara berasal dari kata “bhatr” yang berarti pelindung. Bhatara berarti “pelindung”. bhatara adalah aktivitas sang hyang widhi sebagai pelindung ciptaanya, karena itu dalam pandangan agama hindu semua hal dialam semesta ini dilindungi oleh sang hyang widhi dengan gelar bhatara. ada begitu banyak nama-nama bhatara sesuai dengan tempat, fungsi dan kedudukannya. sebagaimana dikutip dalam ajaran siwa tatwa dalam agama hindu, sang hyang sapuh jagat apabila beliau menjaga pertigaan, sang hyang catus pata/ catur loka pala berkedudukan di perempatan jalan, sang hyang bairawi berkedudukan di kuburan, sang hyang tri amerta berkedudukan di meja makan. beberapa contoh nama bhatara di atas hanyalah contoh kecil dari sekian banyak nama bhatara yang menandakan sifat sang hyang widhi yang wyapi wyapaka atau ada dimana-mana. jadi’ bhatara bukanlah makhluk-makhluk halus atau utusan tuhan melainkan bagian dari tuhan itu sendiri
Perbedaan Bhatara dengan Dewa
Dalam filsafat Hindu Advaita Vedanta, Dewa merupakan sinar suci atau manifestasi dari Brahman. Dalam hal tersebut, para Dewa berbeda dengan Bhatara, karena Dewa merupakan sinar suci Brahman sedangkan Bhatara merupakan aktivitas dari hyang widhi sebagai pelindung. dalam penerapannya di masyarakat hindu nama bhatara lebih dikenal dari istilah dewa, hal ini disebabkan karena manusia pada umumnya menginginkan perlindungan. beberapa contoh perubahan istilah dari dewa menjadi bhatara: dewa brahma = bhatara brahma dewa wisnu = bhatara wisnu dewa siwa = bhatara siwa dewa iswara = bhatara iswara dewa mahadewa = bhatara mahadewa dst.
Pemakaian istilah Bhatara
Dalam tradisi Hindu-Jawa umumnya, dan pada tradisi pewayangan khususnya, istilah Bhatara dipakai untuk merujuk kepada Dewa. Dalam tradisi Agama Hindu Dharma di Bali, istilah Bhatara diucapkan “Bêtar
ə”, dan disamakan atau bahkan diidentikkan dengan Dewa, karena sama-sama berfungsi sebagai pelindung, contohnya: Bhatara Wisnu, Bhatara Brahma, Batara Kala, dan sebagainya.
Beberapa Bhatara-Bhatari dalam Agama Hindu
Bhatara
Bhatara Kresna
Bhatara Rama
Bhatara Kala
Bhatara Ganesha (Bhatara Gana)
Bhatara Wisnu – Wisnu sebagai pelindung umat manusia
Bhatara Brahma – Brahma sebagai pelindung umat manusia
Bhatara Siwa – Siwa sebagai pelindung umat manusia
Bhatari
Bhatari Sri
Bhatari Durga
Bhatari Uma

Bhatara Ganesha

Bhatara Ganesha (Bhatara Gana )

Ganesa


Ganesa
Dewa Hindu
Dewa pengetahuan, kecerdasan, kebijaksanaan dan pelindung terhadap segala bencana
Ejaan Dewanagari
गणेश
Ejaan IAST
gaṇeśa
Golongan
dewa
Senjata
parasu (kapak), pasa (jerat), angkusa (kait)
Wahana
tikus
Pasangan
Buddhi (kebijaksanaan), Riddhi (kemakmuran), Siddhi (keberhasilan)
Mantra
गणेशाय नमः
(Oṃ Gaṇeśāya Namaḥ)
Ganesa (Dewanagari: गणेश; IAST: GaneaTentang suara ini dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk Nepal, Tibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putra Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa memedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina, Buddha, dan di luar India.[1]
Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa masyhur sebagai “Pengusir segala rintangan” dan lebih umum dikenal sebagai “Dewa saat memulai pekerjaan” dan “Dewa segala rintangan” (Wignesa, Wigneswara), “Pelindung seni dan ilmu pengetahuan”, dan “Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan”. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.
Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi, selama periode Gupta, meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda.[3] Ketenarannya naik dengan cepat, dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya, (Sanskerta: गाणपत्य; apatya), yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama, muncul selama periode itu.[4] Kitab utama yang didedikasikan untuk Ganesa adalah Ganesapurana, Mudgalapurana, danGanapati Atharwashirsa.
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/96/13th_century_Ganesha_statue.jpg/200px-13th_century_Ganesha_statue.jpg
Patung Ganesa dari Karnataka, India. Patung ini dibuat pada abad ke-13.
Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian, termasuk Ganapati dan Wigneswara. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan, yaitu Sri (Sanskerta: श्री;śrī, juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama, sebuah doa pengucapan “seribu nama Ganesa”. Setiap nama dalam sahasranamamengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama; salah satu versi diambil dariGaneshapurana, yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa.
Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta, terdiri dari katagana (Sanskerta: गण; gaa), berarti kelompok, orang banyak, atau sistem pengelompokan, dan isha (Sanskerta: ईश; īśa), berarti penguasa atau pemimpin.[5] Katagana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana, pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa.[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan, kelas, komunitas, persekutuan, atau perserikatan.[7] Ganapati(Sanskerta: गणपति ; gaapati), nama lain Ganesa, adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana, yang berarti “kelompok”, dan pati, berarti “pengatur” atau “pemimpin”.[7]Kitab Amarakosha, yaitu kamus bahasa Sanskerta, memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka, Wignaraja (sama dengan Wignesa), Dwaimatura (yang memiliki dua ibu), Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa), Ekadanta (yang memiliki satu gading), Heramba, Lambodara (yang memiliki perut bak periuk, atau, secara harfiah, yang perutnya bergelayutan), dan Gajanana (yang bermuka gajah).[8]
Winayaka (Sanskerta: विनायक ; vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha.[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di Maharashtra yang masyhur sebagai astawinayaka. Nama Wignesa (Sanskerta: विघ्नेश; vighneśa) dan Wigneswara(Sanskerta: विघ्नेश्वर; vighneśvara) (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna).
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e1/Ekdanta.jpg/200px-Ekdanta.jpg
Lukisan Ekadanta atau “Ganesa bergading satu”, dari daerah Mysore, negara bagian Karnataka, India.
Nama yang masyhur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar (“anak kecil”). A. K. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwapille berarti seorang “anak” sementara pilleyar berarti seorang “anak yang mulia”. Dia menambahkan bahwa kata pallu, pella, dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti “gigi atau gading gajah”, namun lebih lazim diartikan “gajah”.[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada namaPillaiyar mungkin aslinya berarti “gajah muda”, karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti “gajah muda”.[11]

Penggambaran

Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6.[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya, penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. Dia kadangkala digambarkan berdiri, menari, beraksi dengan gagah berani melawan para iblis, bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki, duduk di bawah, atau bersikap manis dalam suatu keadaan.
Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Patungnya memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis, yang ia comot dengan belalainya, pada tangan kiri bawah. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut, ditaksir berasal dari abad ke-7.[13] Dalam perwujudan yang biasa, Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkusa pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya.
Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. Dalam sebuah penggambaran modern, satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra).[14]Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut, muncul pada patung Ganesa yang sedang menari, yang merupakan tema terkenal.

Atribut umum

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/90/Ganesh_maharashtra.jpg/240px-Ganesh_maharashtra.jpg
Patung Ganesa di Maharashtra, India. Patung tersebut dibuat sesuai dengan makna atribut-atributnya.
Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. Salah satu perwujudannya yang terkenal, yakni Heramba-Ganapati, memiliki lima kepala gajah, dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah, pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia, kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala, memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. Dalam kitabBrahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. Saat Ganesa lahir, ibunya, Parwati, menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Tiba-tiba, Dewa Sani (Saturnus), yang konon memiliki mata terkutuk, memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala gajah. Kisah lain dalam kitabWarahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian, ia memberinya kepala gajah dan perut buncit.
Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading), merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu, sedangkan yang lainnya patah. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana, yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta. Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu, yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI).[16] Penampilan ini amat penting, karena menurut Mudgalapurana, dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara(perut buncit, atau, secara harfiah, perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar).[17]Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu “telur alam semesta”; IAST:brahmāṇḍa) pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. Jumlah lengan Ganesa bervariasi; wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan.[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat, yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10.[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk.[21] Menurut Ganesapurana, Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk, dipegang di tangan, dililitkan di pergelangan kaki, atau dipakai sebagai mahkota. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka), yang berupa tiga garis mendatar. Ganeshapurana mengatakan bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST:bhālacandra; “Bulan di dahi”) memasukkan unsur penggambaran tersebut. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi, sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme. Sebagai contoh, putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati(Ganapati yang membebaskan dari belenggu). Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu.

Wahana

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c2/Thajavur_Ganesha.jpg/240px-Thajavur_Ganesha.jpg
Sebuah lukisan bergaya Tajore, menampilkan Ganesa yang sedang mengendarai wahananya, yaitu tikus. Di belakangnya tampak seorang pelayan yang setia menemaninya.
Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan).[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana, Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya, menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda, seekor merak saat menjelma sebagai Wikata, dan menggunakan Sesa, naga ilahi, dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana, Mohotkata menunggangi singa,Mayureswara menunggangi merak, Dumraketu menunggangi kuda, dan Gajananamenunggangi tikus. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa, wahananya ada bermacam-macam, seperti tikus, gajah, penyu, domba, atau merak.[24]
Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa, di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke-7; tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana, dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya.Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat dalam benderanya. Nama Musakawahana (berwahana tikus) danAkuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama.
Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orang-orang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois.[25] Yuvraj Krishan, seorang penulis buku Ganesa, mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian. Kata Sanskertaaka (tikus) diambil dari akar kata  (mencuri, merampok). Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur, sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi. Jadi menurut teori tersebut, Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya.[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa, seperti halnya tikus, mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia.[27]

Asosiasi

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/22/Lord_Ganesh.jpg/200px-Lord_Ganesh.jpg
Patung Ganesa di sebuah kuil di Orissa, India.

Rintangan

Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja, dewa segala rintangan, baik yang bersifat material maupun spiritual. Ia masyhur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan, meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan. Paul Courtright mengatakan, “pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan. Itu merupakan kekuasaannya yang utama…”[28]
Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu.[29] M. K. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu, dan kemunculan para Ganapatya, sehingga ada perubahan tekanan suara dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadiwignahartā (penyingkir rintangan).[30] Bagaimana pun, dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa, seperti yang dijelaskan Robert Brown, “bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik, Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan, sehingga memiliki aspek negatif maupun positif.”.[31]

Buddhi

Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran. Dalam bahasa Sanskerta, katabuddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan, kebijaksanaan, atau akal.[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa, khususnya pada zaman Purana, ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhirGanesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. Kata priya bisa berarti “yang tercinta”, dan dalam konteks suami-istri bisa berarti “kekasih” atau “suami”,[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti “Yang dicintai oleh kecerdasan” atau “Suami Buddhi”.[34]

Om

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f6/Ganesha-aum.jpg/200px-Ganesha-aum.jpg
Ganesa dalam perhiasan berbentuk simbol Aum.
Ganesa diidentikkan dengan mantra Om dalam agama Hindu (Simbol: , juga dieja ‘Aum’). Istilah o(ng)kāraswarūpa (Om adalah wujudnya), ketika diidentikkan dengan Ganesa, merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama.[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini:
(O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma, Wisnu, dan Mahesa. Engkaulah Indra. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Engkaulah matahari (Surya) dan bulan (Candrama). Engkaulah Brahman. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi], Antariksa-loka [luar angkasa], dan Swargaloka [sorga]. Engkaulah Om. (Itu sebagai tanda, bahwa Engkaulah segala hal tersebut).[36]
Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Om dalam aksara Dewanagari dan Tamil.[37]

Cakra pertama

Menurut Kundalini yoga, Ganesa menempati cakra pertama, yang disebut muladhara.Mula berarti “asal, utama”; adhara berarti “dasar, pondasi”. Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokok-pokok kekuatan ilahi yang terpendam.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: “[O Ganesa,] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra].”[39] Maka dari itu, Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. Ganesa memegang, menopang dan memandu cakra-cakra lainnya, sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan.[38]

Mitologi

Kelahiran

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/59/Ganesha_Kangra_miniature_18th_century_Dubost_p51.jpg/200px-Ganesha_Kangra_miniature_18th_century_Dubost_p51.jpg
Parwati dan Siwa memandikan Ganesa. Sebuah lukisan dari Kangra, dibuat sekitar abad ke-18.
Meski Ganesa terkenal sebagai putra dari Siwa dan Parwati, mitos-mitos dalam Puranamemiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa, atau oleh Parwati, atau oleh Siwa dan Parwati, atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa, namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana.
Dalam kitab Siwapurana dikisahkan, suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik.
Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Ketika Parwati selesai mandi, ia mendapati putranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya.
Atas saran Brahma, Siwa mengutus abdinya, yaitu para gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan.

Keluarga dan istri

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c9/Ganapati1.jpg/200px-Ganapati1.jpg
Lukisan “Riddhi Siddhi” karya Raja Ravi Varma, menggambarkan Ganesa yang didampingi kedua istrinya, Riddhi dan Siddhi.
Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda, yang juga disebut Kartikeya, Murugan, dan lain-lain. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. Di India Utara, Skanda biasanya dianggap yang lebih tua, sementara di India Selatan, Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. Skanda merupakan dewa perang yang masyhur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M, ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. Seiring dengan memudarnya Skanda, Ganesa mulai berkembang. Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda).[40]
Status orangtua Ganesa, subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana, memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos. Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah.[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara. Dalam contoh lain, ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan), Siddhi (kekuatan spiritual), dan Riddhi(kemakmuran); tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi, yang konon menjadi para istri Ganesa. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi). Dalam contoh lain, ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian, yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra).[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran, Laksmi.[43] Contoh lainnya, terutama yang menonjol di wilayah Benggala, menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang, Kala Bo.[44]
Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putra: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Menurut kisah versi India Utara, putranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma, dewi kepuasan. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana.[45]

Pemujaan dan festival

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/aa/Ganesh_Paris_2004_DSC08471.JPG/240px-Ganesh_Paris_2004_DSC08471.JPG
Festival Ganesa yang dirayakan oleh umat Hindu di Paris, Perancis, pada tahun 2004.
Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari; khususnya saat mulai berniaga seperti membeli kendaraan atau memulai bisnis. K.N. Somayaji berkata, “jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. [..] Ganapati, sebagai dewa yang termasyhur di India, dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara”.[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang, ia akan memberi kesuksesan, kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana.
Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu, dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan, memulai usaha yang penting, dan upacara keagamaan. Penari dan musisi, khususnya di India Selatan, memulai pertunjukkan seni seperti tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa. Mantra-mantra seperti Om Shri Gaeshāya Namah (Om, hormat pada Hyang Ganesa yang masyhur-mulia) seringkali dipakai. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Ga Ganapataye Namah.
Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti modaka dan bola-bola kecil manis (laddu). Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan, yang disebut modakapātra. Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah, ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah. Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya.
Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) padaśuklapaka (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapaka(hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari).
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/65/Ganesh_Festival.jpg/240px-Ganesh_Festival.jpg
Patung besar Ganesa saat festival Ganesa Caturti di Mumbai, tahun 2004.

Ganesa Caturti

Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari, dimulai pada Ganesa Caturti, yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi, ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. Pada tahun 1893, Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka, dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai “dewa bagi semua orang”, Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris.[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun, dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh.[50] Di masa kini, umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala, meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka.

Kuil

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4d/GaneshaBirlaMandirJaipur.JPG/240px-GaneshaBirlaMandirJaipur.JPG
Arca Ganesa di Birla Mandir (Pura Birla) di Jaipur, India.
Dalam tempat suci Hindu, Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata); sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata); atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana), dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu.[51] Sebagai dewa keluar-masuk, dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau hal-hal buruk, yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. Dan juga, beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri, misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टविनायक;aṣṭavināyaka; “delapan (kuil) Ganesa”) di Maharashtra yang paling masyhur. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune, masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama Ganapati, lengkap dengan cerita dan legendanya; bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala, menandai wilayah suci Ganesa.
Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra; Ujjain di Madhya Pradesh; Jodhpur, Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan; Baidyanath di Bihar; Baroda, Dhokala, dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares, Uttar Pradesh. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli; di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu; Hampi, Kasargod, dan Idagunji di Karnataka; dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh.
T. A. Gopinatha berkata, “Setiap desa, meskipun desa kecil, memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng, di bawah pohon bodhi […], dalam sebuah relung […], di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]; figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah.”[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India, termasuk Asia Tenggara, Nepal, dan di beberapa negara barat.

Sejarah ketenaran

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/10/Ganesha.jpg/200px-Ganesha.jpg
Arca Ganesa yang cukup tua, dibuat pada abad ke-8, kini disimpan di Mueseum Cham, Vietnam.

Kemunculan pertama

Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal, yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra, yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta.[53] Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10.[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut:
[A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. Pelopornya tak jelas. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas, yang melampaui batas mahzab dan teritorial, sungguh menakjubkan. Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal usul Ganesa dari zaman Weda dan dalamPurana terdapat penjelasan yang membingungkan, namun merupakan mitologi yang cukup menarik. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi. …[54]

Pengaruh memungkinkan

Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India, namun berkesimpulan bahwa, “meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah, itu tidak bisa dianggap menggambarkan Ganapati-Winayaka. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini. Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya.”[55]
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/07/Ganesha_Nurpur_miniature_circa_1810_Dubost_p64.jpg/240px-Ganesha_Nurpur_miniature_circa_1810_Dubost_p64.jpg
Lukisan Ganesa berlengan empat yang dibuat pada abad ke-19. Berasal dari Nurpur, India.
Suatu teori mengenai asal usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka.[56] Dalam mitologi Hindu, para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan, namun mudah untuk ditenangkan. Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa, baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha.[9] Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini, yang berkomentar datar tentang Ganesa, “Dia bukan dewa dalamWeda. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka, roh jahat, dariManawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan”.[57] Penggambaran figur manusia berkepala gajah, yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa, muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke-2.[58]

Sastra Weda dan wiracarita

Gelar “Pemimpin kelompok” (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda, namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang. Istilah itu muncul dalamRegweda (Rw 2.23.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati, menurut para komentator.[59]Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati, sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang.[60] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalamRegweda, Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati.[61] Hal yang juga mirip, yaitu pernyataan kedua (Rw 10.112.9) merujuk pada Indra, yang diberi gelar ‘ganapati’, diterjemahkan menjadi “Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut).” Tetapi, Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa.[62]
Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam, yaitu Maitrayaniya Samhita(2.9.1) dan Taittiriya Aranyaka (10.1), menyatakan permohonan kepada dewa yang “bertaring satu” (Dantih), “bermuka gajah” (Hastimuka), dan “berbelalai bengkok” (Wakratunda). Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa, dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini.[63] Deskripsi tentang Dantin, yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung, tebu, dan gada, merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana, seperti yang dikatakan Heras, “tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini”.[64] Tapi, Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda.[65] Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan. Dhavalikar mengatakan, “referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir, maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)”.[66]
Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi, yaitu, tanpa berhenti. Sang resi setuju, namun sadar bahwa untuk melakukan jeda, ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut.[67] Richard L. Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8, dan Moriz Winternitz menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. 900, namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut.[68] Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa danAnusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan.[69] Sebuah referensi tentangWignakartrinam (“Pencipta rintangan”) dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan.[70]
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e4/Ganesha_ink.jpg/240px-Ganesha_ink.jpg
Lukisan Ganesa yang terdapat dalam kitab Bhagawatapurana, dibuat sekitar awal abad ke-19.

Zaman Purana

Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. Brown mengatakan, ketika kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi, penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detail ada dalam kitab yang muncul belakangan, sekitar th. 600–1300.[71] Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah, ada dalam Purana yang digubah dari th. 600 dan seterusnya. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal, seperti Bayupurana danBrahmandapurana, adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke-7sampai abad ke-10.[72]
Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9, ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya memopulerkan “pemujaan terhadap lima wujud” (pañcāyatana pūjā), sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa, Wisnu, Siwa, Dewi, dan Surya. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer.

Buku dan sastra

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/65/TibetianGanpati.jpg/240px-TibetianGanpati.jpg
Lukisan Ganesa yang sedang menari, berasal dari Tibet Tengah. Wujud ini juga dikenal sebagai “Maharakta”.
Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme, beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya, seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapuranadan Mudgalapurana.
Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana. Kedua-duanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuk-tumpuk. Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya. “Sepertinya, mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas”, dia berkata, “namun kemudian diberi sisipan.”[73]Lawrence W. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahanGaneshapurana antara tahun 1100 dan 1400, bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu.[74]
R.C. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana, yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400.[75] Tetapi, Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan berkesimpulan bahwa Mudgalapuranaadalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa, di antara bukti-bukti internal lainnya,Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empatPurana (Brahma, Brahmanda, Ganesha, dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa.[76] Sementara isinya sudah usang, kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18, sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu.[77] Kitab lain yang memuji Ganesa, yaitu Ganapati Atharwashirsa, ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17.[78]

Di luar India dan agama Hindu

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/56/Kabul_ganesh_khingle.jpg/180px-Kabul_ganesh_khingle.jpg
Arca Ganesa dari marmer. Dibuat pada abad ke-5. ditemukan di Gardez, Afganistan, sekarang di Dargah Pir Rattan Nath, Kabul.
Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya.[79]
Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya, yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran, pembentukan serikat dagang, dan bangkitnya sirkulasi keuangan. Selama masa ini, Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang.[80] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang.[81]
Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka, termasuk Ganesa, bersama mereka. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak, seringkali di samping kuil Siwa. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa, Bali, dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik.[82] Penyebaran budaya Hindu secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma, Kamboja, dan Thailand. Di Indochina, agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan, dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. Di Thailand, Kamboja dan di Vietnam, Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand, Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan, atau dewa keberhasilan.[83]
Sebelum kedatangan Islam, Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India, dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan, mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu.[84]
Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana, tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha, namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama.[85] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha, ia seringkali digambarkan sedang menari. Wujud ini, disebut Ntta Ganapati, dan termasyhur di wilayah India Utara, kemudian diadopsi di Nepal, lalu di Tibet.[86] Di Nepal, wujud Ganesa secara Hindu, dikenal sebagai Heramba, sangat terkenal; ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya.[87] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag.[88] Dalam versi Tibet, Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla, yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan, kadangkala dalam wujud sedang menari. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda. Di Cina Utara, ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa, disertai tulisan yang berangka tahun 531.[84] Di Jepang, pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806.[89]
Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa. Namun, Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina, muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera.[90] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan.[91] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9.[92] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati.[93] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat.[94]
§  https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/64/Prambanan-ganesha.jpg/200px-Prambanan-ganesha.jpg
Arca Ganesa di candi Prambanan, Indonesia.
§  https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2c/Ganesha_statue_at_Sanggar_Agung_Temple%2C_Surabaya-Indonesia.jpg/160px-Ganesha_statue_at_Sanggar_Agung_Temple%2C_Surabaya-Indonesia.jpg
Altar Ganesha dengan patung seukuran manusia yang juga digunakan oleh umat Hindu di Klenteng Sanggar Agung.
http://amhay73.files.wordpress.com/2010/07/ramayana.jpg

·         Ramayana Blog

https://amhay73.files.wordpress.com/2010/07/ramayana.jpg?w=300&h=200
§   
§   
.

Follow “mahabharata Blog”


Get #

Indra

Indrahttps://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/36/Indra_deva.jpg/275px-Indra_deva.jpg
Pemimpin para dewa, dewa perang, dewa cuaca, dewa petir
Dewanagari: इन्द्र atau इंद्र
Ejaan Sanskerta: Indra
Nama lain: Sakra; Wasawa; Swargapati
Golongan: Dewa
Kediaman: Amarawati di Swarga
Senjata: Bajra (tongkat petir)
Pasangan: Saci alias Indrani
Wahana: Gajah putih bernama Airawata
Dalam ajaran agama Hindu, Indra (Sanskerta: इन्द्र atau इंद्र, Indra) adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Menurut mitologi Hindu, Beliau adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.
Dewa Indra terkenal di kalangan umat Hindu dan sering disebut dalam susastra Hindu, seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa (wiracarita). Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan memimpin para dewa menghadapi kaum raksasa. Indra juga disebut dewa perang, karena Beliau dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya (Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang Resi Dadici. Kendaraan Beliau adalah seekor gajah putih yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Saci.
Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Ia menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.
Kadangkala peran dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam mitologi Yunani, dewa petir sekaligus raja para dewa. Dalam agama Buddha, beliau disamakan dengan Sakra.
Nama lain
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/47/Indra-kl.jpg/220px-Indra-kl.jpgBatara Indra dalam pewayangan
Dewa Indra memiliki nama lain sesuai dengan karakter dan berbagai pengalamannya. Nama lain tersebut juga mengandung suatu pujian. Nama lain Dewa Indra yakni:
Sakra (yang berkuasa)
Swargapati (raja surga)
Diwapati (raja para Dewa)
Meghawahana (yang mengendarai awan)
Wasawa (pemimpin para Wasu)
Dalam Weda
Indra adalah dewa pemimpin dalam Regweda (disamping Agni). Ia senang meminum Soma, dan mitos yang penting dalam Weda adalah kisah kepahlawanannya dalam menaklukkan Wretra, membebaskan sungai-sungai, dan menghancurkan Bala, sebuah pagar batu dimana Panis memenjarakan sapi-sapi dan Usas (dewa fajar). Ia adalah dewa perang, yang telah menghancurkan benteng milik Dasyu, dan dipuja oleh kedua belah pihak dalam Pertempuran Sepuluh Raja.
Regweda sering menyebutnya Śakra: yang perkasa. Saat zaman Weda, para dewa dianggap berjumlah 33 dan Indra adalah pemimpinnya (secara ringkas Brihadaranyaka Upanishad menjabarkan bahwa para dewa terdiri dari delapan Wasu, sebelas Rudra, dua belas Aditya, Indra, dan Prajapati). Sebagai pemimpin para Wasu, Indra juga dijuluki Wasawa.
Pada zaman Wedanta, Indra menjadi patokan untuk segala hal yang bersifat penguasa sehingga seorang raja bisa disebut “Manawèndra” (Manawa Indra, pemimpin manusia) dan Rama, tokoh utama wiracarita Ramayana, disebut “Raghawèndra” (Raghawa Indra, Indra dari klan Raghu). Dengan demikian Indra yang asli juga disebut Déwèndra (Dewa Indra, pemimpin para dewa).
Di luar agama Hindu
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/d/d8/Indra_bronze.jpg/220px-Indra_bronze.jpgPatung Indra.
Dalam sastra Buddhisme dan Jainisme, Indra biasanya disebut Śakra, pemimpin surga Trāyastriśa.
Dalam Jainisme, Indra juga dikenal sebagai “Saudharmendra”, dan senantiasa melayani Tirthankar. Indra biasanya sering muncul dalam cerita yang berhubungan dengan Mahavira, dimana Indra sendiri memuliakan lima peristiwa penting dalam kehidupan Tirthankar, seperti Chavan kalyanak, Janma kalyanak, Diskha kalyanak, Kevalgyan kalyanak, dan Nirvan kalyanak.
Di Cina, Korea, dan Jepang, namanya ditulis 帝釈天, (bahasa Jepang: “Tai-shaku-ten”). Di Jepang, Indra selalu tampak berhadapan dengan Brahma (梵天, bahasa Jepang: “Bonten”) dalam kesenian Buddha. Mereka dihormati sebagai para pelindung Buddha (釈迦, bahasa Jepang: “Shaka”). Meskipun Indra sering ditampilkan seperti seorang bodhisattva di wilayah Asia Timur, khususnya dalam kostum dinasti Tang, penggambarannya juga memasukkan aspek keperkasaan, seperti misalnya memegang petir di atas gajah tunggangannya.
Catatan Wayang Batara Indra
Tempat : Kayangan Jonggirisaloka
Kesaktian :
Batara Indra mempunyai kekuasaan memerintah para Dewa atas perintah Hyang Guru. Batara Indra mempunyai keahlian berperang dan banyak mempunyai panah sakti.
Anak :
Dewi Tara
Dewi Tari
Dewi Gagar Mayang
Batari Suprada dan masih banyak lagi yang berwujud bidadari.
Ayah : Batara Guru
Ibu : Batari Uma
Keterangan :
Batara Indra mempunyai kekuasaan atas para dewa dan para bidadari di sorga. Selain itu sering memberikan anugrah atau hadiah pada siapa saja yang gemar bertapa dan membantu ketentraman dunia serta permintaan titah yang sedang bertapa.
Sebagai contoh: Raden Arjuna mendapatkan panah Pasopati sebagai panah sakti akibat dari dia bertapa dan membantu atas ketentraman di kayangan, sehingga panah tersebut berguna di dalam perang besar Baratayuda.

Indra

Indrahttps://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/36/Indra_deva.jpg/275px-Indra_deva.jpg
Pemimpin para dewa, dewa perang, dewa cuaca, dewa petir
Dewanagari: इन्द्र atau इंद्र
Ejaan Sanskerta: Indra
Nama lain: Sakra; Wasawa; Swargapati
Golongan: Dewa
Kediaman: Amarawati di Swarga
Senjata: Bajra (tongkat petir)
Pasangan: Saci alias Indrani
Wahana: Gajah putih bernama Airawata
Dalam ajaran agama Hindu, Indra (Sanskerta: इन्द्र atau इंद्र, Indra) adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Menurut mitologi Hindu, Beliau adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.
Dewa Indra terkenal di kalangan umat Hindu dan sering disebut dalam susastra Hindu, seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa (wiracarita). Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan memimpin para dewa menghadapi kaum raksasa. Indra juga disebut dewa perang, karena Beliau dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya (Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang Resi Dadici. Kendaraan Beliau adalah seekor gajah putih yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Saci.
Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Ia menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.
Kadangkala peran dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam mitologi Yunani, dewa petir sekaligus raja para dewa. Dalam agama Buddha, beliau disamakan dengan Sakra.
Nama lain
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/47/Indra-kl.jpg/220px-Indra-kl.jpgBatara Indra dalam pewayangan
Dewa Indra memiliki nama lain sesuai dengan karakter dan berbagai pengalamannya. Nama lain tersebut juga mengandung suatu pujian. Nama lain Dewa Indra yakni:
Sakra (yang berkuasa)
Swargapati (raja surga)
Diwapati (raja para Dewa)
Meghawahana (yang mengendarai awan)
Wasawa (pemimpin para Wasu)
Dalam Weda
Indra adalah dewa pemimpin dalam Regweda (disamping Agni). Ia senang meminum Soma, dan mitos yang penting dalam Weda adalah kisah kepahlawanannya dalam menaklukkan Wretra, membebaskan sungai-sungai, dan menghancurkan Bala, sebuah pagar batu dimana Panis memenjarakan sapi-sapi dan Usas (dewa fajar). Ia adalah dewa perang, yang telah menghancurkan benteng milik Dasyu, dan dipuja oleh kedua belah pihak dalam Pertempuran Sepuluh Raja.
Regweda sering menyebutnya Śakra: yang perkasa. Saat zaman Weda, para dewa dianggap berjumlah 33 dan Indra adalah pemimpinnya (secara ringkas Brihadaranyaka Upanishad menjabarkan bahwa para dewa terdiri dari delapan Wasu, sebelas Rudra, dua belas Aditya, Indra, dan Prajapati). Sebagai pemimpin para Wasu, Indra juga dijuluki Wasawa.
Pada zaman Wedanta, Indra menjadi patokan untuk segala hal yang bersifat penguasa sehingga seorang raja bisa disebut “Manawèndra” (Manawa Indra, pemimpin manusia) dan Rama, tokoh utama wiracarita Ramayana, disebut “Raghawèndra” (Raghawa Indra, Indra dari klan Raghu). Dengan demikian Indra yang asli juga disebut Déwèndra (Dewa Indra, pemimpin para dewa).
Di luar agama Hindu
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/d/d8/Indra_bronze.jpg/220px-Indra_bronze.jpgPatung Indra.
Dalam sastra Buddhisme dan Jainisme, Indra biasanya disebut Śakra, pemimpin surga Trāyastriśa.
Dalam Jainisme, Indra juga dikenal sebagai “Saudharmendra”, dan senantiasa melayani Tirthankar. Indra biasanya sering muncul dalam cerita yang berhubungan dengan Mahavira, dimana Indra sendiri memuliakan lima peristiwa penting dalam kehidupan Tirthankar, seperti Chavan kalyanak, Janma kalyanak, Diskha kalyanak, Kevalgyan kalyanak, dan Nirvan kalyanak.
Di Cina, Korea, dan Jepang, namanya ditulis 帝釈天, (bahasa Jepang: “Tai-shaku-ten”). Di Jepang, Indra selalu tampak berhadapan dengan Brahma (梵天, bahasa Jepang: “Bonten”) dalam kesenian Buddha. Mereka dihormati sebagai para pelindung Buddha (釈迦, bahasa Jepang: “Shaka”). Meskipun Indra sering ditampilkan seperti seorang bodhisattva di wilayah Asia Timur, khususnya dalam kostum dinasti Tang, penggambarannya juga memasukkan aspek keperkasaan, seperti misalnya memegang petir di atas gajah tunggangannya.
Catatan Wayang Batara Indra
Tempat : Kayangan Jonggirisaloka
Kesaktian :
Batara Indra mempunyai kekuasaan memerintah para Dewa atas perintah Hyang Guru. Batara Indra mempunyai keahlian berperang dan banyak mempunyai panah sakti.
Anak :
Dewi Tara
Dewi Tari
Dewi Gagar Mayang
Batari Suprada dan masih banyak lagi yang berwujud bidadari.
Ayah : Batara Guru
Ibu : Batari Uma
Keterangan :
Batara Indra mempunyai kekuasaan atas para dewa dan para bidadari di sorga. Selain itu sering memberikan anugrah atau hadiah pada siapa saja yang gemar bertapa dan membantu ketentraman dunia serta permintaan titah yang sedang bertapa.
Sebagai contoh: Raden Arjuna mendapatkan panah Pasopati sebagai panah sakti akibat dari dia bertapa dan membantu atas ketentraman di kayangan, sehingga panah tersebut berguna di dalam perang besar Baratayuda.

Saraswati

Saraswati
Dewi pengetahuan, kesenian, kebijaksanaan, dan inspirasi
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/3/3d/Saraswati.JPG/275px-Saraswati.JPG
Dewanagari:
सरस्वती
Ejaan Sanskerta: Sarasvatī
Golongan: Dewi
Pasangan: Brahma

Wahana: Angsa
Saraswati (Sanskerta: सरस्वती ;Sarasvatī) adalah salah satu dari tiga dewi utama dalam agama Hindu, dua yang lainnya adalah Dewi Sri (Laksmi) dan Dewi Uma (Durga). Saraswati adalah sakti (istri) dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta. Saraswati berasal dari akar kata sr yang berarti mengalir. Dalam Regweda V.75.3, Saraswati juga disebut sebagai Dewi Sungai, disamping Gangga, Yamuna, Susoma dan yang lainnya.
Dalam agama Hindu
Saraswati adalah dewi yang dipuja dalam agama weda. Nama Saraswati tercantum dalam Regweda dan juga dalam sastra Purana (kumpulan ajaran dan mitologi Hindu). Ia adalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Saraswati juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan.
Dalam aliran Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan — sakti — dari Brahman. Sebagaimana pada zaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai ilmu pengetahuan dan seni. Para penganut ajaran Wedanta meyakini, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.
Penggambaran
Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia tampak berpakaian dengan dominasi warna putih, terkesan sopan, menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Saraswati dapat digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci darinya, yang mana semua itu merupakan simbol dari kebenaran sejati. Selain itu, dalam penggambaran sering juga terlukis burung merak.
Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:
Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati.
Ganitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
Damaru (kendang kecil).
Angsa merupakan simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Wiweka (daya nalar) dan Wairagya yang sempurna, memiliki kemampuan memilah susu di antara lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk. Angsa berenang di air tanpa membasahi bulu-bulunya, yang memiliki makna filosofi, bahwa seseorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian.
Selain angsa, juga sering terdapat merak dalam penggambaran Dewi Saraswati, yang mana adalah simbol dari kesombongan, kebanggaan semu, sebab merak sesekali waktu mengembangkan bulu-bulunya yang indah namun bukan keindahan yang abadi.
Hari Raya
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hari Raya Saraswati
Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni, dirayakan oleh umat Hindu di Bali]], yang jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Umanis (Legi), wuku Watugunung. Perayaan ini dilaksanakan setiap 210 hari (atau 7 bulan menurut kalender Bali), sebagai penghormatan kepada dewi ilmu pengetahuan dan seni.
Hari Saraswati yang jatuh pada hari Sabtu (Saniscara) Umanis wuku Watugunung, dirayakan sebagai hari pawedalan Hyang Aji Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan suci. Perayaan ini dilaksanakan sebagai ungkapan puji syukur dan puja kepadanya-Nya atas diturunkannya ilmu pengetahuan suci bagi umat manusia; disamping memohon kelanggengan ilmu pengetahuan dan dapat berjaya di bidang Iptek. Pada malam harinya, dilaksanakan “sambang samadhi” dan pembacaan lontar, pustaka, kitab-kitab suci dengan harapan dapat menemukan Saraswati di dalam diri.
Dewi Saraswati adalah Shakti dari Dewa Brahma, patheon Hindu sebagai personifikasi Hyang Widdhi dalam penciptaan. Didalam Weda, Dewi Saraswati disebut sebagai Dewi Kebijaksanaan dan Dewi Sungai. Dalam Purana dan Itihasa-lah Dewi Saraswati disebut-sebut sebagai Shakti dari Brahma.
Kata Saraswati berasal dari urat kata Sanskerta ‘sr’, yang berarti mengalir. Dalam Rg Weda V.75.3. beliau disebut sebagai Dewi Sungai, disamping Gangga, Yamuna, Susoma dan lain lain. Dalam pengarcaan (ikonografi), beliau digambarkan sebagai seorang Dewi cantik berkulit putih bersih, dengan prilaku yang lemah lembut. Busana putih gemerlapan dikenakan-Nya, bersinggasanakan padma (teratai). Beliau juga digambarkan bertangan 4, yang masing-masing memegang Wina (kecapi), Aksamala (tasbih), Damaru (kendang kecil), dan Pustaka suci.
Angsa (Hamsa) dan Merak seringkali menjadi wahana dan atribut simbolis dalam pengarcaan. Ia merupakan motif yang amat populer dalam tradisi simbolis Hindu. Ia dapat dilihat sebagai ragam hias, penghias lampu-lampu minyak yang digunakan di pura-pura, mandir-mandir dan di rumah-rumah penduduk India. Angsa, juga mempunyai keterkaitan yang khusus dengan filsafat Advaita, yang dicetuskan oleh Sri Sankaracarya. Para Guru Agung dalam tradisi Advaita juga disebut dengan Paramahamsa, para Angsa nan Agung.
Seperti juga angsa-angsa yang berenang seharian di telaga tanpa membasahi bulu-bulunya, demikian pula para Advaita-Vaidantin, diharapkan hidup biasa-biasa saja di dunia ini, namun tak terombang-ambing oleh pasang-surut duniawi. Ia juga melambangkan penguasaan Viveka yang baik serta Vairagya yang sempurna, angsa dapat memilih dan memilah serta menyarikan susu dari lumpur. Ini adalah substansi yang amat esensial bagi seorang Advaitin, oleh karenanya pula ia melambangkan ‘Jivanmukti’, beliau yang telah mencapai ‘Kebabasan Mutlak’ sementara masih dalam jasad manusia. Demikianlah Angsa, meyimbulkan kebijaksanaan dan pengetahuan suci, sedang merak melambangkan keindahan dan keangunan dari pengetahuan itu sendiri.
Sarasvati juga disebut dengan ‘Sarada’ (yang menganugrahkan sari kehidupan), ‘Wagisari’ (dewi kebijaksanaan dan wacana), ‘Bharati’ (kebudayaan luhur atau pelaksana tapa-brata yang sempurna) disamping ‘Brahmi’ (Shakti Brahma) dan Savitri serta sebutan lainnya.
Sebagai Dewi Wagisari, pada suatu ketika, beliau ditugaskan untuk mengalihkan permohonan Kumbhakarna – raksasa pertapa adik Rahwana – oleh sidang para dewa. Permohonan Kumbhakarna terlampau berat dan berlebihan bila dipenuhi, bagi ‘soroh’ Raksasa; pemenuhan itu dinyana dapat merusak konstelasi dan kedamaian semesta. Oleh karenanyalah Dewi Wagisari ditugaskan untuk mengalihkan permohonannya, melalui menempati lidah Kumbhakarna, ketika permohonannya disampaikan.
Menyimpang dari maksudnya semula, ketika saatnya ia menyampaikan permohonan kepada Brahma atas tapanya yang teguh, ia memohon: “Anugrahi hamba agar dapat tidur terus menerus selama bertahun-tahun”. Demikian dikisahkan dalam Ramayana, terkait dengan keberadaan Saraswati sebagai Dewi Kebijaksanaan dan juga Dewi Wacana.
Tanpa pengendalian yang baik atas tutur-kata kita, oleh Kebijaksanaan dan Kemurnian Nurani, apa yang kita ucapkan dapat berubah dari maksud semula. Tak jarang salah dalam bertutur kata dapat berbuah dendam, permusuhan bahkan malapetaka bagi kita. Sebaliknya, Savitri (juga nama lain dari Saraswati), titisan Saraswati sebagai seorang putri raja yang suaminya dalam keadaan sekarat menjelang ajal, berhasil meluluhkan hati Dewa Yama melalui wacana-wacana berpengetahuannya. Yama-pun tak punya pilihan lain kecuali mengabulkan segala permohonan Savitri.
Akhirnya, Setiavan – sang suami yang putra raja – itupun hidup kembali; mewarisi singgasana sebagai penerus dinasti orang tuanya lengkap dengan 100 orang putra, mertua Savitri memperoleh kembali kerajaannya yang hilang dan sembuh dari kebutaan yang dideritanya, dan orang tua Savitri-pun dianugrahi 100 orang putra guna meneruskan dinastinya. Itu dituturkan dengan cantiknya dalam Pativrata-Mahakamya Parva, salah-satu subparva dalam Vana Parva.
Banyu Pinaruh, Sublimasi Pengetahuan Suci.
Saraswati juga dimaknai dengan mengupayakan secara mandiri (swa) kesucian hati, melalui “Sambang-Samadhi” serta mempelajari (membaca dan melagukan) dan merenungkan ajaran-ajaran dalam pustaka-pustaka suci semalam suntuk.
‘Sambang Samadhi’, diduga merupakan pergeseran pelafalan dari ‘Samma/Samya Samadhi’, yang berarti ‘melaksanakan tapa-brata-yoga-semadi dengan baik dan benar’. Membaca pustaka suci semalam suntuk, lebih menyimbolkan mengamati (membaca) dengan cermat gerak hati sendiri (swa-hati), guna pensuciaannya serta penyelarasan antara pikiran dan ucapan. Upaya pensucian ini, lebih dipastikan dengan datangnya “Banyu Pinaruh” pada ke-esokan harinya.
Saraswati dan Banyu Pinaruh ibarat paket yang tak terpisahkan. Banyu, air, toya, tirta merupakan air suci yang merupakan intisari ‘pinaruh’, ‘pinaweruh’ atau pengetahuan batiniah. Dengan melaksanakan pensucian batin semalam suntuk melalu Samya Samadhi, serta disucikan dengan intisari pengetahuan suci (banyu pinaweruh), diharapkan tumbuh dan berkembangnya kebijaksanaan kita.
Jadi, dari rangkaian hari-hari Saraswati dan Banyupinaruh, diharapkan suatu pemaknaan serta disikapi dengan ‘melaksanakan tapa-brata-yoga-semadi dengan baik dan benar, guna mensucikan dan menselaraskan pikiran, ucapan dan perbuatan. Sadhana inilah yang memungkinkan saripati pengetahuan (Jñana) tersublimasi menjadi Kebijaksanaan
R A M A Y A N A
http://www.karatonsurakarta.com/ramayasatu.jpg
Ramayana sebenarnya diambil dari ceritera yang benar-benar terjadi di daratan India. Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka. Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa. Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah). Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan diragukan.
 Maka setelah Sinta dibebaskan, ia lantas pati obong, yang artinya keadaan negeri India mulai dibenahi, dengan merubah peraturan dan melenyapkan kebudayaan si bekas penjajah yang sempat berkembang di India. sebenarnya diambil dari ceritera yang benar-benar terjadi di daratan India. Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka. Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa. Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah). Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan diragukan. Maka setelah Sinta dibebaskan, ia lantas pati obong, yang artinya keadaan negeri India mulai dibenahi, dengan merubah peraturan dan melenyapkan kebudayaan si bekas penjajah yang sempat berkembang di India.
Dalam khazanah kesastraan Ramayana Jawa Kuno, dalam versi kakawin (bersumber dari karya sastra India abad VI dan VII yang berjudul Ravanavadha/kematian Rahwana yang disusun oleh pujangga Bhatti dan karya sastranya ini sering disebut Bhattikavya) dan versi prosa (mungkin bersumber dari Epos Walmiki kitab terakhir yaitu Uttarakanda dari India), secara singkat kisah Ramayana diawali dengan adanya seseorang bernama Rama, yaitu putra mahkota Prabu Dasarata di Kosala dengan ibukotanya Ayodya. Tiga saudara tirinya bernama BarataLaksmana dan Satrukna. Rama lahir dari isteri pertama Dasarata bernama Kausala, Barata dari isteri keduanya bernama Kaikeyi serta Laksmana dan Satrukna dari isterinya ketiga bernama Sumitra. Mereka hidup rukun.
Sejak remaja, Rama dan Laksmana berguru kepada Wismamitra sehingga menjadi pemuda tangguh. Rama kemudian mengikuti sayembara di Matila ibukota negara Wideha. Berkat keberhasilannya menarik busur pusaka milik Prabu Janaka, ia dihadiahi putri sulungnya bernama Sinta, sedangkan Laksmana dinikahkan dengan Urmila, adik Sinta.
Setelah Dasarata tua, Rama yang direncanakan untuk menggantikannya menjadi raja, gagal setelah Kaikeyi mengingatkan janji Dasarata bahwa yang berhak atas tahta adalah Barata dan Rama harus dibuang selama 15 (lima belas) tahun. Atas dasar janji itulah dengan lapang dada Rama pergi mengembara ke hutan Dandaka, meskipun dihalangi ibunya maupun Barata sendiri. Kepergiannya itu diikuti oleh Sinta dan Laksmana.
Namun kepergian Rama membuat Dasarata sedih dan akhirnya meninggal. Untuk mengisi kekosongan singgasana, para petinggi kerajaan sepakat mengangkat Barata sebagai raja. Tapi ia menolak, karena menganggap bahwa tahta itu milik Rama, sang kakak. Untuk itu Barata disertai parajurit dan punggawanya, menjemput Rama di hutan. Saat ketemu kakaknya, Barata sambil menangis menuturkan perihal kematian Dasarata dan menyesalkan kehendak ibunya, untuk itu ia dan para punggawanya meminta agar Rama kembali ke Ayodya dan naik tahta. Tetapi Rama menolak serta tetap melaksanakan titah ayahandanya dan tidak menyalahkan sang ibu tiri, Kaikeyi, sekaligus membujuk Barata agar bersedia naik tahta. Setelah menerima sepatu dari Rama, Barata kembali ke kerajaan dan berjanji akan menjalankan pemerintahan sebagai wakil kakaknya
Banyak cobaan yang dihadapi Rama dan Laksmana, dalam pengembaraannya di hutan. Mereka harus menghadapi para raksasa yang meresahkan masyarakat disekitar hutan Kandaka itu. Musuh yang menjengkelkan adalah Surpanaka, raksesi yang menginginkan Rama dan Laksmana menjadi suaminya. Akibatnya, hidung dan telinga Surpanaka dibabat hingga putus oleh Laksmana. Dengan menahan sakit dan malu, Surpanaka mengadu kepada kakaknya, yaitu Rahwana yang menjadi raja raksasa di Alengka, sambil membujuk agar Rahwana merebut Sinta dari tangan Rama.
Dengan bantuan Marica yang mengubah diri menjadi kijang keemasan, Sinta berhasil diculik Rahwana dan dibawa ke Alengka.
http://www.karatonsurakarta.com/ramayadua.gif
Burung Jatayu yang berusaha menghalangi, tewas oleh senjata Rahwana. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Jatayu masih sempat mengabarkan nasib Sinta kepada Rama dan Laksmana yang sedang mencarinya.Dalam mencari Sinta, Rama dan Laksamana berjumpa pembesar kera yang bernama Sugriwa dan Hanuman. Mereka mengikat persahabatan dalam suka dan duka. Dengan bantuan Rama, Sugriwa dapat bertahta kembali di Kiskenda setelah berhasil mengalahkan Subali yang lalim. Setelah itu, Hanuman diperintahkan untuk membantu Rama mencari Sinta. Dengan pasukan kera yang dipimpin Anggada, anak Subali, mereka pergi mencari Sinta.

Atas petunjuk Sempati, kakak Jatayu, mereka menuju ke pantai selatan. Untuk mencapai Alengka, Hanuman meloncat dari puncak gunung Mahendra. Setibanya di ibukota Alengka, Hanuman berhasil menemui Sinta dan mengabarkan bahwa Rama akan segera membebaskannya. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman melapor kepada Rama. Strategi penyerbuan pun segera disusun. Atas saran Wibisana, adik Rahwana yang membelot ke pasukan Rama, dibuatlah jembatan menuju Alengka. Setelah jembatan jadi, berhamburanlah pasukan kera menyerbu Alengka. Akhirnya, Rahwana dan pasukannya hancur. Wibisana kemudian dinobatkan menjadi raja Alengka, menggantikan kakaknya yang mati dalam peperangan. Yang menarik dan sampai saat ini sangat populer di Jawa, adalah adanya ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah kerajaan atau negara dari Rama kepada Wibisana, yang dikenal dengan sebutan ASTHABRATA.
Setelah berhasil membebaskan Sinta, pergilah Rama dan Sinta serta Laksmana dan seluruh pasukan (termasuk pasukan kera) ke Ayodya. Setibanya di ibukota negera Kosala itu, mereka disambut dengan meriah oleh Barata, Satrukna, para ibu Suri, para punggawa dan para prajurit, serta seluruh rakyat Kosala. Dengan disaksikan oleh mereka, Rama kemudian dinobatkan menjadi raja.
Pada akhir ceritera, ada perbedaan mencolok antara dua versi Ramayana Jawa Kuno. Untuk versi kakawin dikisahkan, bahwa Sinta amat menderita karena tidak segera diterima oleh Rama karena dianggap ternoda. Setelah berhasil membersihkan diri dari kobaran api, Sinta diterimanya. Dijelaskan oleh Rama, bahwa penyucian itu harus dilakukan untuk menghilangkan prasangka buruk atas diri isterinya. Mereka bahagia.
Sedangkan di dalam versi prosa, menceritakan bagaimana Rama terpengaruh oleh rakyatnya yang menyangsikan kesucian Sinta. Disini Sinta yang sedang mengandung di usir oleh Rama dari istana. Kelak Sinta melahirkan 2 (dua) anak kembar yaitu Kusha dan Lawa. Kemudian kisah ini diahiri dengan ditelannya Sinta oleh Bumi.
Kisah Ramayana mempunyai banyak versi dengan berbagai penyimpangan isi cerita, termasuk di India sendiri. Penyebarannya hampir di seperempat penduduk dunia atau minimal di Asia Tenggara. Sedangkan di Indonesia, diketahui sekitar 7 - 8 abad yang lalu, walau sesungguhnya di Indonesia dapat ditemukan jauh lebih dini yaitu sebelum abad 2 Sebelum Masehi.
Ramayana dari asal kata Rama yang berarti menyenangkan; menarik; anggun; cantik; bahagia, dan Yana berarti pengembaraan. Cerita inti Ramayana diperkirakan ditulis oleh Walmiki dari India disekitar tahun 400 SM yang kisahnya dimulai antara 500 SM sampai tahun 200, dan dikembangkan oleh berbagai penulis. Kisah Ramayana ini menjadi kitab suci bagi agama Wishnu, yang tokoh-tokohnya menjadi teladan dalam hidup, kebenaran, keadilan, kepahlawanan, persahabatan dan percintaan, yaitu: Rama, Sita, Leksmana, Sugriwa, Hanuman, Wibisana. Namun disini, kami informasikan tentang Ramayana versi Jawa.
Di zaman Mataram Kuno saat Prabu Dyah Balitung (Dinasti Sanjaya) bertahta, telah ada kitab sastra Ramayana berbahasa Jawa Kuno (Jawa Kawi), tidak menginduk pada Ramayana Walmiki, lebih singkat, memuat banyak ajaran dan katanya berbahasa indah. Di awal abad X sang raja membuat candi untuk pemujaan dewa Shiwa, yaitu Candi Prambanan (candi belum selesai sampai wafatnya raja yang, maka dilanjutkan oleh penggantinya yaitu Prabu Daksa) yang sekaligus menjadi tempat ia dikubur, dengan relief Ramayana namun berbeda dengan isi cerita Ramayana dimaksud.
Ramayana Jawa Kuno memiliki 2 (dua) versi, yaitu Kakawin dan Prosa, yang bersumber dari naskah India yang berbeda, yang perbedaan itu terlihat dari akhir cerita. Selain kedua versi itu, terdapat yang lain yaitu Hikayat Sri Rama, Rama Keling dan lakon-lakon.
Cerita Ramayana semakin diterima di Jawa, setelah melalui pertunjukan wayang (wayang orang, wayang kulit purwa termasuk sendratari). Tapi ia kalah menarik dengan wayang yang mengambil cerita Mahabharata, karena tampilan ceritanya sama sekali tidak mewakili perasaan kaum awam (hanya pantas untuk kaum Brahmana dan Satria) walau jika dikaji lebih mendalam, cerita Ramayana sebenarnya merupakan simbol perjuangan rakyat merebut kemerdekaan negerinya.
Bahwa cerita Ramayana tidak bisa merebut hati kaum awam Jawa seperti Mahabharata, antara lain disebabkan:
  • Ceritanya dipenuhi oleh lambang-lambang dan nasehat-nasehat kehidupan para bangsawan dan penguasa negeri, yang perilaku dan tindakannya tidak membaur di hati kaum awam;
  • Ramayana adalah raja dengan rakyat bangsa kera yang musuhnya bangsa raksasa dengan rakyat para buta breduwak dan siluman;
  • Kaum awam memiliki jalan pikiran yang relatif sangat sederhana, dan berharap pada setiap cerita berakhir pada kebahagiaan.
Yang menarik sampai saat ini di Indonesia (Jawa) adalah adanya suatu ajaran falsafah yang terdapat di Ramayana, yaitu ajaran Rama terhadap adik musuhnya bernama Gunawan Wibisana yang menggantikan kakaknya, Rahwana, setelah perang di Alengka. Ajaran itu dikenal dengan nama Asthabrata, (astha yang berarti delapan dan brata yang berarti ajaran atau laku). yang merupakan ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah negara atau kerajaan. Ajaran dimaksud yang juga dapat dilihat dalam Diaroma gambar wayang di Museum Purnabakti TMII (1994 M), yaitu :
1.     Bumi : artinya sikap pemimpin bangsa harus meniru watak bumi atau momot-mengku bagi orang jawa, dimana bumi adalah wadah untuk apa saja, baik atau buruk, yang diolahnya sehingga berguna bagi kehidupan manusia;
2.     Air : artinya jujur, bersih dan berwibawa, obat haus air maupun haus ilmu pengetahuan dan haus kesejahteraan;
3.     Api : artinya seorang pemimpin haruslah pemberi semangat terhadap rakyatnya, pemberi kekuatan serta penghukum yang adil dan tegas;
4.     Angin : artinya menghidupi dan menciptakan rasa sejuk bagi rakyatnya, selalu memperhatikan celah-celah di tempat serumit apapun, bisa sangat lembut serta bersahaja dan luwes, tapi juga bisa keras melebihi batas, selalu meladeni alam;
5.     Surya : artinya pemberi panas, penerangan dan energie, sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa surya/matahari, mengatur waktu secara disiplin;
6.     Rembulan : artinya bulan adalah pemberi kedamaian dan kebahagiaan, penuh kasih sayang dan berwibawa, tapi juga mencekam dan seram, tidak mengancam tapi disegani.
7.     Lintang : artinya pemberi harapan-harapan baik kepada rakyatnya setinggi bintang dilangit, tapi rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri, disamping harus mengakui kelebihan-kelebihan orang lain;
8.     Mendung : artinya pemberi perlindungan dan payung, berpandangan tidak sempit, banyak pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan, tidak mudak menerima laporan asal membuat senang, suka memberi hadiah bagi yang berprestasi dan menghukum dengan adil bagi pelanggar hukum.
Prof. Dr. Porbatjaraka, seorang ahli sejarah dan kebudayaan Jawa, setelah membaca kitab Ramayana Jawa Kuna Kakawin, memberi komentar : "Ini merupakan peninggalan leluhur Jawa, yang sungguh adiluhung, cukup untuk bekal hidup kebatinan". Dalam cakupan luas, pengaruh Ramayana terhadap filsafat hidup Jawa dapat diketahui dari Sastra Jendra, Sastra Cetha dan Asthabrata.
Sari dari Sastra Jendra adalah ilmu/ajaran tertinggi tentang keselamatan, mengandung isi dan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun karena ilmu ini bersifat sangat rahasia (tidak disebarluaskan secara terbuka karena penuh penghayatan bathin yang terkadang sulit diterima umum secara rasional), maka tidak mungkin disebar-luaskan secara terbuka. Sebelum seseorang menyerap ilmu ini ia harus mengerti terlebih dahulu tentang mikro dan makro kosmos, sehingga yang selama ini dipaparkan termasuk melalui wayang, hanyalah kulitnya saja. Sastra Cetha (terang) adalah berisi ajaran tentang peran, sifat dan perilaku raja. Sedangkan Asthabrata telah diuraikan tersebut diatas.
Kisah Ramayana muncul dalam banyak versi, yaitu antara lain di Vietnam, Kamboja, Laos, Burma, Thailand, Cina, Indonesia maupun di India (tempat asal cerita) sendiri. Menurut Dr.Soewito S. Wiryonagoro, di Indonesia sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) versi, yaitu Ramayana Kakawin, yang terlukis dalam relief-relief di dinding candi seperti candi Lorojonggrang Prambanan dan Candi Penataran, dan yang berkembang di masyarakat dalam wujud cerita drama.(wayang kulit, sandiwara dan film).
Ramayana dari asal kata Rama = menyenangkan/menarik/anggun/cantik/bahagia dan Yana berarti pengembaraan., yang kisah tersebut ditulis Walmiki dari India sekitar tahun 400 Sebelum Masehi, berbahasa Sanskerta, yang selanjutnya dikembangkan oleh penulis-penulis lain, sehingga minimal juga ada 3 (tiga) kisah Ramayana versi India.
Di jaman Mataram kuna, saat Prabu Balitung (dinasti Sanjaya) memerintah, telah ada kitab sastra Ramayana dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi), yang tidak menginduk pada Ramayana Walmiki.